Karakteristik Fisik dan Kimiawi Gambut : Kandungan Air, Berat Jenis Total, Fiber, Tingkat Pembusukan, Keasaman (pH), Kandungan Abu, dan Komposisi Kimia

Karakteristik gambut dibedakan menjadi dua macam yaitu karakteristik fisik dan karakteristik kimiawi. Karakteristik fisik gambut meliputi kandungan air, berat jenis (Farnham dan Finney, 1964; Page et al., 2006), dan karakteristik jaringan (Farnham dan Finney, 1964).

a. Kandungan air
Pembahasan karakteristik ini meliputi kemampuan penyerapan air dan kapasitas penyimpanan air pada jenis gambut. Gambut dibedakan dengan gambut lainnya melalui kemampuan penyerapan air dan kapasitas penyimpanan air pada tiap gambut. Sapric memiliki kapasitas maksimal penyimpanan air yang paling rendah dibandingkan hemic dan fibric, sehingga volume air yang dibutuhkan untuk menjenuhkan sapric juga paling sedikit dibanding lainnya (Tabel 1).
Karakteristik Fisik dan Kimiawi Gambut : Kandungan Air, Berat Jenis Total, Fiber, Tingkat Pembusukan, Keasaman (pH), Kandungan Abu, dan Komposisi Kimia
Tabel 1.  Kandungan air pada gambut (Farnham dan Finney, 1964)
Terdapat beberapa istilah yang digunakan dalam analisis kandungan air (Thomas, 2013), yaitu:
• Kandungan air permukaan (surface moisture)
Merupakan kandungan air tambahan yang terbentuk akibat proses pembatubaraan. Kandungan air jenis ini mudah lepas dan hilang saat berinteraksi dengan udara kering pada suhu rendah (< 40oC). Umumnya gambut dan batubara akan kehilangan kandungan air jenis ini dan akan menghasilkan data kandungan air yang disebut dengan air-dried (Thomas, 2013).
Air dried moisture
Kandungan air yang didapatkan setelah gambut mengalami pengurangan jumlah kandungan air akibat interaksi dengan udara kering dan dapat dilepas melalui pemanasan pada suhu tinggi. 
• Kandungan air total
Total kandungan air yang dapat dihilangkan melalui pengeringan secara agresif pada suhu tinggi (150oC), atau merupakan jumlah total kandungan air, baik surface maupun air dried moisture (Gambar 1).
Karakteristik Fisik dan Kimiawi Gambut : Kandungan Air, Berat Jenis Total, Fiber, Tingkat Pembusukan, Keasaman (pH), Kandungan Abu, dan Komposisi Kimia
Gambar 1. Komponen batubara (Ward, 1984 dalam Thomas, 2013)
b. Berat jenis total
Berat jenis gambut yaitu berat material organik dibagi satuan volume yang dapat dinyatakan dalam dry weight basis (gr/cm3). Gambut yang berasal dari lumut memiliki nilai densitas paling rendah, hal tersebut dipengaruhi oleh jumlah pori pada gambut. Sapric yang memiliki pori lebih sedikit dan lebih solid, memiliki berat jenis yang besar. Gambut yang tersusun atas lumut memiliki BD 0,05-0,1g/cc, sementara sapric memiliki berat jenis 0,3-05g/cc (Farnham dan Finney, 1964). Umumnya berat jenis gambut tropis memiliki nilai rendah, yaiu 0,1 – 0,32 g/cm3 dan semakin berkurang dengan bertambah kedalaman (Brady, 1997 dalam Page et al., 2006). Gambut tropis khususnya  di daerah Kalimantan memiliki berat jenis rata-rata 0,09 g/cm3 (Page et al., 2011). 

c. Karakteristik jaringan (fiber)
Karakterisasi utama karakteristik jaringan pada gambut didasarkan pada jumlah jaringan dan ukuran jaringan. Tingkat degradasi dan jenis tumbuhan mempengaruhi ukuran dan bentuk serat organik pada gambut. Semakin tinggi tingkat degradasi maka ukuran jaringan akan semakin kecil dari ukuran asalnya, dan sebaliknya semakin rendah tingkat degradasi, ukuran jaringan semakin besar sesuai ukuran asalnya.

Karakteristik Kimiawi Gambut

Karakteristik kimiawi gambut meliputi tingkat pembusukan (Farnham dan Finney, 1964), tingkat keasaman (pH), dan kandungan abu (Farnham dan Finney, 1964; Page et al., 2006) serta komposisi kimia (Rieley, 1996 dalam Page et al., 2006).

a. Tingkat pembusukan
Tingkat pembusukan gambut mencerminkan proses disintegrasi bagian tumbuhan secara fisis. Tingkat pembusukan dipengaruhi oleh proses biokimia (Farnham dan Finney, 1964). Pembusukan mempengaruhi karakteristik gambut lainnya, yaitu semakin tinggi tingkat pembusukan menyebabkan warna gambut akan semakin gelap, kandungan air berkurang, dan kandungan matriks pada gambut akan semakin banyak, sehingga berat jenis gambut semakin tinggi.

