Perbedaan Foraminifera Planktonik dan Bentonik : Cara Hidup, Bentuk & Komposisi Dinding Test, Jumlah & Susunan Kamar, Biofasies


Foraminifera planktonik mempunyai beberapa perbedaan dari foraminifera bentonik yang berhubungan dengan kenampakan fisiknya sehingga hal tersebut dapat kita gunakan sebagai identifikasi suatu fosil apakah fosil tersebut termasuk salah satu golongan foraminifera planktonik atau foraminifera bentonik. Perbedaan tersebut antara lain terletak pada komposis dinding test, bentuk dasar test, dan jumlah atau susunan kamar, serta biofasies yang akan dijelaskan satu-persatu sebagai berikut ini.
Perbedaan Foraminifera Planktonik dan Bentonik : Cara Hidup, Bentuk & Komposisi Dinding Test, Jumlah & Susunan Kamar, Biofasies
Foraminifera Planktonik dan Bentonik (Pinterest)
Foraminifera Planktonik
  1. Kelompok foraminifera planktonik sepanjang hidupnya mengambang, baik dipermukaan air laut maupun pada tubuh air laut dibawah permukaan.
  2. Bentuk dinding test foraminifera planktonik  mempunyai variasi bentuk dasar test yang terbatas, yaitu dari bebentuk globuler, subglobuler hingga bentuk lensa (lentikuler).
  3. Komposisi dinding test foraminifera planktonik semuanya atau pada umumnya berdinding test hyaline.
  4. Jumlah dan susunan kamar foraminifera planktonik seluruhnya berkamar ganda (polythalamus) dengan kamar-kamar terputar secara trochospiral, kecuali  pada genus tertentu seperti Hantkenina, Globigerinella, dan Hastigerina yang semuanya planispiral.

Biofasies Foraminifera Planktonik
Foraminifera planktonik merupakan foraminifera kecil yang berhabitat planktonik, pada daerah dekat permukaan air laut sampai pada batas kedalaman yang tertembus sinar matahari (photic zone). Oleh karena habitatnya yang planktonik maka kamar-kamarnya mempunyai konfigurasi untuk beradaptasi agar dapat melakukan pengapungan dipermukaan air laut hingga dibagian bawah air laut. Bila kolom air laut dibuat semacam zonasi maka pada bagian teratas ditempati oleh golongan foraminifera tertentu hingga ke bagian air laut paling bawah. Berikut ini golongan foraminifera planktonik berdasarkan tempat hidupnya dari yang paling dekat ke permukaan air laut hingga paling dekat dasar laut.
  1. Golongan yang mempunyai test globigerin : kamar ganda globuler, terputar trochospiral dengan 3-4 kamar pada putaran terakhir.
  2. Golongan dengan test turborotalin : kamar ganda, sublobuler tanpa keel, dengan 5-7 kamar pada putaran terakhir.
  3. Golongan globorotalin : kamar terputar trochospiral dengan keel, 5-6 kamar pada putaran terakhir.
  4. Golongan truncorotalin : kamar ganda, terputar trochospiral dengan keel, 4-5 kamar pada putaran terakhir, vetral umbilicus menunjukkan kenampakan terpancung.

