Sistem Akuifer Merapi (SAM) di Cekungan Air Bawah Tanah Yogyakarta

Cekungan air bawah tanah Yogyakarta terletak di lereng selatan Gunung Merapi dan dibatasi oleh dua sungai utama, yaitu Kali Opak dibagian timur dan Kali Progo dibagian barat. Di bagian selatan cekungan ini dibatasi oleh Pantai Laut Selatan. Perbukitan yang membatasi cekungan ini adalah Perbukitan Kulon Progo dan rangkaian Perbukitan Baturagung. Secara geologis cekungan ini dibatasi oleh dua sesar utama, yaitu sesar sepanjang Kali Opak di timur dan sesar sepanjang Kali Progo di bagian barat. Di dalam Cekungan Yogyakarta terdapat beberapa sesar turun yang berpasangan, antara lain membentuk Graben Bantul dan Graben Yogyakarta (Mac Donald dan Partners, 1984;dalam Hendrayana, 1993). Litologi utama penyusun Cekungan Yogyakarta adalah Formasi Yogyakarta di bagian atas dan Formasi Sleman di bagian bawah, yang merupakan endapan volkaniklastik dari Gunung Merapi. Kedua formasi ini berfungsi sebagai lapisan pembawa air atau akuifer yang sangat potensial (Djaeni, 1982).
Sistem Akuifer Merapi (SAM) di Cekungan Air Bawah Tanah Yogyakarta
Model Konseptual Sistem Akuifer Merapi (SAM) di Cekungan Air Bawah Tanah Yogyakarta

Sistem hidrogeologi yang dibentuk oleh Formasi Yogyakarta dan Formasi Sleman dalam cekungan airtanah Yogyakarta disebut Sistem Akuifer Merapi (SAM). SAM secara hidrologis membentuk satu sistem akuifer, terdiri dari akuifer berlapis banyak (multilayer aquifer) yang memiliki sifat-sifat hidrolika relatif sama dan saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya.

Secara umum airtanah mengalir dari utara ke selatan dengan landaian hidrolika yang secara bergradasi semakin kecil. Morfologi airtanah menyerupai bentuk kerucut dan menyebar secara radial, bentuk ini merupakan, ciri khas morfologi airtanah daerah gunungapi. Daerah pengisian (recharge area) berada di bagian lereng atau tubuh Gunung Merapi. Airtanah berasal dari peresapan air hujan dan secara tidak langsung juga dari peresapan air sungai dan air irigasi di daerah pertanian. Sementara daerah pengeluaran (discharge area)  berada mulai sekitar Saluran Mataram sampai daerah Bantul Selatan. Di daerah selatan airtanah pada Formasi Sleman memiliki energi potensial yang relatif besar dan mengalir pada litologi yang memiliki sifat fisik relatif sama dengan Formasi Yogyakarta sehingga terjadi aliran airtanah secara vertikal dari Formasi Sleman ke arah Formasi Yogyakarta.

Ketebalan SAM sangat beragam, secara umum ketebalannya semakin bertambah besar ke arah selatan. Di daerah Graben Yogyakarta yaitu di daerah Ngaglik ketebalan SAM mencapai 80 m, di daerah Bedog dan Karanggayam sekitar 140 m dan di daerah kota Yogyakarta mencapai 150 m. ketebalan ini berkurang kembali di luar Graben Yogyakarta, yaitu sekitar Kota Bantul ketebalan SAM meningkat kembali menjadi 125 m (Hendrayana, 1993). Potensi SAM secara umum memiliki kuantitas yang baik (15 m3/s dapat diturap), sedangkan kualitasnya sangat dipengaruhi oleh aktivitas di permukaan khususnya untuk akuifer dangkal.

Airtanah pada SAM merupakan sumber daya air utama bagi penduduk wilayah Kab. Sleman, Kodya Yogyakarta dan Kab. Bantul. Hingga saat ini, sebagian besar penduduk wilayah perkotaan Yogyakarta masih tergantung pada sumber non-perpipaan. Rata-rata cakupan sistem perpipaan air bersih hanya mencukupi 22% dari jumlah total penduduk. Di wilayah SAM terdapat lima institusi yang melayani kebutuhan air penduduk, yaitu : PDAM Tirtamarta Kodya Yogyakarta, PDAM Sleman, PDAM Bantul, UGM dan PD Arga Jasa. Total produksi air bersih dari kelima perusahaan di atas adalah 20,30 juta m3/tahun.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sistem Akuifer Merapi (SAM) di Cekungan Air Bawah Tanah Yogyakarta"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D