Goa Bribin, Pusat Air Tanah sebagai Sumber Air Signifikan untuk Mengatasi Masalah Kekeringan di Daerah Karst Gunung Sewu

Satuan pegunugan Seribu mempunyai fisiografi yang khusus, yaitu topografi kars yang tersusun oleh batugamping tufaan dan terumbu, ada banyak gua-gua dan sungai bawah tanah. Karena sifat tersebut sehingga tidak dijumpai adanya aliran air permukaan, yang ada airtanah berupa sungai-sungai bawah tanah. Di Pegunugan Seribu dijumpai sebanyak 258 gua yang didalamnya terdapat akumulasi air.
Kedalaman airtanah di wilayah Pegunugan Seribu berkisar antara 100-200 meter, yang mengakibatkan sulitnya akses langsung penduduk untuk memenuhi kebutuhan air dari sungai-sungai bawah tanah ini. Pada umumnya, walaupun belum diteliti secara detail, sungai-sungai airtanah ini bermuara di Pantai Selatan. Salah satu goa yang cukup terkenal adalah Goa Bribin.
Goa Bribin dengan debit sungai bawah tanahnya yang mencapai 1500 l/dt merupakan sumber air utama untuk kebutuhan domestik yang sudah dikembangkan. Saat ini, penelitian sedang dilakukan oleh Universitas Karshlure – BATAN untuk mengembangkan teknologi mikrohidro untuk penurapan lebih lanjut. Sementara ini debit penurapan baru berkisar 150-200 lt/detik dan diharapkan dengan teknologi baru tersebut, debit yang diturap dapat lebih ditingkatkan. Merujuk pada hal ini, dapat disimpulkan bahwa airtanah dari Goa Bribin adalah merupakan sumber air yang signifikan untuk mengatasi masalah kekeringan di daerah karst Gunung Sewu. Daerah tangkapan (DAS) Goa Bribin yang sudah terdeteksi diperkirakan mempunyai luas lebih dari 50 km2 (Adji dan Nurjani, 1999). Batas DAS adalah batas topografi yang diasumsikan sebagai batas tangkapan hujan Sungai Bribin.
Goa Bribin, Pusat Air Tanah sebagai Sumber Air Signifikan untuk Mengatasi Masalah Kekeringan di Daerah Karst Gunung Sewu
Gambar 1.  Goa Bribin, Wonosari
 Haryono (2001) mengungkapkan bahwa bukit karst yang mendominasi topografi DAS Bribin merupakan tandon air utama. Air yang tertampung di bukit karst pada zone epikarst akan teratus perlahan-lahan melalui celah-celah vadose, rekahan, dan selanjutnya mengisi aliran bawah tanah yang terus berkembang menjadi sungai bawah tanah. Oleh karena itu, mata air ataupun sungai bawah tanah di DAS Bribin akan mempunyai waktu tunda setelah kejadian hujan selama beberapa saat dengan kualitas kimia air yang relatif baik.
Pengamatan lapangan melalui observasi menunjukkan bahwa pusat kegiatan penambangan batu gamping “keprus” (chalky limestone) yang berada di sebagian besar wilayah Kecamatan Ponjong terletak pada daerah tangkapan DAS Bribin dan bahkan tepat berada di atas alur sungai utama Bribin. Selain itu, banyak terdapat lokasi sisa penambangan dengan bukit karst yang sudah hilang tertebas menjadi bero dan tanpa usaha konservasi yang sesuai. Merujuk pada kenyataan lapangan tersebut, dapat diasumsikan bahwa jelas akan terjadi degradasi jumlah air yang tersimpan sebagai komponen sungai Bribin karena hilangnya bukit karst.          
Menurut Adji dan Nurjani (1999) DAS Bribin mencakup luasan lebih kurang 55 km2 dan mempunyai bentuk seperti tapal kuda. Batas DAS Bribin yang diprediksikan adalah batas topografi permukaan (igir) dengan asumsi bahwa hujan yang jatuh ke wilayah itu akan diatuskan ke Sungai Bribin. Penetapan DAS Bribin mengabaikan karakteristik sistem karst yang khas yang memungkinkan terjadinya “kebocoran” air keluar ataupun masuk melewati batas DAS. Persebaran Goa DAS Bribin memiliki 39 buah goa (vertikal dan horizontal) yang sebagian besar memiliki air dengan debit aliran yang bervariasi. Sebagian besar goa mempunyai sistem yang tergabung dalam sistem utama Goa Bribin. Secara umum goa di DAS Bribin dapat dibagi atas (Gambar 2) :
Goa Bribin, Pusat Air Tanah sebagai Sumber Air Signifikan untuk Mengatasi Masalah Kekeringan di Daerah Karst Gunung Sewu
Gambar 2. Sebaran sungai bawah tanah di DAS Bribin
1. Goa pada aliran primer, yaitu mempunyai aliran sebagai hubungan langsung dengan aliran utama Sungai Bribin.
2. Goa pada aliran sekunder, yaitu mempunyai aliran sebagai sub aliran yang kemudian bergabung dengan aliran primer Sungai Bribin.