Penentuan derajat pembusukan dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Penentuan kualitatif dilakukan dengan cara pengamatan visual di lapangan menggunakan skala Von Post (1924) (Tabel 2) atau ekstraksi alkali yang dilakukan dengan menambahkan larutan alkali seperti sodium phosphate atau sodium hydoxide sebagai pengekstrak cairan asam yang dihasilkan dari pembusukan material organik. Penentuan secara kuantitatif dilakukan dengan analisis laboratorium densitometer untuk menentukan turbiditas ekstraksi senyawa dari material organik.
Karakteristik Fisik dan Kimiawi Gambut : Kandungan Air, Berat Jenis Total, Fiber, Tingkat Pembusukan, Keasaman (pH), Kandungan Abu, dan Komposisi Kimia
Karakteristik Fisik dan Kimiawi Gambut : Kandungan Air, Berat Jenis Total, Fiber, Tingkat Pembusukan, Keasaman (pH), Kandungan Abu, dan Komposisi Kimia
Tabel 2. Skala Post, 1924 (Wüst et al., 2003)
b. Tingkat keasaman (pH)
Tingkat keasaaman (pH) menunjukan tingkat kandungan nutrisi pada lahan gambut, khususnya kalsium (Ca) (Farnham dan Finney, 1964). Pengukuran pH gambut sebaiknya dilakukan di lapangan secara langsung, karena nilai pH pada gambut akan mengalami penurunan setelah gambut tersingkap ke permukaan akibat pengaruh suhu ruang. Nilai pH pada ombrogeous peat umumnya berada pada kisaran pH 3,0 - 4,0 (Kurnain et al., 2002 dalam Page et al. 2006).

c. Kandungan abu
Abu merupakan material inorganik pada gambut. Kandungan abu pada gambut tergantung pada jenis tumbuhan asal pembentuk gambut (Farnham dan Finney, 1964; Wüst et al., 2003), komposisi bedrock dan kondisi hidrologi yang dipengaruhi oleh geomorfologi dan iklim (Wüst et al., 2003). Kandungan abu berasal dari komponen biogenik, yaitu dari tumbuhan itu sendiri baik autochtonous maupun allochtonous; komponen ortokimia berupa mineral hasil presipitasi yang terbentuk pada lahan gambut, misalnya karbonat, sulfat dan pirit; serta material asal darat yang berupa mineral yang tertransport masuk ke area lahan gambut, dapat berasal dari sungai yang meluap, jatuhan abu dari atmosfer, dan air hujan tetapi dalam jumlah yang tidak signifikan (Farnham dan Finney, 1964; Wüst et al., 2003).

Gambut tropis memiliki nilai kandungan abu yang sangat bervariasi, mulai dari 1 - > 65% (Rieley et al., 1996 dalam Page et al., 2006; Wüst et al., 2003). Pada ombrogenous peat nilai kandungan abu umumnya sangat rendah yaitu <1%, tetapi pada kondisi tertentu misalnya akibat pengendapan abu vulkanik atau banjir pada endapan dangkal, kandungan abu dapat mencapai >10-15% (Wüst et al., 2003). Jenis gambut yang berbeda akan memiliki kandungan abu yang berbeda (Farnham dan Finney, 1964). Jenis gambut dengan tingkat pembusukan tinggi umumnya akan memiliki kandungan abu yang semakin tinggi.

d. Komposisi kimia
Komposisi kimia meliputi kandungan karbon (C), nitrogen (N) dan sulfur (S). Kandungan C pada gambut berguna dalam penentuan jenis material organik dan tingkat dekomposisi (Andriesse, 1988 dalam Wüst et al., 2003) serta penilaian lingkungan, misalnya perhitungan banyaknya C yang tersimpan pada lahan gambut dan dapat dilepaskan ke atmosfer (Wüst et al., 2003). Kandungan N pada gambut mengindikasikan kondisi nutrisi pada pertumbuhan tumbuhan dan aktivitas mikroba, serta rasio C/N  berguna dalam penentuan tingkat humifikasi dan jumlah N yang terdapat pada tumbuhan dan mikroba (Brady dan Weil, 1996 dalam  Wüst et al., 2003). Kandungan S pada saat pembakaran gambut atau batubara penting diketahui karena pada saat pembakaran akan dihasilkan sulfur dioksida (Wüst et al., 2003).

Kandungan karbon organik pada gambut tropis biasanya lebih dari 50% berat kering yaitu mencapai 56% berat pada gambut tropis di daerah Kalimantan, sementara nitrogen yang terkandung sekitar 2% berat kering (Page et al., 2006; Wüst et al., 2003). Rasio C/N memiliki rentang nilai yang besar dan umumnya bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman. Pada gambut di Kalimantan dan Malaysia nilai rasio C/N lebih dari 50 (Page et al., 2006; Wüst et al., 2003). 
Daftar Pustaka :
1) Farnham, R.S., Finney, H.R., 1964. Classification and Properties of Organic Soil. Univ. Minn. St Paul Minn, 115-160.
2) Page, S.E., Rieley, J.O., Banks, C.J., 2011. Global and regional importance of the tropical peatland carbon pool: TROPICAL PEATLAND CARBON POOL. Glob. Change Biol. 17, 798–818. 
3) Page, S.E., Rieley, J.O., Wüst, R., 2006. Chapter 7 Lowland tropical peatlands of Southeast Asia, in: Developments in Earth Surface Processes. Elsevier, Amstredam, pp. 145–172. 
4) Thomas, L., 2013. Coal geology, 2nd ed. ed. John Wiley & Sons, Chichester, West Sussex ; Hoboken, NJ, 1-52.
5) Wüst, R.A.., Bustin, R.M., Lavkulich, L.M., 2003. New classification systems for tropical organic-rich deposits based on studies of the Tasek Bera Basin, Malaysia. CATENA 53, 133–163.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Karakteristik Fisik dan Kimiawi Gambut : Kandungan Air, Berat Jenis Total, Fiber, Tingkat Pembusukan, Keasaman (pH), Kandungan Abu, dan Komposisi Kimia"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D