Karakteristik Lingkungan Laut : Lingkungan Bentik, Lingkungan Pelagik, Lingkungan Hidrotermal Laut Dalam dan Estuari


LINGKUNGAN BENTIK

1. Lingkungan Supralitoral
Lingkungan supralitoral berada di atas pasang tinggi. Lingkungan ini lebih banyak tersingkap ke udara, dan hanya akan tergenang pada saat air laut mengalami pasang tertinggi. Sehari-harinya, lingkungan ini basah oleh air laut oleh cipratan air dari gelombang yang pecah di pantai atau bila terjadi badai.

Kondisi permukaan lingkungan ini sangat kasar. Organisme yang hidup di lingkungan ini hampir terus menerus tersingkap ke udara, dan hanya basah bila terjadi air laut pasang tertinggi, cipratan air dari gelombang yang pecah di pantai atau bila terjadi badai. Hewan yang hidup di lingkungan ini, sama di seluruh dunia.

2. Lingkungan Eulitoral
Umum diterima bahwa lingkungan eulitoral, sering juga disebut litoral, meliputi daerah yang secara periodik tersingkap ke udara pada waktu laut surut (daerah pasang surut atau intertidal). Lebar daerah pasang surut (intertidal) tergantung pada kisaran tinggi pasang surut dan kemiringan lereng dasar laut. Hewan yang hidup di daerah ini adalah hewan yang sanggup bertahan terhadap pukulan gelombang. Ross (1977) menarik batas sisi laut lingkungan ini sampai daerah dengan kedalaman 40 sampai 60 meter. Batas sisi laut dari lingkungan ini adalah sampai kedalaman dimana sebagian besar tumbuhan yang menempel masih dapat tumbuh dan mendapatkan cukup cahaya untuk fotosintesis.

Hewan dan tumbuhan di kawasan ini sangat banyak dan bervariasi. Selain itu, kawasan ini juga sangat baik untuk mempelajari kondisi lingkungan biologi laut, karena kondisi lingkungan ini dapat diamati secara langsung dengan cara menyelam.

3. Lingkungan Sublitoral
Lingkungan sublitoral mencakup daerah dengan kedalaman 200. Menurut Ross (1977) batas sisi laut lingkungan ini bahkan sampai 400 meter. Batas ini didasarkan pada kedalaman maksimum dimana algae (tumbuhan) dapat hidup,. Batas bawah lingkungan ini umumnya bertepatan dengan batas bawah zona eufotik. Selain itu batas sisi laut dari lingkungan ini bertepatan dengan tepi paparan benua.

Faktor lingkungan yang penting adalah cahaya dan temperatur. Selain itu, faktor lain yang kadang-kadang juga penting adalah kondisi geologi dasar perairan, gelombang, dan arus. Beberapa hal yang penting yang perlu dicatat dari lingkungan ini adalah bahwa di lingkungan ini terbentuk delta-delta, terumbu karang, atau alur-alur bawah laut (submarine canyon).

Pada rentangan dari lingkungan eulitoral sampai sublitoral, terdapat penurunan kehidupan tumbuhan dan peningkatan kehidupan hewan laut. Adanya berbagai jenis hewan yang bernilai ekonomis itu menyebabkan kawasan sublitoral yang sangat ekstensif dieksploitasi oleh para nelayan komersil.

4. Lingkungan Laut Dalam
Lingkungan laut dalam yang meliputi lingkungan batial, abisal, dan hadal, kosong dari kehidupan tingkat tinggi, tetapi bakteri dapat hidup di lingkungan yang dalam ini. Kondisi oseanografi di lingkungan laut dalam ini seragam. Temperatur turun perlahan sesuai dengan kedalaman, salinitas relatif konstan, dan tekanan meningkat 1 atm setiap turun dengan kedalaman 10 meter. Organisme yang hidup di dalam lingkungan ini sebagian besar tersusun oleh air. Oleh karena itu, tekanan tidak mempengaruhi proses kehidupan hewan laut dalam.

Kondisi oseanografi yang seragam di dalam lingkungan ini menunjukkan bahwa musim musim memiliki pengaruh yang kecil terhadap berbagai fenomena kehidupan, seperti musim berkembang biak, yang di perairan dangkal dipengaruhi oleh musim.Makanan di lingkungan laut dalam tidak sebanyak di lingkungan litoral. Hewan-hewan laut dalam diperkirakan mendapat makanan dari material organik yang jatuh dari perairan dekat permukaan ke dasar samudera.

Zona hadal meliputi daerah palung laut dalam, temperatur mencapai <1oC, dan tekanan mencapai 600 atm. Jumlah hewan di daerah ini kira-kira sepersepuluh kehidupan di zona abisal.

LINGKUNGAN PELAGIK

1. Lingkungan Neritik
Lingkungan neritik pelagis umumnya memperlihatkan kondisi keanekaragaman yang tinggi bila di lingkungan itu terdapat air tawar yang masuk dari aliran sungai. Organisme yang hidup di lingkungan ini dengan demikian harus bertahan hidup dalam kisaran salinitas yang lebar.

Nutrien yang masuk ke dalam lingkungan ini berasal dari laut dalam yang masuk melalui mekanisme “upwelling” – yang terjadi karena angin di daerah pesisir, dan dari daratan yang masuk melalui aliran sungai. Banyak ikan dan berbagai tipe makanan dari laut diambil dari daerah ini.

