Geologi Regional dan Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan

Cekungan Sumatera Selatan merupakan salah satu cekungan yang terletak di Pulau Sumatera, dua cekungan lainnya di pulau ini yaitu Cekungan Sumatera Utara dan Cekungan Sumatera Tengah yang berarah northwest – southeast (De Coster, 1974). Cekungan Sumatera Selatan tersusun oleh batuan sedimen Tersier yang terendapkan secara tidak selaras di atas batuan metamorf dan batuan beku pra-Tersier yang telah tererosi dan terserarkan (Bishop, 2001). Pada bagian barat, cekungan ini dibatasi oleh Pegunungan Barisan Plio-Pleistosen, sedangkan pada bagian selatan dibatasi oleh Tinggian Palembang / Tinggian Lampung, dan Pegunungan Tigapuluh pada bagian utara (ditunjukkan pada Gambar 1).

Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan

Menurut De Coster (1974), sejarah tektonik Cekungan Sumatera Selatan dapat dibagi menjadi tiga episode tektonik, yaitu: (1) Orogenesa Mid Mesozoik yang mengakibatkan lapisan batuan Palozoik dan Mesozoik termetamorfosa, tersesarkan, terlipatkan menjadi blok struktur yang besar (belts) dan terintrusi oleh batholit granit; (2) Tektonik Akhir Kapur hingga Awal Tersier yang membentuk sesar dan graben dengan orientasi utara-selatan dan north-northwest – south-southeast; dan (3) Orogenesa Plio-Pleistosen yang membentuk sesar dan lipatan dengan orientasi northwest-southeast.
Geologi Regional dan Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan
Gambar 1. Peta Indeks Cekungan Sumatera Selatan yang menunjukkan kenampakan struktur regional Sumatera Selatan (Bishop, 2001).
Suhendan (1984) menjelaskan bahwa Cekungan Sumatera Selatan terbentuk akibat adanya tiga fase tektonik, yaitu (1) Fase ekstensi selama Paleosen Akhir hingga Miosen Awal yang membentuk graben berarah utara dan mulai terendapkan sedimen sejak Eosen hingga Miosen Awal; (2) Fase Relative Quiscence dengan sesar normal sejak Miosen Awal hingga Pliosen Awal; dan (3) Fase kompresi, inversi cekungan, dan pembalikan sesar normal pada Pliosen hingga sekarang yang membentuk antiklin dan menjadi jebakan hidrokarbon pada cekungan ini (Bishop, 2001).

Menurut Ginger dan Fielding (2005), sejarah tektonik Cekungan Sumatera Selatan dapat dibagi menjadi tiga megasikuen tektonik sebagai berikut:

a. Megasikuen Syn-Rift (40 – 29 juta tahun yang lalu)
Sebagai hasil subduksi sepanjang West Sumatran Trench, kerak benua pada area Sumatera Selatan mengalami fase ekstensi sejak Eosen hingga Oligosen Awal. Fase ekstensi ini menyebabkan terbentuknya half-graben yang memiliki geometri dan orientasi sesuai dengan heterogenitas dari basementnya. Pada awalnya, fase ekstensi ini memiliki pola yang berarah timur – barat sehingga menghasilkan horst dan graben  yang memiliki orientasi utara – selatan. Menurut Hall (1995) dalam Ginger dan Fielding (2005), Sumatera Selatan mengalami rotasi sebesar 15° searah jarum jam sejak Miosen sehingga kondisi horst dan graben  saat ini memiliki orientasi north-norteast dan south-southwest.

b.Megasikuen Post Rift (29 – 5 juta tahun yang lalu)
Fase rifting berakhir sekitar 29 juta tahun yang lalu, namun kerak benua yang tipis dibawah Cekungan Sumatera Selatan terus mengalami  subsidence akibat lithospheric thermal equilibrium (keseimbangan panas litosfer). Tingginya laju subsidence dan tingginya kenaikan muka air laut relatif menyebabkan adanya proses transgresi yang cukup lama pada cekungan hingga mencapai maksimum pada 16 juta tahun yang lalu. Penurunan laju subsidence dan atau peningkatan suplai sedimen ke dalam cekungan sejak 16 hingga 5 juta tahun yang lalu menyebabkan adanya proses regresi. Tidak ada bukti adanya aktivitas tektonik secara lokal yang cukup signifikan selama proses regresi (Ginger dan Fielding, 2005).

