Jenis-Jenis Gerakan Massa Tanah atau Batuan (Longsor) dan Faktor Pengontrol Terjadinya Gerakan Massa Tanah dan Batuan

Gerakan tanah/batuan adalah suatu konsekuensi fenomena dinamis alam untuk mencapai kondisi baru akibat gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara alamiah maupun akibat ulah manusia. Gerakan massa akan terjadi pada suatu lereng, jika ada keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan terjadinya suatu proses mekanis, mengakibatkan sebagian dari lereng tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi, dan selanjutnya setelah terjadi longsor, lereng akan seimbang atau stabil kembali.
Jenis-Jenis Gerakan Massa Tanah atau Batuan (Longsor) dan Faktor Pengontrol Terjadinya Gerakan Massa Tanah dan Batuan
Secara umum faktor pengontrol terjadinya gerakan massa pada suatu lereng dikelompokan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari kondisi geologi batuan dan tanah penyusun lereng, kemiringan lereng (geomorfologi lereng), hidrologi dan struktur geologi. Sedangkan faktor eksternal yang disebut juga sebagai faktor pemicu yaitu curah hujan, vegetasi penutup, penggunaan lahan pada lereng, dan getaran gempa.

Faktor internal :

1. Kemiringan lereng
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong.Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, airlaut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsoradalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar. 

2. Keadaan tanah dan batuan yang kurang padat
Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liatdengan ketebalan lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220.Tanah jenis ini memiliki potensi untuk terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketikahawa terlalu panas. Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat.Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah bila mengalami prosespelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah longsor bila terdapatpada lereng yang terjal. 

3. Pengaruh struktur Geologi
Struktur geologi sangat berpengaruh terhadap tingkat kekuatan massa batuan, sehingga apabila suatu tubuh batuan mengalami pengaruh struktur yang sangat intensif, maka daerah tersebut merupakan zona lemah yang labil akibat tingginya tingkat pelapukan sehingga amat rentan terhadap hadirnya gerakan massa batuan maupun massa tanah.

Faktor Eksternal : 

1. Hujan serta Pengikisan atau erosi
Ancaman gerakan massa biasanya dimulai pada bulan November karena meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam. Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain ituakibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.

2. Penggundulan hutan
Gerakan massa umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gunduldimana pengikatan air tanah sangat kurang.

3. Pengaruh  getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan,getaran mesin, dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak. 

4. Penambahan beban
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya gerakan massa ,terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang arahnya kearah lembah.

5. Tata guna lahan
Gerakan massa banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan,perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahanpersawahan akarnya kurang kuat untuk mengikat butir tanah danmembuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnyaadalah karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoranyang dalam dan umumnya terjadi di daerah longsoran lama.

Klasifikasi Gerakan Massa :

1. Jatuhan 
Jatuhan adalah gerak bebas material yang berasal dari lereng curam seperti bukit. Tipe ini memiliki asal kata "jatuh", yang membedakan dengan tipe lain adalah keadaan dimana material jatuh bebas dari lereng mengalami tumbukan berulang dengan lereng yang berada dibawahnya dengan kecepatan tinggi. Lebih mudahnya adalah adanya sebuah pecahan batuan yang jatuh dari sebuah lereng yang menggelinding dan menerjang serta merusakkan apa saja yang dilewatinya.
Jenis-Jenis Gerakan Massa Tanah atau Batuan (Longsor) dan Faktor Pengontrol Terjadinya Gerakan Massa Tanah dan Batuan
Rock Fall

Diantara tipe jatuhan ini adalah bukit curam, dimana bukit curam tersusun oleh batuan bersipat getas yang mengalamin erosi gelombang laut pada bagian bawahnya yang menyebabkan terjadinya jatuhan. Perhatikan retakan pada permukaan atasnya yang merupakan gejala sebelum terjadi jatuhan.
Tipe longsoran jatuhan ini juga harus diwaspadai pada daerah pemukiman yang berada dibawah lereng yang memiliki batu-batu besar dan terpisah-pisah. Antisipasi yang dapat dilakukuan adalah membangun pagar-pagar kawat, atau dengan mengikat batu yang membahayakan tersebut.

2. Rubuhan
Rubuhan adalah gerak rotasi ke depan dari massa batuan, runtuhan atau tanah dengan sumbu yang berhimpit pada lereng bukit. Rubuhan merupakan gabungan dari gerak jatuhan dengan gelinciran tetapi bergerak tanpa adanya tumbukan. Gerakan ini terjadi akibat tekanan interaksi antar blok kolom. Blok-blok tersebut terjadi akibat adanya bidang perlapisan iregular, belahan, kekar atau retakan tension dengan arah jurus relatif sejajar dengan arah jurus lereng. Rubuhan mungkin hanya terdiri dari satu fragmen dengan volume 1 m3 hingga 109 m3.

Perubahan umumnya terjadi di batuan schist dan gamping tetapi juga terdapat pada batuan sedimen tipis dan juga batuan beku dengan kekar kolom. Retakan pada batu gamping yang sejajar dengan jurus kemiringan lereng menyebabkan terdi rubuhan ini.

