Klasifikasi Gambut Menurut Farnham & Finney (1965) dan Wust et al (2003) untuk Observasi Gambut di Lapangan dan Laboratorium

Jenis gambut dapat dibedakan secara deskriptif di lapangan berdasarkan kenampakan fisik, persentase kehadiran fragmen tumbuhan dan matriks yang dipengaruhi oleh dekomposisi dan humifikasi. Jenis gambut juga dapat dibedakan berdasarkan kandungan karbon dan kandungan abu setelah dilakukan analisis di laboratorium (Wüst et al., 2003).

Farnham dan Finney (1965 dalam Esterle dan Ferm, 1994) mengelompokkan gambut secara umum menjadi fibric, coarse hemic, hemic, fine hemic, dan sapric berdasarkan tingkat humifikasi material organik yang terakumulasi, dimana dari fibric hingga ke sapric tingkat humifikasi dari material organik semakin tinggi (Gambar 1). 
Klasifikasi Gambut Menurut Farnham & Finney (1965) dan Wust et al (2003) untuk Observasi Gambut di Lapangan dan Laboratorium
Gambar 1. Klasifikasi gambut menurut Farnham dan Finney (1965 dalam Esterle dan Ferm, 1994)
Pengelompokkan gambut di lapangan memerlukan beberapa parameter meliputi tekstur, tingkat dekomposisi, kandungan fiber, pH, jenis material tumbuhan dan warna (Wüst et al., 2003). Parameter tersebut diperlukan karena selama proses transportasi dan penyimpanan sampel gambut menyebabkan terjadinya perubahan pada tekstur, tingkat humifikasi, warna, densitas, porositas dan karakteristik kimia seperti pH dan Eh gambut. Morfologi material organik dideskripsikan pada parameter tekstur (Forsaith, 1916, dalam Wüst et al., 2003). Tekstur material organik dipengaruhi oleh tingkat dekomposisi material (Wüst et al., 2003). Tingkat dekomposisi pada gambut juga tergambarkan dari warna. Penentuan warna gambut ditentukan dengan membandingkan warna pada skala warna Munsell (Gambar 2).
Klasifikasi Gambut Menurut Farnham & Finney (1965) dan Wust et al (2003) untuk Observasi Gambut di Lapangan dan Laboratorium
Gambar 2. Chart Warna Tanah Munsell (Pusat Ekologi Ukraina)
Salah satu klasifikasi gambut yang dapat digunakan di lapangan dan digunakan dalam studi ini yaitu klasifikasi yang diajukan oleh Wüst et al., (2003) yang dibuat dengan memodifikasi klasifikasi gambut menurut Esterle dan Ferm, 1990 (Wüst et al., 2003) yang mulanya hanya membagi gambut menjadi jenis fibric, hemic dan sapric selanjutnya dimodifikasi ke dalam 9 sub grup jenis gambut (Tabel 1). Pada klasifikasi ini, gambut dan muck dibedakan berdasarkan kandungan abu, dimana kandungan abu pada gambut yaitu 0-55% dan muck yaitu 55-65% (Tabel 1). Esterle dan Ferm (1990) membagi gambut menjadi tiga jenis yaitu fibric, hemic dan sapric yang didasarkan pada kenampakan morfologi dan estimasi kandungan fiber dan matriks. Matriks dalam hal ini yaitu material halus dalam gambut berupa material organik dan material inorganik yang telah mengalami humifikasi tinggi.
Klasifikasi Gambut Menurut Farnham & Finney (1965) dan Wust et al (2003) untuk Observasi Gambut di Lapangan dan Laboratorium
Gambar 3. Tekstur gambut. A. Fibric – fine hemic (kanan ke kiri), B. Coarse hemic, C. Hemic, D. Fine hemic, E. Sapric, dan F. Bagian dasar dari gambut (Wüst et al., 2003)
Gambar 3. menunjukkan tekstur jenis gambut untuk tanah organik daerah tropis yang memiliki karakteristik berikut :
• Fibric, memiliki fiber >66% dengan ukuran panjang >10 mm, penyusun utama akar, batang dengan sedikit matriks. Apabila diperas gambut akan mengeluarkan air jernih.
• Hemic memiliki fiber berukuran panjang >10 mm yaitu 33-66%, air yang keluar saat gambut diperas akan berwarna coklat kemerahan hingga coklat tua.
• Sapric memiliki kandungan fiber <33% dengan matriks melimpah berwarna coklat hingga hitam. Saat gambut diperas, gambut akan tapak seperti pasta. Sapric dengan melimpahnya fiber disebut Sw, material berukuran halus dominan disebut So, matriks melimpah disebut dengan Ss, dan sapric yang memiliki kandungan material sedimen 55-65% disebut dengan Sm.
Klasifikasi Gambut Menurut Farnham & Finney (1965) dan Wust et al (2003) untuk Observasi Gambut di Lapangan dan Laboratorium
Tabel 3.5. Klasifikasi gambut untuk observasi lapangan (Wüst et al., 2003)
• Organic rich much (Mo) memiliki kandungan mineral yang tinggi. Apabila organic rich much memiliki kandungan fiber, akar dan fragmen kayu cukup banyak disebut dengan Mow, sementara apabila partikel organik relatif sedikit disebut dengan Moo.
Gambut berdasar kandungan abu dan LOI dapat diklasifikasikan menjadi 5 kelas yaitu very low ash, low ash, medium ash, high ash dan very high ash (Gambar 4). Tanah organik yang memiliki kandungan abu 55-65% dan LOI 35-45% disebut dengan muck, sementara kandungan abu 65-80% dan LOI 35-45% disebut sebagai organic rich soil or sedimen, serta mineral soil or sedimen dikelompokkan berdasar kandungan abu 80-100% dan LOI 0-20%.
Klasifikasi Gambut Menurut Farnham & Finney (1965) dan Wust et al (2003) untuk Observasi Gambut di Lapangan dan Laboratorium
Gambar 4. Klasifikasi gambut berdasar kandungan abu dan LOI (Wüst et al., 2003)
Kandungan C, kandungan abu dan LOI dalam klasifikasi menurut Wüst et al. (2003) memiliki distribusi linier, data tersebut diperoleh dari analisis data gambut di daerah Tasek Bera. Hubungan linear antara kandungan C dan LOI ditunjukkan pada Gambar 5. Gambut dengan kandungan abu tinggi, umumnya akan memiliki nilai LOI dan kandungan C yang semakin rendah.
Klasifikasi Gambut Menurut Farnham & Finney (1965) dan Wust et al (2003) untuk Observasi Gambut di Lapangan dan Laboratorium
Gambar 5. Hubungan linear kandungan C dan abu (Wüst et al., 2003)
1) Farnham, R.S., Finney, H.R., 1964. Classification and Properties of Organic Soil. Univ. Minn. St Paul Minn, 115-160.
2) Wüst, R.A.., Bustin, R.M., Lavkulich, L.M., 2003. New classification systems for tropical organic-rich deposits based on studies of the Tasek Bera Basin, Malaysia. CATENA 53, 133–163. 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Klasifikasi Gambut Menurut Farnham & Finney (1965) dan Wust et al (2003) untuk Observasi Gambut di Lapangan dan Laboratorium "

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D