Proses Pembentukan Gambut : Terestrialisasi dan Paludifikasi, Evolusi Mire, Rheotrophic dan Ombrotrophic

Lahan gambut umumnya terbentuk pada elevasi sekitar 50 m di atas permukaan laut pada seting berupa dataran rendah, pantai, sub-coastal dan pada dataran yang cukup jauh dari laut (inland) hingga 200 km terbentuk di sepanjang lembah sungai dan memotong daerah aliran sungai (Rieley et al., 1996 dalam Page et al. 2006). Tetapi, beberapa lahan gambut di daerah beriklim tropis juga dapat terbentuk pada daerah pegunungan (Dam et al., 2001).

Pembentukan gambut dapat terbentuk apabila terdapat suplai material organik yang cukup melimpah pada lingkungan anoksik dan hanya sedikit mendapat suplai material inorganik (Killops dan Killops, 2005) yang dapat mengganggu akumulasi gambut (Stach et al., 1982). Lingkungan dengan kondisi anoksik atau miskin oksigen diperlukan agar material organik yang terakumulasi dapat terpreservasi dengan baik, karena pada kondisi tersebut hanya terdapat sedikit bakteri pengurai yang dapat bertahan. Penguraian dapat berkurang hingga sama sekali tidak berlangsung apabila material organik terakumulasi di bawah permukaan air yang relatif stagnan dan miskin oksigen (McCabe, 1984). Kondisi anoksik juga mengurangi kemungkinan material organik mengalami oksidasi. Kondisi anoksik dapat diakibatkan oleh aliran air pada daerah datar yang terhalang oleh tumbuhan (McCabe, 1984). Selain kondisi tersebut, pembentukan gambut juga memerlukan kondisi berikut (Stach et al., 1982) :
a. kenaikan muka air tanah secara lambat, gradual dan kontinyus, karena kenaikan muka air tanah yang terlalu cepat dan tinggi dapat menyebabkan lahan gambut tenggelam dan apabila sebaliknya, kenaikan muka air tanah lambat akan menyebabkan gambut yang telah terendapkan tererosi,
b. lahan gambut terlindung dari banjir akibat sungai atau laut meluap, dan
c. morfologi daerah berupa dataran dengan relief rendah, sehingga dapat mencegah influks material inorgenik dari sungai.

Pembentukan lahan gambut diinisiasi oleh proses terestrialisasi dan paludifikasi (Frank, 1999; Thomas, 2013). Proses terestrialisasi yaitu perubahan tubuh air berupa pond, danau, laguna, teluk menjadi lahan gambut akibat proses pendangkalan (Gambar 1). Paludifikasi merupakan perubahan lahan kering menjadi lahan gambut akibat penggenangan, misalnya akibat kenaikan muka air tanah.  
Lahan gambut mulanya terbentuk pada tubuh air misalnya danau, di mana terjadi akumulasi material organik yang berasal dari tumbuhan di sekitarnya. Akumulasi material organik ini dimulai dari area-area yang dangkal misalnya pada tepian danau, di mana dari akumulasi material organik ini terbentuk gambut mengambang atau floating swamp (A pada Gambar 2) di tepian danau  (McCabe, 1984). Gambut juga mulanya dapat terbentuk pada lembah – lembah di sekitar tinggian melalui proses paludifikafi, di mana gambut yang akan terbentuk akan cenderung horizontal atau disebut dengan low lying swamps (B pada Gambar 2). Akumulasi material organik pada lahan gambut yang terus berlanjut diikuti oleh kenaikan muka air tanah secara seimbang dan kontinyus membentuk gambut tebal dengan bentuk cembung di permukaannya yang disebut dengan raised swamp (C pada Gambar 2).
Proses Pembentukan Gambut : Terestrialisasi dan Paludifikasi, Evolusi Mire, Rheotrophic dan Ombrotrophic,
Gambar 1. Proses terestrialisasi (Frank, 1999)
Gambut tipe raised swamp hanya dapat terbentuk ada daerah yang memiliki presipitasi tahunan melebihi evaporasi tahunannya dan memiliki periode kering yang pendek (Teichmuller & Teichmuller, 1982 dalam McCabe, 1984). Presipitasi yang tinggi menyebabkan lahan gambut ini dapat mempertahankan ketinggian muka air tanah yang dekat dengan permukaan (McCabe, 1984). Umumnya raised swamp memiliki air dengan tingkat keasaman yang rendah, dengan pH 3,3-4,6 dan miskin akan nutrisi bagi tumbuhan (Teichmuller & Teichmuller, 1982 dalam McCabe, 1984), oleh karena itu hanya sedikit spesies tumbuhan yang dapat berkembang pada jenis gambut ini (Anderson & Muller, 1975 dalam McCabe, 1984). Pada daerah tropis, lahan gambut ini memiliki densitas dan kerapatan vegetasi yang tinggi dengan zona yang konsentris (McCabe, 1984).
Proses Pembentukan Gambut : Terestrialisasi dan Paludifikasi, Evolusi Mire, Rheotrophic dan Ombrotrophic,
Gambar 2. Evolusi mire atau lahan gambut (McCabe, 1984)
Berdasarkan rezim hidrologinya, lahan gambut dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu rheotrophic (topogenous peat) yang mendapat suplai nutrisit dari air tanah dan ombrotrophic (ombrogenous peat) yang mendapat suplai nutrisit utamanya dari air hujan (Killops dan Killops, 2005). Keberadaan air berpengaruh terhadap ketersediaan nutrisi dan oksigen yang mempengaruhi kehadiran bakteri pengurai. Banyaknya bakteri pengurai akibat cukup banyaknya nutrisi dan oksigen pada sekitar lahan gambut dapat menyebabkan material organik atau fragmen tumbuhan mengalami degradasi dan dekomposisi yang tinggi (Moore dan Shearer, 2003).