3. Luncuran ( slide )
Gerakan massa luncuran merupakan longsoran yang mempunyai bidang gelincir yang relatif rata. Longsoran ini dibagi menjadi dua tipe :
a. Lengkung/rotasi : longsoran yang memiliki bidang gelincir berbentuk setengah lingkaran,hiperbola, atau bentuk lengkung tidak teratur lainnya. Longsoran ini terjadi bila tanah bersifat kohesif serta gaya perlawanan terhadap gaya g esernya kecil. Terbagi lagi manjadi rock slump dan soil slimp.
Jenis-Jenis Gerakan Massa Tanah atau Batuan (Longsor) dan Faktor Pengontrol Terjadinya Gerakan Massa Tanah dan Batuan
Slump

b. Lurus : longsoran yang memiliki bidang luncur relatif rata, umumnya ditentukan oleh bidang sesar,kekar, ataupun zona lemah berupa lapisan kontak batuan. Terbagi juga menjadi dua tipe yakni rock slide dan land slide. 
Jenis-Jenis Gerakan Massa Tanah atau Batuan (Longsor) dan Faktor Pengontrol Terjadinya Gerakan Massa Tanah dan Batuan
Rock Slide

4. Aliran (flow)
Aliran terjadi apabila material bergerak turun dari lere ng sebagai cairan kental dengan cepat. Biasanya materialnya jenuh dengan air, dan yang sering terjadi adalah aliran lumpur atau mud flow, aliran debris dengan banyak air dan utamanya partikel halus.
Jenis-Jenis Gerakan Massa Tanah atau Batuan (Longsor) dan Faktor Pengontrol Terjadinya Gerakan Massa Tanah dan Batuan
Debris Flow

Tipe gerakan tanah ini umumnya terjadi didaerah yang curah hujannya tinggi, seperti di Indonesia. Kecepatan alirannya tidak hanya bergantung pada kecuraman lereng tetapi juga kandungan air. Lahar, istilah yang dari Indonesia yang sudah menjadi astilah geologi. Lahar merupakan aliran piroklastik, berukuran dari debu volkanik sampai bomb  (bongkah) yang jenuh air kebawah lereng dengan cepat menerjang segala yang menghalanginya.

5. Rayapan (creep) 
Tipe ini gerakannya sangat lambat sehingga tidak teramati, yang terlihat hanya akibatnya, dinding rumah retak-retak, akibat fondasinya perlahan-lahan bergeser, tiang-tiang dan pepohonan tumbuhnya melekung. Rayapan melibatkan tubuh tanah dan regolith, pada lereng yang landai, karena pemuaian dan pengkerutan yang disebabkan pembekuan dan pencairan, basah atau kering. Dapat juga karena tanah jenuh air, daya kohesinya berkurang. Tanah menjadi mudah bergerak kebawah lereng.
Jenis-Jenis Gerakan Massa Tanah atau Batuan (Longsor) dan Faktor Pengontrol Terjadinya Gerakan Massa Tanah dan Batuan
Crepping

6. Kombinasi (complex)
Gerakan massa kombinasi merupakan longsoran gabungan dari dua jenis longsoran yang berbeda atau lebih, misalnya rebahan, jatuhan, dan aliran.

Pencegahan Terjadinya Gerakan Massa :

1. Mengubah Geometri Kelerengan 
Perubahan geometri lereng ini pada prisnsipnya bertujuan untuk mengurangi gaya pendorong dari masa tanah atau gaya-gaya yang menggerakan yang menyebabkan gerakan lereng. Perbaikan dengan perubahan geometri lereng ini meliputi pelandaian kemiringan lereng dan pembuatan trap-trap/bangku/teras (benching) dengan perhitungan yang tepat.

2. Mengendalikan Aliran Air Permukaan
Air merupakan salah satu faktor penyumbang ketidakmantapan lereng, karena akn meninggikan tekanan air pori. Pengendalian air ini dapat dilakukan dengan cara sistem pengaturan drainase lereng baik dengan drainase permukaan maupun bawah permukaan (Hardiyatmo. C. H., 2006). Pemilihan metode ini cocok digunakan dalam upaya pencegahan tetapi jika pada sebelumnya telah terjadi gerakantanah maka diperlukan beberapa metode penanggulangan sebagai pendukung.

3. Penanaman Pohon Dilajur Rawan Longsor
Tumbuhan dapat digunakan untuk mengontrol erosi pada tanah yang tidak stabil. Metode penanaman ini bertujuan untuk melindungi lereng, karena akar-akar pohon akan menyerap air dan mencegah air berinfiltrasi ke dalam zona tanah tidak stabil. Akar-akaran dalam kelompoknya membentuk rakit yang menahan partikel tanah tetap di tempatnya. Dalam kondisi demikian umunua akar-akar tumbuhan menambah kuat geser tanah (Hardiyatmo. C. H., 2006).

4. Sementasi 
Menurut Dwiyanto (2005), grouting merupakan metode untuk memperkuat tanah/batuan atau memperkecil permeabilitas tanah/batuan dengan cara menyuntikkan pasta semen atau bahan kimia ke dalam lapisan tanah/batuan.

Grouting merupakan suatu proses pemasukan suatu cairan dengan tekanan kedalam rongga atau pori rekahan dan kekar pada batuan yang dalam waktu tertentu cairan tersebut akan menjadi padat dan keras secara fisika maupun kimiawi, dengan tujuan untuk menurunkan permeabilitas, meningkatkan kuat geser, mengurangi kompresibilitas, mengurangi potensi erosi internal terutama pada pondasi alluvial.

5. Betonisasi
Cara ampuh tapi membutuhkan biaya yang relatif mahal dari Grouting yaitu dengan cara pembetonan namun cara ini hanya bersifat sementara karena hanya  menguatkan komposisi tanah luarnya saja sedangkan dalamnya sama saja jadi bersifat sementara saja.

Daftar Pustaka:
1) Hamblin dan Christianises. 2009. Earth Dinamic Systems. Tenth Edition.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jenis-Jenis Gerakan Massa Tanah atau Batuan (Longsor) dan Faktor Pengontrol Terjadinya Gerakan Massa Tanah dan Batuan"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D