Jenis-Jenis Alterasi Batuan dan Macam-macam Reaksi Kimia pada Alterasi Hidrotermal

Alterasi hidrothermal adalah pergantian mineralogi dan komposisi kimia yang terjadi ketika batuan berinteraksi dengan fluida hidrothermal (White, 1996). Alterasi terjadi sebagai proses kesetimbangan antara mineral-mineral batuan yang berinteraksi dan larutan fluida hidrothermal.

Alterasi umumnya terjadi bersama dengan terbentuknya pengisian rekahan-rekahan oleh urat-urat atau gangue. Jika kenampakan alterasi ini pada tubuh batuan memiliki pola keteraturan maka kita bisa membaginya menjadi suatu zona yang disebut zona alterasi. Hasil alterasi dinding batuan bergantung kepada beberapa faktor yaitu:
1.      Karakter dari batuan dinding
2.      Karakter dari fluida yang menginvansi
3.      Suhu dan tekanan ketika proses alterasi tersebut bekerja.
Jenis-Jenis Alterasi Batuan dan Macam-macam Reaksi Kimia pada Alterasi Hidrotermal
Foto kenampakan tipe batuan teralterasi di Endapan Beebyn. a. Basalt kaya magnetit. b. Banded Iron Formation (BIF) berselingan dengan endapan tipis kaya silika dan oksida besi. c. Gabbro masif. d. Batulanau terpotong oleh urat kaya klorit. e. Dolerit masif. f. Banded Iron Formation (BIF) berselingan dengan endapan tipis kaya silika dan oksida besi yang terlapukkan tergantikan oleh goethit dan hematit.

Selama proses alterasi terjadi terdapat beberapa jenis reaksi kimia yang terjadi yaitu :
a.   Hidrolisis; perpindahan molekul air dari fluida ke dalam mineral.

b.   Hidrasi-dehidrasi; perpindahan molekul air pada mineral ke dalam fluida.

c.   Metasomatisme alkali dan alkali tanah; merupakan reaksi aktif antara fluida dengan batuan dan mineral yang mengakibatkan terjadinya pengurangan atau penambahan unsur pada batuan dan mineral tersebut.

d.   Dekarbonasi; merupakan reaksi yang terjadi pada pusat area skarn, dimana mineral-mineral karbonat (kalsit atau dolomit) tergantikan oleh mineral-mineral silika dan mengalami kombinasi dengan komponen-komponennya.

e. Silisifikasi; merupakan penambahan mineral silika ke dalam batuan seperti penambahan mineral kalsedon, opal, atau jasper.

f.   Silisikasi; penggantian mineral-mineral pada batuan oleh mineral silika.

g.  Reduksi-oksidasi; merupakan reaksi penting yang berpengaruh terhadap kandungan ferri-ferrous iron, dan mineralogi sulfur dan ikatan lainnya. Reaksi ini juga berpengaruh pada sistem yang bereaksi dengan kandungan unsur vanadium, uranium, mangan dan pasangan-pasangan redoks lainnya.

h.  Reaksi-reaksi lainnya seperti karbonatisasi, desulfidasi, sulfidasi dan fluoridasi.


Terdapat berbagai macam pembagian dari jenis-jenis alterasi yang terjadi di batuan, pembagian ini didasari oleh asosiasi mineral-mineral ubahan yang terbentuk pada zona laterasi tersebut. Adapun pembagian alterasi menurut Guilbert (1986) berdasarkan pembagian oleh Meyer dan Hemley (1967) yaitu:

1. Potassik, dikenal juga dengan istilah alterasi biotit-ortoklas, ditemukan adanya kandungan K-silikat. Terdapat pembentukan K-feldspar bersama atau tanpa kandungan biotit dan serisit, umumnya disertai dengan sisa kandungan kalsium-garam dalam aksesoris mineral seperti anhydrit [CaSO4], apatit [(Ca,Mg,Fe)CO3], fluorit [CaF2], kalsit atau sideromagnesio kalsit, kalkopirit, molibdenit, pirit, magnetit, atau hematit. Pada alterasi ini ditemukan adanya penambahan kandungan potash seperti yang terdapat pada K-feldspar. Ditemukan adanya penggantian kandungan hornblenda atau klorit oleh biotit dan plagioklas K-Fledspar. 

