Pengertian Mineral, Klasifikasi Mineral dan Sifat-sifat Fisik Mineral : Warna, Kilap (luster), Kekerasan (hardness), Cerat (streak), Belahan (cleavage), Pecahan (fracture), Struktur/bentuk kristal, Berat Jenis, Sifat Dalam (tenacity), Kemagnetan.

Mineral adalah zat atau benda yang biasanya padat dan homogen dan hasil bentukan alam yang memiliki sifat-sifat fisik dan kimia tertentu serta umumnya berbentuk kristalin. Meskipun demikian ada beberapa bahan yang terjadi karena penguraian atau perubahan sisa-sisa tumbuhan dan hewan secara alamiah juga digolongkan ke dalam mineral, seperti batubara, minyak bumi, tanah diatome.
Beberapa contoh bentuk/struktur kristal (Klein & Hurlbut, 1993)
KIMIA MINERAL
Kimia mineral merupakan suatu ilmu yang dimunculkan pada awal abad ke-19, setelah dikemukakannya "hukum komposisi tetap" oleh Proust pada tahun 1799, teori atom Dalton pada tahun 1805, dan pengembangan metode analisis kimia kuantitatif yang akurat. Karena ilmu kimia mineral didasarkan pada pengetahuan tentang komposisi mineral, kemungkinan dan keterbatasan analisis kimia mineral harus diketahui dengan baik. Analisis kimia kuantitatif bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur yang menyusun suatu substansi dan menentukan jumlah relatif masing-masing unsur tersebut. Analisis harus lengkap —seluruh unsur-unsur yang ada pada mineral harus  ditentukan— dan harus tepat.
Komposisi kimia sebagian besar mineral yang diketahui, menunjukkan suatu kisaran tertentu mengenai penyusun dasarnya. Dalam analisis kimia, jumlah kandungan unsur dalam suatu senyawa dinyatakan dengan persen berat dan dalam analisis yang lengkap jumlah total persentase penyusunnya harus 100. Namun dalam prakteknya, akibat keterbatasan ketepatan, jumlah 100 merupakan suatu kebetulan; umumnya kisaran 99,5 sampai 100,5 sudah dianggap sebagai analisis yang baik. Prinsip-prinsip kimia yang berhubungan dengan kimia mineral.
1.    Hukum komposisi tetap
(The Law of Constant Composition) oleh Proust (1799):
"Perbandingan massa unsur-unsur dalam tiap senyawa adalah tetap"
2.    Teori atom Dalton (1805)
“Setiap unsur tersusun oleh partikel yang sangat kecil dan berbentuk seperti bola
yang disebut atom.”
a. Atom dari unsur yang sama bersifat sama sedangkan dari unsur yang berbeda bersifat berbeda pula.
b.   Atom dapat berikatan secara kimiawi menjadi molekul.
SIFAT-SIFAT FSIK MINERAL
Penentuan nama mineral dapat dilakukan dengan membandingkan sifat-sifat fisik mineral antara mineral yang satu dengan mineral yang lainnya. Sifat-sifat fisik mineral tersebut meliputi: warna, kilap (luster), kekerasan (hardness), cerat (streak), belahan (cleavage), pecahan (fracture), struktur/bentuk kristal, berat jenis, sifat dalam (tenacity), dan kemagnetan.
1. Warna adalah kesan mineral jika terkena cahaya. Warna mineral dapat dibedakan menjadi dua, yaitu idiokromatik, bila warna mineral selalu tetap, umumnya dijumpai pada mineral-mineral yang tidak tembus cahaya (opak), seperti galena, magnetit, pirit; dan alokromatik, bila warna mineral tidak tetap, tergantung dari material pengotornya. Umumnya terdapat pada mineral-mineral yang tembus cahaya, seperti kuarsa, kalsit. 
2. Kilap adalah kesan mineral akibat pantulan cahaya yang dikenakan padanya. Kilap dibedakan menjadi dua, yaitu kilap logam dan kilap bukan-logam. Kilap logam memberikan kesan seperti logam bila terkena cahaya. Kilap ini biasanya dijumpai pada mineral-mineral yang mengandung logam atau mineral bijih, seperti emas, galena, pirit, kalkopirit. Kilap bukan-logam tidak memberikan kesan seperti logam jika terkena cahaya. Kilap jenis ini dapat dibedakan menjadi:
a.    Kilap kaca (vitreous luster)
memberikan kesan seperti kaca bila terkena cahaya, misalnya: kalsit, kuarsa, halit.
b.    Kilap intan (adamantine luster)
memberikan kesan cemerlang seperti intan, contohnya intan.
c.     Kilap sutera (silky luster)
memberikan kesan seperti sutera, umumnya terdapat pada mineral yang mempunyai struktur serat, seperti asbes, aktinolit, gipsum.
d.    Kilap damar (resinous luster)
memberikan kesan seperti damar, contohnya: sfalerit dan resin.
e.    Kilap mutiara (pearly luster)
memberikan kesan seperti mutiara atau seperti bagian dalam dari kulit kerang, misalnya talk, dolomit, muskovit, dan tremolit.
f.      Kilap lemak (greasy luster)
menyerupai lemak atau sabun, contonya talk, serpentin.
g.    Kilap tanah
kenampakannya buram seperti tanah, misalnya: kaolin, limonit, bentonit. 
