203 Tahun Tambora Menyapa Dunia


Ditulis Oleh : Ahmad Faisal Amin

"Terhalangnya sinar matahari membuat suhu global turun berkisar 0.4-0.7 derajat celcius hingga menyebabkan gangguan musim yang kemudian terkenal dengan sebutan "Year Without Summer".

203 Tahun Tambora Menyapa Dunia

5 April 1815, suara mirip dentuman meriam terdengar seantero Jawa. Sir Stanford Raffless, Gubernur Hindia Belanda saat itu menyiagakan pasukan dan melakukan long march dari Jogjakarta untuk mengantisipasi adanya serangan dari kaum pejuang. Kemudian hari diketahuilah suara tersebut berasal dari sebuah gunung yang terletak 1200km di sisi timur kota Jogjakarta. Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa sedang memulai sebuah fase pendahuluan dari sebuah erupsi yang kelak akan mengubah peta sejarah dan politik dunia. Tak ada yang menyangka bahwa gunung api yang sekian ribu tahun hanya diam kelak akan mengejutkan dunia dengan dentuman maha dahsyatnya, meski berbulan bulan sebelumnya masyarakat yang berada di sekitar gunung telah merasakan gejolak yang terjadi dari dalam perut gunung api tersebut. 

10 April 1815, setelah 5 hari fase erupsi "kecil", Tambora mengalami fase puncak dengan memuntahkan kolom erupsi mencapai 25 km. Kolom berisi batu dan abu yang berpijar kemudian menghujani wilayah sekitarnya. Gerombolan awan panas meluncur dari puncak menyapu permukiman penduduk di sekitarnya. Masyarakat di tiga kerajaan (Tambora,  Sanggar,  dan Pekat) tak kuasa menghindar dan terkubur hidup-hidup hingga dua kerajaan di antaranya (Tambora dan Pekat) tersapu dari peradaban.
203 Tahun Tambora Menyapa Dunia

Setelah erupsi berangsur menurun dan reda, bencana tak kunjung usai. Hamburan debu volkanik yang masuk ke lapisan atas atmosfer membuat sinar matahari terblokir menyebabkan gangguan iklim ekstrim di berbagai belahan bumi. Gagal panen terjadi di sebagian wilayah Eropa dan Amerika, menyebabkan harga pangan meroket dan wabah kolera menyebar di berbagai wilayah.

Hujan ekstrim kemudian membuat pasukan Prancis yang dipimpin sosok paling ditakuti, Napoleon Bonaparte, kehabisan logistik dan kelelahan sehingga dengan mudah dipukul mundur oleh pasukan koalisi kerajaan Prusia di Waterloo, Belgia, Juni 1815.

Mahalnya bahan pangan juga mendorong naiknya harga kuda yang dipakai untuk transportasi utama di Amerika, mendorong penemuan sepeda sebagai pengganti kereta kuda. 

Terhalangnya sinar matahari membuat suhu global turun berkisar 0.4-0.7 derajat celcius hingga menyebabkan gangguan musim yang kemudian terkenal dengan sebutan "Year Without Summer". 

Erupsi Tambora 1815 tercatat sebagai erupsi gunung api Terbesar sepanjang sejarah manusia (skala 7 VEI) dengan total energi 800 megaton TNT (setara 4000 bom atom Hiroshima) menghasilkan kaldera dengan diameter 15 km dan melontarkan 1/3 tubuh gunung ke angkasa (ketinggian saat ini 2700 mdpl, awal 4.300 mdpl). Korban jiwa diperkirakan mencapai 100ribu (beberapa menyatakan lebih dari 200 ribu jiwa). 

Tahun 2015, 200 tahun pasca erupsi megakolosal tersebut, Presiden Joko Widodo melakukan peresmian Festival Tambora Menyapa Dunia pertama dan tanggal 10 April diusulkan sebagai Hari Gunung Api Dunia (International Day of Volcanoes). 

Selamat menyongsong Hari Gunung Api Dunia!

203 Tahun Tambora Menyapa Dunia
Kawah Gunung Tambora

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "203 Tahun Tambora Menyapa Dunia"

Posting Komentar

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D