Uji Kelulusan Air Tanah dan Batuan serta Aplikasinya dalam Konstruksi Teknik

Kelulusan air tanah dan batuan merupakan salah satu parameter penting dalam analisa masalah keteknikan. Koefisien kelulusan air tanah dan batuan menujukkan seberapa cepat tanah dan batuan dalam meluluskan air. Dalam kondisi jenuh air, tanah dan batuan berbutir kasar memiliki koefisien kelulusan air relatif tinggi, sedangkan tanah dan batuan berbutir halus memiliki koefisien kelulusan air yang relatif rendah.

Maksud dari uji kelulusan air adalah untuk mengetahui kemampuan butir batuan untuk melakukan air di bawah tekanan atau tanpa tekanan. Dari uji kelulusan air, didapatkan nilai koefisien kelulusan air. Uji  kelulusan air ini akan berhubungan dalam pemahaman sifat batuan terhadap aliran air atau sifat litologi yang tidak kedap air maupun yang kedap air. Hal ini akan berpengaruh dalam sifat keteknikan batuan. Pada dasarnya, batuan yang dapat melalukan air akan bersifat lebih erosif dan mempunyai kekuatan geser kecil dan mudah longsor.

Uji kelulusan air dapat dilakukan dilaboratorium maupun dilapangan.
Pengujian Kelulusan air dilaboratorium
• Metode Constant Head
• Metode Falling Head
Pengujian kelulusan air dilapangan
• Uji Pompa
• Pengujian ujung terbuka
• Pengujian Perlokasi
• Pengujian Packer
Uji Kelulusan Air Tanah dan Batuan serta Aplikasinya dalam Konstruksi Teknik
Aplikasinya Dalam Konstruksi Teknik

Pengujian kelulusan air dapat diaplikasikan dalam bidang pencegahan dan penanggungan bahaya gerakan tanah. Definisi gerakan tanah / longsoran gerakan tanah / longsoran adalah perpindahan massa tanah / batuan pada arah tegak, mendatar atau miring dari kedudukan semula. Dalam definisi ini termasuk juga deformasi lambat atau jangka panjang dari suatu lereng yang biasa disebut rayapan (creep).

Di Indonesia sering terjadi longsoran pada jaringan jalan, jaringan pengairan, dan daerah pemukiman. Prasarana tersebut di atas cukup vital, sehingga diperlukan penanggulangan dengan tepat, cepat, dan ekonomis untuk menanggulangi kerugian-kerugian dalam pemanfaatan prasarana tersebut oleh masyarakat. Longsoran terutama terjadi pada lokasi dengan keadaan geologi, morfologi, hidrologi dan iklim yang kurang menguntungkan. Longsoran secara alami terjadi antara lain karena menurunnya kemantapan suatu lereng, akibat degradasi tanah / batuan bersamaan waktu dan usianya. Aktivitas manusia seperti membuat sawah dan kolam, mengadakan pemotongan dan penggalian pada lereng tanpa perhitungan, sering menyebabkan terganggunya kemantapan lereng yang ada, sehingga terjadi longsoran yang merusak prasarana dan sarana yang telah ada. 

Longsoran yang meliputi daerah luas atau mencakup daerah kehutanan, pertanian, pemukiman, pengairan, jalan dan prasarana dan sarana lainnya, memerlukan data yang lengkap, analisis yang teliti, serta memerlukan pula berbagai bidang keahlian dan koordinasi yang terpadu dalam penanggulangannya. Longsoran setempat yang sering terjadi pada jaringan jalan, pengairan dan pemukiman pada umumnya lebih mudah penanggulangannya dari pada longsoran yang meliputi daerah luas. Longsoran setempat adalah longsoran lokal yang tidak meliputi daerah luas dan penanggulangannya sederhana. Longsoran yang meliputi daerah luas adalah longsoran yang tidak sederhana cara penanggulangannya, meliputi daerah yang luas dan atau menyangkut daerah kehutanan, pertanian, pemukiman, pengairan, jalan serta prasarana dan sarana.
Uji Kelulusan Air Tanah dan Batuan serta Aplikasinya dalam Konstruksi Teknik
Uji kelulusan air akan berperan dalam penyelidikan dan pengujian. Pengujian kelulusan air (permeability test) lubang bor adalah cara pengujian jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pengujian di laboratorium untuk mengetahui kelulusan massa tanah/batuan. Jenis pengujian ada beberapa macam tergantung maksud dan tujuannya, yaitu uji tanpa tekanan (kocoran) dan yang bertekanan (packer test). Pengujian kelulusan air tanpa tekanan biasanya dilakukan pada lapisan tanah atau batu lapuk / lunak. Metoda yang dipilih disesuaikan dengan jenis tanah / batuan misalnya bila penurunan permukaan relatif cepat (pada tanah berbutir kasar) maka sebaiknya dipergunakan metoda air tetap (constant head). Sebaliknya bila penurunan permukaan air lambat maka sebaiknya dipergunakan metoda penurunan muka air (variable head test / falling head). 