Lahan gambut rheotrophic merupakan lahan gambut yang datar (low lying swamp) dengan muka air tanah dengan ketinggian yang sama atau lebih tinggi dari permukaan gambut. Oleh karena itu, umumnya lahan gambut ini kaya nutrisit dan mineral, sehingga cenderung akan membentuk gambut dan batubara dengan kandungan abu yang tinggi. Sementara, ombrotrophic (ombrogenous peat) memiliki bentuk permukaan cembung membentuk kubah (raised swamp) dengan muka air tanah di bawah lahan gambut tetapi cukup dekat dengan permukaan, sehingga umumnya gambut tipe ini miskin nutrisit (oligotropik) dan mineral atau material inorganik, sehingga dapat membentuk gambut dan batubara dengan kandungan abu yang rendah.

Model persebaran kandungan abu, sulfur dan jenis gambut pada ombrogenous peat daerah Sarawak, Malaysia dibuat oleh Esterle (1990). Berdasarkan data lapangan yang selanjutnya dibuat model, diketahui bahwa umumnya pada lahan gambut berbentuk kubah, jenis gambut yang ditemukan dari bagian tepi ke kubah gambut secara berurutan yaitu sapric, hemic dan fibric (Gambar 3) . Persebaran kandungan abu dan sulfur menunjukkan bahwa semakin ke tengah atau ke area kubah gambut, nilai kandungan abu dan sulfur semakin rendah. Distribusi tersebut juga terlihat pada distribusi secara vertikal, di mana pada bagian bawah di dominasi oleh jenis gambut sapric dengan kandungan abu dan sulfur yang tinggi, di bagian tengah gambut yang dominan berupa hemic dengan kandungan abu dan sulfur yang lebih rendah, serta di bagian kubah terdapat jenis gambut fibric yang memiliki kandungan abu dan sulfur paling rendah. 
Proses Pembentukan Gambut : Terestrialisasi dan Paludifikasi, Evolusi Mire, Rheotrophic dan Ombrotrophic,
Gambar 3. Model distribusi jenis gambut, kandungan abu dan sulfur lahan gambut daerah Sarawak, Malaysia (Esterle, 1990 dengan modifikasi)
Daftar Pustaka :
1) Dam, R.A.C., Fluin, J., Suparan, P., van der Kaars, S., 2001. Paleoenvironmental Developments in the Lake Tondano Area (N. Sulawesi, Indonesia) since 33,000 yr BP. Palaeogeogr. Palaeoclimatol. Palaeoecol. 171, 147–183.
2) Esterle, J.S., Ferm, J.C., 1994. Spatial variability in modern tropical peat deposits from Sarawak, Malaysia and Sumatra, Indonesia: analogues for coal. Int. J. Coal Geol. 26, 1–41.
3) Esterle, J.S., Ferm, J.C., 1990. On the use of modern tropical domed peats as analogues for petrographic variation in Carboniferous coal beds. Int. J. Coal Geol. 16, 131–136.
4) Frank, M.C., 1999. Organic Petrologi and Depositional Environments of the Souris Lignits, Revenscrag Formation (Paleocene), Southern Saskatchewan, Canada. Departmenet of Geology, University of Regina, Regina, Saskatchewan, Canada, 23 - 39.
5) Killops, S.D., Killops, V.J., 2005. Introduction to organic geochemistry, 2nd ed. ed. Blackwell Pub, Malden, MA, 71-116.
6) Moore, T.A., Shearer, J.C., 2003. Peat/coal type and depositional environment—are they related? Int. J. Coal Geol. 56, 233–252. 
7) McCabe, P.J., 1984. Depositional Environments of Coal and Coal-Bearing Strata. Int. Assoc. Sedimentol. 7, 13–42.
8) Page, S.E., Rieley, J.O., Banks, C.J., 2011. Global and regional importance of the tropical peatland carbon pool: TROPICAL PEATLAND CARBON POOL. Glob. Change Biol. 17, 798–818. 
9) Page, S.E., Rieley, J.O., Wüst, R., 2006. Chapter 7 Lowland tropical peatlands of Southeast Asia, in: Developments in Earth Surface Processes. Elsevier, Amstredam, pp. 145–172. 
10) Stach, E., Mackowsky, M.T., Teichmuller, M., Taylor, G.H., Chandra, D., Teichmuller, R., 1982. Coal Petrology, 3rd ed. Gebruder Borntraeger, Berlin, Stuttgart, 5-36.
11) Thomas, L., 2013. Coal geology, 2nd ed. ed. John Wiley & Sons, Chichester, West Sussex ; Hoboken, NJ, 1-52.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Proses Pembentukan Gambut : Terestrialisasi dan Paludifikasi, Evolusi Mire, Rheotrophic dan Ombrotrophic"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D