Foraminifera Bentonik
  1. Kelompok foraminifera planktonik pada masa dewasanya selalu tinggal di dasar tempat hidupnya (dasar laut), baik yang dapat bergerak ( vagil ) maupun yang tertambat (sesil).
  2. Bentuk dinding test bentonik mempunyai variasi bentuk yang sangat banyak.
  3. Komposisi dinding test foraminifera bentonik mempunyai dinding test yang beraneka ragam mulai agglutinated ( aranaceous ), porselin hingga hyaline.
  4. Jumlah dan susunan kamar foraminifera bentonik mempunyai wakil pada semua variasi jumlah dan susunan kamar, mulai yang sederhana sampai yang paling kompleks.
Biofasies Foraminifera Bentonik
Foraminifera bentonik semasa hidupnya mengambang dan terseret arus dan gelombang. Mereka dapat hidup pada kedalaman dasar laut yang bervariasi. Biofasies untuk foramainifera antara lain ditunjukkan oleh Boltovskoy dan Wright (1976) yang menyimpulkan penelitiaan tentang tebaran batimetris foraminifera bentonik yang dirumuskan sebagai berikut ini.
  1. Daerah pasang – surut (intertidal zone). Daerah ini dicirikan oleh foraminifera bentonik yang berbentuk pipih dan tertambat erat pada substrat sebagai akibat dari lingkungan yang berenergi tinggi. Contohnya adalah genus Discorbis dan Cibicides yang tertambat di dasar laut. Beberapa genus lain membentuk dinding yang tebal dan kuat, misalnya Ammonia beccarii dan Elphidium.
  2. Daerah neritik dalam (inner neritic zone) 0 – 30 m. Fauna yang dijumpai didaerah ini mirip dengan daerah pasang-surut. Fauna yang khas adalah Elphidium, Ammonia, Quinqueloculina dan Poroeponides.
  3. Daerah neritik tengah (middle neritic zone) 30 - 100 m. Di daerah ini ditunjukkan keanekaragaman yang semakin meningkat. Foraminifera berdinding agglutinated tidak menyolok, terdiri dari genus yang berstruktur dinding sederhana, misalnya adalah Textularia, Trochammina, dan Reophax. Sedangkan genus lain yang lebih umum didaerah ini adalah Ammonia, Amphistegina, Peneroplis, Archaias, Elphidium, Quinqueloculina, Triloculina, Spiroloculina, Discorbis, Buliminella dan Bucella.
  4. Daerah neritik luar (outer neritic zone) 100 – 130 m. Keanekaragaman masih cukup besar, golongan meliolin perlahan diganti golongan hialin seperti Lagena, Bulimina dan Cibicides. Genus lain yang khas adalah Cassidulina yang agak gepeng, Cibicides, Ninionella, Uverigerina, Fursenkoina, dan Pullenia.
  5. Daerah batial atas dan tengah (upper and middle bathyal zone) 130 – 1000m. Keanekaragaman semakin meningkat, ditandai dengan genus khas seperti Bolivina, Uvigerina, Cassidulina dengan test yang globuler, Gyroidina, Bulimina, Pullenia dan Cibicides. Golongan meliolin yang biloculine misalnya Pyrgo semakin banyak. Ciri lain untuk fauna yang mencirikan batimetri ini adalah ukuran rata-rata semakin besar dan hiasan dinding semakin kompleks.
  6. Daerah batial bawah (lower bathyal zone) 1000 – 3000 m. Secara umum keanekaragaman mulai menurun, demikian juga kelimpahan. Kelompok yang berdinding agglutinated menjadi dominan. Genus yang karakteristik untuk daerah ini adalah Oridorsalis, Stilostomella, Pleurostomella, Melonis, gyroidina, Globocassidulina, Cibides, Epistominella, Pyrgo, dan Eggerella.
  7. Daerah abisal (abyssal zone) 3000 – 5000 m. Fauna zona ini tercirikan oleh dominasi dari golongan yang berdinding test agglutinated akibat telah larutnya sebagian besar test yang berdiding hialin. (dibawah CCD). Kelompok genus yang khas adalah Bathysiphon, Cyclammina, Haplophragmoides, Rhabdammina dan Cribrostomoides.
Daftar Pustaka :
Cushman, A. J. 1959. Foraminifera. Massachusetts: Harvard University Press.
Rahardjo. W. et al. 2009. Buku Panduan Praktikum Mikropaleontologi. Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

BAGIKAN ARTIKEL KE :

BACA ARTIKEL LAINNYA :


Subscribe untuk mendapatkan artikel terbaru :

KOMENTAR KAMU :

Posting Komentar