c. Megasikuen Syn-Orogenic / Inversi (5 juta tahun yang lalu – sekarang)
Peristiwa orogenic tersebar luas sepanjang Sumatera Selatan sejak 5 juta tahun yang lalu hingga sekarang yaitu Pegunungan Barisan. Meskipun demikian, menurut Chalik et al., (2004) dalam Ginger dan Fielding (2005), terdapat pula peristiwa lokal berupa uplift sekitar 10 juta tahun yang lalu. Pada fase ini terbentuk elongate transpressional folds, dan subsidence pada cekungan terus berlangsung seiring dengan penambahan suplai sedimen oleh proses erosi dari Pegunungan Barisan di bagian selatan dan barat.

Stratigrafi Regional Cekungan Sumatera Selatan

Secara umum stratigrafi regional Cekungan Sumatera Selatan telah dibahas oleh beberapa peneliti terdahulu, antara lain Adiwidjaja (1973), De Coster (1974), Bishop (2001), Ferdyanto (2003), dan Ginger dan Fielding (2005). Berikut merupakan urutan stratigrafi regional Cekungan Sumatera Selatan dari yang tertua hingga yang termuda:

a. Pre – Early Tertiary Basement
Menurut De Coster (1974), pada Cekungan Sumatera Selatan, basement tersusun oleh batuan beku Mesozoik, batuan metamorf, dan batuan karbonat Paleozoik dan Mesozoik. Pada beberapa lokasi secara lokal dijumpai pula batuan berumur Kapur Akhir hingga Paleosen-Eosen Awal yang terbentuk dibawah batuan sedimen Tersier, sehingga dikelompokkan dalam grup pre-Tersier. Batuan metamorf dan batuan sedimen Paleozoik dan Mesozoik tersebut telah terlipatkan dan tersesarkan secara intensif, kemudian terintrusi oleh batuan beku selama orogenesa Mesozoik Tengah.

b. Formasi Lemat
Batuan sedimen Formasi Lemat merupakan batuan yang terendapkan pertama kali pada fase transgresi. Pada umumnya Formasi Lemat dibatasi oleh ketidakselarasan pada bagian dasar. Formasi Lemat tersusun oleh batupasir, batulempung, fragmen batuan, breksi, “granite wash”, dan dibeberapa lokasi dijumpai lapisan batubara dan tuff yang semuanya terendapkan pada lingkungan darat. Ketebalan dari Formasi Lemat sangat bervariasi. Umur Formasi Lemat diperkirakan sekitar Eosen Akhir – Oligosen Awal berdasarkan pengamatan spora-pollen dan  dating K-Ar pada sampel batuan shale dan tuff (De Coster, 1974).