3. Kekerasan adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Secara relatif sifat fisik ini ditentukan dengan menggunakan skala Mohs, yang dimulai dari skala 1 yang paling lunak hingga skala 10 untuk mineral yang paling keras. Skala Mohs tersebut meliputi:
(1) talk,
(2) gipsum,
(3) kalsit,
(4) fluorit,
(5) apatit,
(6) feldspar,
(7) kuarsa,
(8) topaz,
(9) korundum,
(10) intan.
Masing-masing mineral tersebut diatas dapat menggores minetral lain yang bernomor lebih kecil dan dapat digores oleh mineral dengan nomor yang lebih besar. Dengan kata lain skala Mohs adalah skala relatif. Dari segi kekerasan mutlak skala ini masih dapat dipakai sampai yang ke-9, artinya nomor 9 kira-kira 9 kali lebih keras dari nomor 1, tetapi nomor 10 adalah 42 kali lebih keras dari nomor 1.
Untuk pengukuran kekerasan ini, dapat digunakan alat-alat sederhana seperti kuku tangan, pisau baja, dll., seperti bisa dilihat pada tabel dibawah ini :
Alat penguji kekerasan. 
4. Cerat adalah warna mineral dalam bentuk bubuk. Cerat dapat sama atau berbeda dengan warna mineral. Umumnya warna cerat tetap. 
5. Belahan adalah kenampakan mineral berdasarkan kemampuannya membelah melalui bidang-bidang belahan yang rata dan licin. Bidang belahan umumnya sejajar dengan bidang tertentu dari mineral tersebut.
Belahan tiga arah pada gipsum yang dihasilkan dari fragmen  semirombohedral (Hibbard, 2002).
6. Pecahan adalah kemampuan mineral untuk pecah melalui bidang yang tidak rata dan tidak teratur. Pecahan dapat dibedakan menjadi:
a.    pecahan konkoidal
bila memperlihatkan gelombang yang melengkung di permukaan.
b.    pecahan berserat/fibrus
bila menunjukkan kenampakan seperti serat, contohnya asbes, augit.
c.     pecahan tidak rata
bila memperlihatkan permukaan yang tidak teratur dan kasar, misalnya pada garnet.
d.    pecahan rata
bila permukaannya rata dan cukup halus, contohnya: mineral lempung.
e.    pecahan runcing
bila permukaannya tidak teratur, kasar, dan ujungnya runcing-runcing, contohnya mineral kelompok logam murni.
f.     Tanah
bila kenampakannya seperti tanah, contohnya mineral lempung.
Pecahan konkoidal pada beril (Hibbard, 2002)
7.  Bentuk mineral dapat dikatakan kristalin, bila mineral tersebut mempunyai bidang kristal yang jelas dan disebut amorf, bila tidak mempunyai batas-batas kristal yang jelas. Mineral-mineral di alam jarang dijumpai dalam bentuk kristalin atau amorf yang ideal, karena kondisi pertumbuhannya yang biasanya terganggu oleh proses-proses yang lain. Struktur mineral dapat dibagi menjadi beberapa, yaitu:
a.    Granular atau butiran
terdiri atas butiran-butiran mineral yang mempunyai dimensi sama, isometrik.
b.    Struktur kolom
biasanya terdiri dari prisma yang panjang dan bentuknya ramping. Bila prisma tersebut memanjang dan halus, dikatakan mempunyai struktur fibrous atau berserat.
c.     Struktur lembaran atau lamelar
mempunyai kenampakan seperti lembaran, struktur ini dibedakan menjadi: tabular, konsentris, dan foliasi.
d.    Struktur imitasi
bila mineral menyerupai bentuk benda lain, seperti asikular, filiformis, membilah, dll. 