2. Lingkungan Oseanik
Telah disebutkan di depan bahwa lingkungan oseanik dibedakan menjadi zona eufotik, dysfotik, dan afotik. Berdasarkan kedalamannya dari permukaan laut, lingkungan eufotik oseanik setara dengan lingkungan neritik. Meskipun demikian, terdapat perbedaan kondisi lingkungan diantara keduanya yang disebabkan oleh perbedaan kedekatan fisiknya dengan daratan. Berbeda dengan lingkungan neritik, salinitas di lingkungan eufotik oseanik relatif konstan, temperatur turun sesuai kedalaman dan perubahan temperatur terbesar terjadi pada kedalaman sekitar 100 meter – di daerah termoklin. Temperatur air permukaan bervariasi sesuai dengan posisi lintang. Nutrien biasanya rendah di perairan permukaan dan meningkat sesuai dengan kedalaman. Secara biologis, zona eufotik oseanik memiliki produktifitas rendah dibandingkan zona neritik.

Zona disfotik adalah zona dengan penetrasi sinar matahari kurang dari 1%. Hanya sedikit sinar biru yang masuk ke dalam zona ini. Batas bawah zona ini adalah daerah dengan oksigen minimum dan sinar matahari nol persen. Di dalam zona ini bakteri mengurai fitoplankton dan zooplankton yang mati dan tenggelan ke dalam zona ini dari zona eufotik. Pengurai itu menghasilkan nutrien. Nutrien tersebut kemudian dibawa kembali ke dalam zona eufotik dengan mekanisme upwelling. Deep scattering layer (DSL) terdapat di dalam zona ini dengan ketebalan 50 sampai 200 meter. DSL bergerak ke arah permukaan pada malam hari dan turun lagi pada pagi hari, dan juga bergerak sedikit naik turun bila ada awan lewat di atasnya. Fenomena naik turunnya DSL terjadi karena hewan-hewan laut yang ada di dalam DSL naik ke atas untuk memakan plankton di malam hari dan kembali ke kedalaman di siang hari untuk menghindari predator (Ingmanson dan Wallace, 1985).

Zona afotik adalah zona bertemperatur sangat rendah, tekanan sangat tinggi, dan tanpa sinar. Zona ini meliputi zona batipelagis, abisalpelagis, dan hadal. Zona abisalpelagis adalah satu dari beberapa unit ekologi terbesar di dunia, karena tiga per empat dari volume total samudera terletak di dalam zona ini. Di dalam zona ini, densitas air naik sesuai dengan pertambahan kedalaman, dan stratifikasi air laut terjadi karena densitas. Sementara itu, temperatur turun dengan bertambahnya kedalaman. Temperatur di dasar laut sekitar 1,6oC.

LINGKUNGAN KHUSUS

1. Lingkungan Hidrotermal Laut Dalam
Lingkungan ekosistem lubang hidrotermal laut dalam (deep-sea hydrothermal-vent ecosystem) pertama kali ditemukan pada tahun 1977 ketika kapal selam Alvin dipakai untuk mempelajari lubang hidrotermal di Galapagos Rift di lingkungan laut dalam dengan kedalaman 2,5 km (Igmanson dan Wallace, 1985). Lingkungan ini sangat kaya secara biologis. Temperatur di dekat lubang mencapai 400oC, tekanan tinggi, dan air bersifat asam dengan pH mencapai 2,8. Perairan banyak mengandung methan dan sulfur.
Karakteristik Lingkungan Laut : Lingkungan Bentik, Lingkungan Pelagik, Lingkungan Hidrotermal laut Dalam dan Estuari
Lingkungan Hidrotermal Laut Dalam dimanifestasikan oleh keberadaan Black Smoker dan atau White Smoker.
Secara biologis, lingkungan ini sangat produktif, tetapi produser primer fotosintesis tidak ditemui. Produktifitas yang tinggi terjadi karena aktifitas bakteri autotrophic (chemosynthetic). Bakteri tersebut mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi sulfur dan menggunakan energi kimia untuk mensintesa protein, karbohidarat dan lemak.

2. Estuari
Estuari atau mulut sungai adalah lingkungan transisi di antara sungai dan laut. Kondisi fisik lingkungan ini, seperti bentuk, panjang, lebar dan dalamnya, sangat ditentukan oleh sejarah geologi estuari tersebut. Secara fisik, konfigurasi lingkungan estuari menyerupai sebuah teluk.

Di dalam estuari terjadi pertemuan antara air tawar dari aliran sungai dan air laut. Fenomena itu membuat salinitas air di dalam estuari sangat bervariasi, mulai dari salinitas air laut sampai kurang dari 5% di tempat masuknya air sungai. Pola penyebaran salinitas di dalam estuari sangat rumit. Hal itu karena  dalam estuari terjadi pola arus yang sangat kompleks sebagai hasil dari interaksi antara pasang surut, aliran air sungai, rembesan air tawar, dan efek Coriolis.

Nutrien banyak masuk ke dalam estuari dari daratan melalui aliran sungai. Suplai nutrien yang banyak dan ditambah sinar matahari membuat lingkungan estuari sangat subur.
Daftar Pustaka :
1) Ingmanson, D. E. and Wallace, W. J., 1985. Oceanography: an introduction, 3rd ed., Wadsworth Publishing Company, Belmont, California, 530 p. 
2) McConnaughey, B. H., 1974. Introduction to Marine Biology, 2nd ed., The C.V. Mosby Company, Saint Louis, 544 p.
3) Nybakken, J. W., 1993. Marine Biology: an ecological approach, 3rd ed., HarperCollins College Publisher, New York, 462 p.
4) Ross, D. A., 1977. Introduction to Oceanography, Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey, 437 p.
5) Weber, H. H. and Thruman, H. V., 1991. Marine Biology, 2nd ed., HarperCollins Publisher Inc., New York, 424 p.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Karakteristik Lingkungan Laut : Lingkungan Bentik, Lingkungan Pelagik, Lingkungan Hidrotermal Laut Dalam dan Estuari"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D