c. Formasi Talang Akar
Batuan sedimen pada Formasi Talang Akar terbentuk bersamaan dengan fase regresi. Selama fase thermal sag pada akhir syn-rift hingga awal post-rift dari evolusi tektonik Cekungan Sumatera Selatan, terjadi pengendapan fluvial hingga delta di cekungan tersebut. Kecenderungan dari proksimal terbentuk braid-plain dengan kandungan pasir yang dominan, sedangkan pada daerah distal terbentuk meander belt dan sedimen overbank  yang lebih sedikit kandungan pasirnya. Saat pengendapan sedimen ini menunjukkan adanya pengaruh tepian hingga laut sebagai akibat berlanjutnya subsidence. Akibatnya, bagian ini cenderung mengalami penebalan pada tengah cekungan dan penipisan pada tepian cekungan (Ginger dan Fielding, 2005).
Geologi Regional dan Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan
Gambar 2. Interpretasi paleogeografi Formasi Talang Akar bagian bawah pada Oligosen Akhir (Ginger dan Fielding, 2005).
Gambar 2. menunjukkan persebaran lingkungan pengendapan selama Oligosen, ekuivalen dengan Formasi Talang Akar Bawah. Pada awal Miosen, kondisi fluvial tergantikan dengan kondisi delta, tepian dan laut dangkal hingga kondisi laut dalam hampir pada seluruh Cekungan Sumatera Selatan oleh adanya peristiwa transgresi. Gambar 3. menunjukkan persebaran fasies pada waktu itu, ekuivalen dengan Formasi Talang Akar Atas.
Geologi Regional dan Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan
Gambar 3. Interpretasi paleogeografi Formasi Talang Akar bagian atas pada Miosen Awal (Ginger dan Fielding, 2005).
d. Formasi Baturaja
Peristiwa transgresi berlangsung hingga Awal Miosen dengan pengendapan shale laut dalam yang mengisi area graben dan kondisi laut dangkal sepanjang tepian tinggian yang banyak dijumpai pada bagian timur cekungan. Produksi karbonat berkembang baik pada waktu itu dan menghasilkan pengendapan batugamping pada bagian platform di tepian cekungan dan reef  pada bagian tinggian ¬antarcekungan (ditunjukkan pada Gambar 4). Reservoar batuan karbonat dengan kualitas yang bagus banyak dijumpai pada bagian selatan cekungan, tetapi jarang pada sub-cekungan Jambi ke arah utara. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan suplai sedimen dari arah utara dan adanya exposure pada bagian selatan dan timur memicu adanya porositas sekunder pada batugamping (Ginger dan Fielding, 2005).
Geologi Regional dan Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan
Gambar 4. Interpretasi paleogeografi Formasi Baturaja pada Miosen Awal (Ginger dan Fielding, 2005).
e. Formasi Gumai
Berlanjutnya peristiwa transgresi selama Awal Miosen mengahsilkan pengendapan marine shale, batulanau, dan batupasir dengan sedikit batuan karbonat yang dijumpai pada tinggian basement. Selama puncak peristiwa transgresi, pengendapan pada laut terbuka menyebabkan adanya dominasi shale yang mengandung mineral glaukonit pada cekungan tersebut yang tersebar luas hingga membentuk seal secara regional. Kemudian, sedimentasi delta secara progradasi terjadi pada sepanjang cekungan dan sedimen transisi hingga laut dangkal mulai menggantikan shale laut terbuka. Suplai sedimen didominasi pada daerah platform ke arah timur dan timur laut, meskipun pada saat itu suplai sedimen volkaniklastik menjadi salah satu sumber dari tinggian yang terisolasi di bagian barat (Ginger dan Fielding, 2005). Gambar 5 di atas mengilustrasikan persebaran fasies pada awal mulainya Miosen Tengah dan merupakan batas maksimum dari regresi pada Miosen Awal. Sedangkan batas maksimum peristiwa transgresi ditunjukkan pada Gambar 6.
Geologi Regional dan Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan
Gambar 5. Interpretasi paleogeografi Formasi Gumai pada Miosen Tengah (Ginger dan Fielding, 2005).
Geologi Regional dan Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan
Gambar 6. Interpretasi paleogeografi pada saat transgresi maksimum Miosen Tengah dan batas seal efektif regional (Ginger dan Fielding, 2005).
f. Formasi Air Benakat
Kondisi laut dalam pada akhir dari Miosen Awal secara gradual tergantikan oleh laut yang lebih dangkal dan kondisi tepian laut. Hal ini merupakan hasil dari berlanjutnya suplai sedimen dari tepian menuju ke arah cekungan. Dengan pengecualian pada tengah cekungan, reservoar batupasir laut dangkal dengan kualitas yang baik pada Miosen Tengah tersebar luas di Cekungan Sumatera Selatan (Ginger dan Fielding, 2005). Pada tepian cekungan akan dijumpai tepian laut hingga dataran pantai tersebar luas (ditunjukkan pada Gambar 7). Sebagai hasil dari aktivitas batuan beku Bukit Barisan, sebagian besar batupasir mengandung material volkaniklastik yang cukup signifikan. Hal ini mengakibatkan adanya penurunan kualitas reservoar, khususnya pada bagian barat.
Geologi Regional dan Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan
Gambar 7. Interpretasi paleogeografi Formasi Air Benakat pada Miosen Tengah- Akhir (Ginger dan Fielding, 2005).
g. Formasi Muara Enim
Sedimen pada Cekungan Sumatera Selatan pada Miosen Akhir menunjukkan adanya peningkatan volkanisme dan munculnya Bukit Barisan di sebelah barat menjadikannya sebagai sumber suplai sedimen yang cukup besar pada cekungan tersebut. Pada sebagian besar sumur pengeboran, dijumpai Formasi Muara Enim yang tersusun atas sedimen fluvial-delta hingga rawa-rawa. Tidak ada bukti yang menunjukkan adanya marine shale seal  yang tersebar luas (Ginger dan Fielding, 2005).

