Proses dan Penyebab Terjadinya Gelombang Tsunami


Tsunami sering disebut gelombang pasang (tidal wave), tetapi sesungguhnya gelombang ini tidak ada hubungannya dengan pasang surut air laut. Tsunami disebut juga sebagai seismic wave karena kejadiannya dicetuskan oleh gerakan kerak bumi yang cepat dan tiba-tiba. Tsunami dapat terjadi karena 3 hal, antara lain : 
  • gempa bumi yang berasosiasi dengan terjadinya patahan vertikal di dasar laut, atau 
  • longsoran di dasar laut (Gambar 1), atau 
  • letusan gunungapi di laut. 
Tsunami adalah gelombang yang sangat panjang. Panjangnya dapat mencapai 240 km, dan dapat merambat dengan kecepatan 760 km/jam. Di daerah pesisir, gelombang tsunami yang naik ke darat dapat mencapai ketinggian 30 meter dan masuk ke darat sampai 3,5 km.
Proses dan Penyebab Terjadinya Gelombang Tsunami
Gambar 1. Gambaran dua pencetus tsunami. (a) patahan bawah laut, (b) longsoran bawah laut. Dari Ingmanson dan Wallace (1985).
Indonesia sangat berpotensi terkena bencana tsunami ( Lihat Tabel 1). Kejadian tsunami yang terkenal di Indonesia terjadi tahun 1883, yaitu tsunami yang terjadi karena letusan Gunung Krakatau. Pun tahun 2018, tsunami kembali terjadi akibat longsoran Anak Krakatau yang masih terus aktif mengeluarkan material letusan.

Sementara itu, tsunami yang terjadi karena gempa antara lain terjadi di Flores tahun 1992, Banyuwangi 1994, Biak 1996, dan Aceh 2004. Contoh dari tsunami yang terjadi karena longsoran bawah laut adalah tsunami yang terjadi pada tahun 1988 di sebelah utara Papua New Guinea (Synolakis dan Okal, 2002).
Proses dan Penyebab Terjadinya Gelombang Tsunami
Gambar 2. Tabel kejadian tsunami di Indonesia dalam periode tahun 1990 - 2006
Tsunami adalah gelombang yang memiliki panjang gelombang yang sangat panjang, dapat mencapai 240 km. Dengan panjang gelombangnya yang sedemikian besar itu, maka meskipun di samudera yang memiliki kedalaman rata-rata 4600 m, gelombang tsunami relatif masih sangat panjang.

Dengan demikian maka gelombang tsunami akan berkelakuan seperti gelombang perairan dangkal (Ingmanson dan Wallace, 1985), yang kecepatannya tergantung pada kedalaman air.

Beberapa tsunami terdiri dari satu paket yang terdiri dari tiga atau empat gelombang dengan interval kedatangan setiap gelombang sekitar 15 menit (Ingmanson dan Wallace, 1985). Gelombang yang pertama belum tentu yang paling besar. Sebelum gelombang tsunami mencapai pantai, biasanya air laut di dekat pantai tertarik ke laut sehingga dasar laut tersingkap ke udara.
Proses dan Penyebab Terjadinya Gelombang Tsunami
Gambar 3. Penyebaran peristiwa tsunami di Indonesia periode 1990-2006 ditunjukkan oleh panah. 


Daftar Pustaka :
[1] Fauzi dan Ibrahim, G., 2002. Lessons learned from large tsunami that occurred in Indonesia. Paper presented in International Workshop on Tsunami Risk and Its Reduction in the Asia-Pacific Region, Bandung, March 18-19, 2002.
[2] Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1973. Oceanology: an introduction, Wadsworth Publishing Company, Inc., Belmont, 325 p.
[3] Ingmanson, D.E. and Wallace, W.J., 1985. Oceanology: an introduction, Wadsworth Publishing Company, Inc., Belmont, 530 p.
[4] Setyawan, W.B., 2002. Bahaya Tsunami dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Year Book Mitigasi Bencana 2002. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan dan Kawasan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, 16-22.
[5] Synolakis, C.E. and Okal, E.A., 2002. The 1988 Papua New Guinea tsunami: evidence for an underwater slump (abstract). Presented in International Workshop on Tsunami Risk and Its Reduction in the Asia – Pasific Region, Bandung, March 18-19, 2002.

BAGIKAN ARTIKEL KE :

BACA ARTIKEL LAINNYA :


Subscribe untuk mendapatkan artikel terbaru :

KOMENTAR KAMU :

Posting Komentar