Berdasarkan hasil uji kelulusan air yang berkesinambungan pada lubang bor, maka kita dapat mengetahui bagian yang bersifat paling lulus air yang dapat dijadikan indikasi sebagai daerah yang terganggu, sebagai bidang longsoran. Uji kelulusan air bertekanan (packer test) dilakukan pada lapisan batuan keras.
Uji Kelulusan Air Tanah dan Batuan serta Aplikasinya dalam Konstruksi Teknik
Kondisi air tanah yang mempengaruhi kemantapan lereng dapat dievaluasi dari hasil pengamatan sumur uji, lubang bor, pisometer dan uji kelulusan air dengan cara sebagai berikut :
1. Mempelajari penampang geologi teknik untuk menentukan letak muka air tanah, lapisan-lapisan pembawa air dan lapisan kedap air. Muka air tanah bebas dari masing-masing titik pemboran dihubungkan untuk mendapatkan permukaan air tanah bebas. 
2. Pada penampang geologi teknik juga dicantumkan letak kedalaman pisometer serta tinggi tekanan air pori. Bila tekanan air pori sesuai dengan muka air tanah bebas (phreatic line), maka kondisi air tanah tersebut merupakan air tanah bebas. Bila tekanan air pori tidak sesuai denagn muka air tanah bebas maka kondisi ini merupakan air tanah artesis.
3. Jika hanya ada air tanah bebas, maka longsoran yang terjadi dipengaruhi oleh air permukaan yang merembes masuk kedalam tanah menjadi air tanah bebas.
Uji Kelulusan Air Tanah dan Batuan serta Aplikasinya dalam Konstruksi Teknik
Air permukaan merupakan salah satu faktor penyumbang ketidakmantapan lereng, karena akan meninggikan tekanan air pori. Genangan air permukaan juga akan menimbulkan penjenuhan, sehingga massa tanah akan menjadi lembek dan menambah berat massa longsoran. Di samping itu aliran air permukaan juga dapat menimbulkan erosisehingga akan mengganggu kemantapan lereng yang ada. Oleh karena itu air permukaan perlu dikendalikan dengan maksud untuk mencegah masuknya atau mengurangi rembesanair permukaan ke daerah longsor. Mengendalikan air permukaan dapat dilakukan dengan cara menanam tumbuhan, menutup retakan, tata salir dan perbaikan permukaan lereng (regrading). 

Penanggulan lain adalah pengendalian air rembesan (drainase bawah permukaan) adalah untuk menurunkan muka air tanah di daerah longsoran. Dalam memilih cara yang tepat perlu dipertimbangkan jenis dan letak muka air tanah. Usaha mengeringkan dan atau menurunkan air tanah dalam lereng dengan mengendalikan air rembesan, umumnya cukup sulit dan memerlukan penyelidikan yang ekstensif. Metoda pengendalian air rembesan yang sering digunakan adalah sumur dalam (deep well), penyalir tegak (vertical drain), penyalir mendatar (horizontal drain), pelantar (drainage gallery), sumur pelega (relief well), penyalir pant pencegat (interceptor drain), penyalir liput (blanket drain), dan elektro osmosis.

Dalam keadaan jenuh air jenis tanah yang demikian sifatnya sangat erosif dan mempunyai kekuatan geser kecil dan mudah longsor. Untuk hal tersebut penanggulangan sementara hendaknya melakukan pembenahan saluran drainase permukaan agar air tidak langsung mengalir di daerah lereng lembah berpotensi longsor tersebut. Untuk penanggulangan permanen, perlu dilakukan penyelidikan tanah sebelumnya, terutama untuk mengetahui kedalaman bidang gelincir secara pasti. Namun secara visual harus dilakukan bangunan penahan tanah disamping lerengnya sendiri harusditata dengan baik. Penanggulangan permanen disarankan sebagai berikut : Tanah yang longsor dikupas, kemudian ditata kembali dengan menggunakanbahan stabilisasi agar sifat erosifnya dapat berkurang. Penggunaan geotekstil dengan tipe yang cocok untuk perkuatan lereng dan mencegah erosi.

Penanggulangan sementara harus membenahi drainase permukaan, agar air tidak langsung masuk ke daerah lereng yang longsor. Retakan pada trotoar harus segera ditutup, karena dapat merupakan jalan air menuju ke daerah lereng yang longsor. Penanggulangan yang permanen hendaknya berdasarkan hasil penyelidikan tanah, terutama untuk mengetahui kedalaman bidang gelincir beserta pola-pola aliran di daerah tersebut. Tindak lanjutnya adalah pembongkaran material yang longsor sampai kedalaman bidang gelincir, kemudian diikuti dengan penimbunan dengan material yang sudah distabilisasi guna membentuk lereng kembali.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Uji Kelulusan Air Tanah dan Batuan serta Aplikasinya dalam Konstruksi Teknik"

Posting Komentar

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D