h. Formasi Kasai
Selama Pliosen, proses volkanisme dari Bukit Barisan semakin meningkat dan kompenen volkaniklastik juga semakin tinggi hampir di seluruh Sumatera Selatan. Sedimen yang terbentuk antara lain: tuff, batulempung, dan batupasir volkaniklastik. Adanya uplift dan erosi selama terjadinya inversi pada Pleistosen dan pengendapan lebih lanjut diantara lipatan menyebabkan terbentuknya morfologi seperti saat ini (Ginger dan Fielding, 2005).

Dari ulasan di atas, secara keseluruhan Ginger dan Fielding (2005) menyusun kolom stratigrafi pada Cekungan Sumatera Selatan sebagai berikut (ditunjukkan pada Gambar 8).
Geologi Regional dan Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan
Gambar 8. Skema kronostratigrafi Cekungan Sumatera Selatan (Ginger dan Fielding, 2005).
Daftar Pustaka:
1) Adiwidjaja, P.; G. L. Decoster. 1973. Pre-Tertiary Paleotopography and Related Sedimentation in South Sumatra. Indonesia Petroleum Association, 1973 – 2nd Annual Convention Proceedings. Jakarta: Indonesia Petroleum Association.
2) Allen G. P. 1994. Concept and Application of Sequence Stratigraphy to Silisiclastic Fluvial and Shelf Deposit. Indonesia Petroleum Association and Total Course. Jakarta: Indonesia Petroleum Association.
3) Bishop, M. G. 2001. South Sumatra Basin Province, Indonesia: The Lahat/Talang Akar – Cenozoic Total Petroleum System. Colorado: USGS.
4) Clure, J.; N. Fiptiani. 2001. Hydrocarbon Exploration in the Merang Triangle, South Sumatra Basin. Indonesia Petroleum Association, 2001 – 28th Annual Convention Proceedings. Jakarta: Indonesia Petroleum Association.
5) De Coster, G.L. 1974. The Geology of the Central and South Sumatra Basins. Indonesia Petroleum Association, 1974– 3rd Annual Convention Proceedings. Jakarta: Indonesia Petroleum Association.
6) Ferdyanto, G.; Edy. S.; Ismawan. 2003. Analysis of Sequence Stratigraphy, Lemat Formation to Gumai Formation, GN Field, South Sumatra Basin. Indonesia Petroleum Association, 2003 – 29th Annual Convention Proceedings. Jakarta: Indonesia Petroleum Association.
7) Ginger, D.; K. Fielding. 2005. The Petroleum System and Future Potential of South Sumatra Basin. IPA, 2005 – 30th Annual Convention Proceedings. Jakarta: Indonesia Petroleum Association.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Geologi Regional dan Evolusi Tektonik Cekungan Sumatera Selatan"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D