2.  Propilitik, merupakan jenis alterasi yang terjadi dengan menghasilkan kehadiran mineral-mineral seperti epidot, klorit, dan karbonat yang menggantikan komposisi mineral plagioklas serta hornblenda-biotit (klorit, montmorilonit, dan epidot) pada batuan. Terkadang dijumpai adanya kehadiran K-felspar seperti albit. Terjadi juga proses metasomatisme pada kandungan alkali-alkali tanah atau proses peluluhan (leacing) yang tidak berpengaruh.

3.   Alterasi filik atau serisitik, merupakan alterasi yang didominasi oleh serisit pilosilikat, sebuah nama yang diberikan karena terdapatnya asosiasi dengan mineral-mineral mika berbutir halus seperti muskovit, hydromika, dan phengite. Semua mineral-mineral asli di batuan seperti feldspar, mika dan mineral mafik terubah menjadi mineral serisit dan kuarsa. Dijumpai kehadiran mineral aksesoris minor seperti pirit, klorit, leukoksen, rutil yang terbentuk dari titanium biotit, serta sphene dan mineral aksesoris lainnya. Terdapat tambahan mineral biotit atau biotit-klorit yang tidak dibarengi dengan kehadiran K-feldspar. Tipe alterasi tersebut dapat dijumpai dengan batuan asal seperti batuan andesit mafik pada sistem porfiri.

4.  Argilik, alterasi yang terdiri dari kumpulan mineral-mineral ubahan berupa kaolin yang berasal dari plagioklas dan montmorilonit yang berasal dari amfibol dan plagioklas. Terdapat K-fledspar yang tidak berpengaruh, terjadi peluluhan kandungan alkali-alkali tanah dalam jumlah yang besar. Alterasi ini terjadi pada suhu yang rendah dan rendah perbandingan rasio K+/H-.

5.  Argilik lanjut, menunjukkan adanya pebandingan rasio K+/H+ dan Na+/H+ yang rendah dan terbentuk pada kondisi asam yang tinggi dengan fluida yang kaya akan kandungan H+. Peluluhan yang kuat terhadap semua kandungan alkali terjadi. Pada suhu tinggi berkisar 300°C, terbentuk mineral-mineral pyrofilit, pyrofilit-andalusit, pada suhu yang lebih rendah akan terbentuk mineral kaolin atau dickit dalam jumlah banyak. Kuarsa melimpah dan alunit, topaz, zunyite, turmalin dan hidro-kloro-fluor-boro-aluminosilika lainnya juga terbentuk. Distribusi dari argilik lanjut kurang beraturan daripada tipe alterasi lainnya tetapi umum dijumpai pada daerah yang mengalami mineralisasi.

6.   Greisen hampir sama dengan argilik lanjut atau filik tetapi menunjukkan lebih banyak kandungan serisit atau muskovit dan tidak adanya kehadiran pyrofilit. Kuarsa, muskovit dan topaz mendominasi dengan turmalin, fluorit, rutil, kasiterit, wolframit dan magnetit sebagai mineral aksesoris umum.


7.   Skarn merupakan asosiasi dari kandungan silika yang kaya akan besi dan memiliki kandungan kalsium, alterasi ini mengandung amfibol, piroksen, garnet, epidot-zoisit, dan piroksenoid yang menggantikan batugamping atau dolomit. Umumnya terdapak kandungan silika, aluminium, besi dan magensium dalam jumlah yang melimpah.

Daftar Pustaka:
Guilbert, J., M., Charles F.P. Jr. 1986. The geology of ore deposits. Freeman, New York, 985pp.
White, Noel,1996, Hydrothermal alteration in porphyry copper system. Unpublished.
Duuring, P., Hageman, S. 2012. Leaching of silica bands and concentration of magnetite in Archean BIF by hypogene fluids: Beebyn Fe ore deposit, Yilgarn Craton, Western Australia. Miner Depocita. Springer-Verlag.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jenis-Jenis Alterasi Batuan dan Macam-macam Reaksi Kimia pada Alterasi Hidrotermal"

Posting Komentar

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D