3. Goa yang tidak memiliki sistem (belum diketahui), walaupun mempunyai airtanah, tetapi sistem pergoaannya belum dapat didefinisikan.
Dari Gambar 1 dapat didefinisikan bahwa secara umum arah aliran Sungai Bribin adalah Utara-Selatan yang kemudian berbelok kearah Barat Daya di sekitar Bedoyo dan keluar sebagai outlet di Goa Bribin. Jika lokasi di sekitar daerah Tambak Romo dianggap sebagai hulu Sungai Bribin, debit aliran tercatat di Goa Jomblangan (aliran primer) adalah sekitar 37 l/dt, kemudian Goa Gilap (primer - 40 l/dt), terdeteksi lagi di Goa Jomblang (primer – 350 l/dt), kemudian Luweng Jurangjero (primer -1200 l/dt), dan terakhir sebagai outlet di Goa Bribin sebesar 1500 l/dt. Selain itu, beberapa goa lain diluar aliran primer atau non sistem yang memiliki debit air cukup besar adalah Luweng Sindon (non sistem – 200 l/dt) dan Goa Gremmeng (non sistem – 300 l/dt).     
Kualitas Air     
Dari hasil analisis sampel (Adji, 1997) unsur mayor terlarut dalam air baik itu sampel tetesan ornamen goa maupun aliran bawah tanah menunjukkan bahwa potensi kualitas air goa di DAS Bribin masih dibawah bakumutu golongan B untuk airminum (dapat diminum dengan diolah/dimasak). Secara hidrogeokimia, tipe airtanah DAS Bribin adalah Ca – HCO3 dengan nilai indeks kejenuhan (SI) tehadap mineral kalsit (CaCO3) lebih besar dari nol. Hal ini menunjukkan bahwa proses hidrogeokimia yang terjadi adalah pelarutan dan bahkan pengendapan mineral kalsit dalam akuifer. Secara umum, dari hulu ke hilir, nilai SI bertambah besar yang berarti proses pengendapan lebih aktif terjadi di daerah hilir dekat outlet Bribin.
Dimanapun di dunia ini, kegiatan perekonomian pasti mempunyai kepentingan yang berbeda dengan kepentingan pelestarian lingkungan. Di satu sisi, masyarakat di wilayah karst DAS Bribin sudah sangat tergantung secara ekonomis terhadap kegiatan penambangan batu gamping keprus. Pada sisi lain daerah pusat penambangan di kecamatan Ponjong merupakan Kawasan Karst Kelas I yang sebetulnya tidak boleh digunakan sebagai lahan penambangan. Secara geologis, keberadaan batu gamping keprus (chalky limestone) akan tergantung kepada sejarah terbentuknya Pegunungan Seribu. Hal ini seharusnya dapat memicu para ahli lingkungan dan ilmu bumi untuk mulai mencari keberadaan chalky limestone di lokasi lain yang notabene tidak tercakup kedalam DAS Bribin, ataupun Kawasan Karst kelas I lainnya. Harapannya, lokasi tersebut dapat digunakan sebagai lokasi penambangan baru sehingga kegiatan ekonomi pernduduk tidak terganggu. 
Terhadap lokasi penambangan yang sudah ada, kegiatan reklamasi harus mulai dijalankan. Reklamasi terutama bertujuan untuk membuat areal bekas penambangan kembali dapat berfungsi sebagai zone epikarst yang dapat menyimpan air dan bukannya melimpaskan air sebagai run-off. Beberapa cara dapat dilakukan seperti membuat artificial fracture yang diharapkan dapat menjadi tempat air untuk tersimpan, sehingga proses pelarutan yang alami dapat terus berlangsung dan mengimbuh sungai bawah tanah Bribin. Terakhir dan yang paling penting adalah menegakkan hukum. Ijin kegiatan penambangan harus disesuaikan dengan perundangan terbaru dalam hal ini adalah KEPMEN. NO. 1456 K/20/MEM/2000. Penelitian lanjutan mungkin juga perlu dilakukan untuk membuktikan bahwa lokasi penambangan merupakan recharge/imbuhan utama Sungai Bribin. Setelah itu, sosialisasi KEPMEN dan nilai hidrologis bukit karst harus dilakukan dengan harapan masyarakat tahu akan pentingnya nilai konservasi bukit karst. Toh masyarakat di daerah ini juga tergantung dari pasokan air Goa Bribin. 
BACA JUGA : Sistem Akuifer Merapi (SAM) di Cekungan Air Bawah Tanah Yogyakarta.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Goa Bribin, Pusat Air Tanah sebagai Sumber Air Signifikan untuk Mengatasi Masalah Kekeringan di Daerah Karst Gunung Sewu"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D