8.   Sifat dalam merupakan reaksi mineral terhadap gaya yang mengenainya, seperti penekanan, pemotongan, pembengkokan, pematahan, pemukulan atau penghancuran. Sifat dalam dapat dibagi menjadi:
a.    rapuh (brittle)
b.    dapat diiris (sectile)
c.     dapat dipintal (ductile)
d.    dapat ditempa (malleable)
e.    kenyal/lentur (elastic)
f.      fleksibel (flexible) 
9.   Kemagnetan merupakan salah satu sifat fisik mineral, selain kekerasan, sifat dalam, warna, ketembusan cahaya, dll. Berdasarkan bagaimana reaksi suatu mineral kalau dipapar medan magnet, mineral terbagi atas 3 jenis:
a.    Ferromagnetik
Mineral-mineral ferromagnetik akan ditarik sangat kuat jika medan magnet dari luar datang. Mineral-mineral ferromagnetik bahkan punya sifat kemagnetan yang permanen. Contoh:
ü Magnetit (Fe3O4)
ü Pyrrhotit (Fe1-xS)
ü Maghemite (Fe2O3, γ-Fe2O3)
ü Isovite ((Cr,Fe)23C6)
ü Chromferide (Fe3Cr1-x)
ü Symthite ((Fe,Ni)9S11 atau ((Fe,Ni)13S16)
ü Wilhelmramsayite (Cu3FeS3.2(H2O)
ü Batiferrite (Ba[Ti2Fe10]O19)
b.    Paramagnetik
Berbeda dengan mineral-mineral paramagnetik yang tertarik kuat dengan medan magnet, mineral-mineral paramagnetik akan tertarik medan magnet sementara saja. Mineral-mineral ini bersifat magnet hanya ketika ada medan magnet disekitarnya. Begitu medan magnet dari luar pergi, hilang sifat kemagnetannya. Contoh:
ü Hematit (Fe2O3)
ü Franklinite ((Zn,Fe2+)(Fe3+)2O4
ü Pirit (FeS2)
ü Kalkopirit (CuFeS2)
ü Olivin ((Mg,Fe)2SiO4)
ü Ilmenit (FeTiO3)
ü Piroksen ((Mg,Fe)SiO3)
ü Hornblende ((Ca,Na)2–3(Mg,Fe,Al)5(Al,Si)8O22(OH,F)2
ü Mineral mika (Biotit, Muskovit, Flogofit)
c.     Diamagnetik
Mineral yang tidak akan tertarik oleh medan magnet. Dalam bahasa sehari-hari, kita sering bilang benda-benda seperti air, udara, plastik, kertas sebagai benda “tanpa magnet”.  Sebenarnya, benda-benda diamagnetik sedikit menolak medan magnet. Yang termasuk mineral-mineral diamagnetik adalah mineral-mineral non-logam, seperti:
ü Sulfur (S)
ü Kuarsa (SiO2)
ü Halite (NaCl)
ü Calcite (CaCO3)
ü Ortoklas (KAlSi3O8)
ü Plagioklas ((Na,Ca)(Si,Al)4O8)
ü Talk(Mg3Si4O10(OH)2)
ü Gipsum (CaSO4·2H2O)
ü Intan (C)
KLASIFIKASI MINERAL
Sistematika atau klasifikasi mineral yang biasa digunakan adalah klasifikasi dari Dana, yang mendasarkan pada kemiripan komposisi kimia dan struktur kristalnya. Dana membagi mineral menjadi delapan golongan (Klein & Hurlbut, 1993), yaitu:
1.    Unsur murni (native element),
yang dicirikan oleh hanya memiliki satu unsur kimia, sifat dalam umumnya mudah ditempa dan/atau dapat dipintal, seperti emas, perak, tembaga, arsenik, bismuth, belerang, intan, dan grafit.
2.    Mineral sulfida atau sulfosalt,
merupakan kombinasi antara logam atau semi logam dengan belerang (S), misalnya galena (PbS), pirit (FeS2), proustit (Ag3AsS3), dll.
3.    Oksida dan hidroksida,
merupakan kombinasi antara oksigen atau hidroksil/air dengan satu atau lebih macam logam, misalnya magnetit (Fe3O4), goethit (FeO-OH).
4.    Haloid,
dicirikan oleh adanya dominasi dari ion halogenida yang elektronegatif, seperti Cl, Br, F, dan I. Contoh mineralnya: halit (NaCl), silvit (KCl), dan fluorit (CaF2).
5.    Nitrat, karbonat dan borat,
merupakan kombinasi antara logam/semi-logam dengan anion komplek, CO3 atau nitrat, NO3 atau borat (BO3). Contohnya: kalsit (CaCO3), niter (NaNO3), dan borak (Na2B4O5(OH)4·8H2O).
6.    Sulfat, kromat, molibdat, dan tungstat,
dicirikan oleh kombinasi logam dengan anion sulfat, kromat, molibdat, dan tungstat. Contohnya: barit (BaSO4), wolframit ((Fe,Mn)Wo4)
7.    Fosfat, arsenat, dan vanadat,
contohnya apatit (CaF(PO4)3), vanadinit (Pb5Cl(PO4)3)
8.    Silikat,
merupakan mineral yang jumlah meliputi 25% dari keseluruhan mineral yang dikenal atau 40% dari mineral yang umum dijumpai. Kelompok mineral ini mengandung ikatan antara Si dan O. Contohnya: kuarsa (SiO2), zeolit-Na(Na6[(AlO2)6(SiO2)30]·24H2O).
Daftar Pustaka :
Warmada, I Wayan. 2009. Pengantar Kristalografi dan Mineralogi. Unpublished.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian Mineral, Klasifikasi Mineral dan Sifat-sifat Fisik Mineral : Warna, Kilap (luster), Kekerasan (hardness), Cerat (streak), Belahan (cleavage), Pecahan (fracture), Struktur/bentuk kristal, Berat Jenis, Sifat Dalam (tenacity), Kemagnetan."

Posting Komentar

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D