Industri Hulu Migas Harus Berevolusi Menuju Era Baru Shale Gas/Oil


Ditulis Oleh : Muhamad Anzja Chabbani Ista'la

“Indonesia kaya sumber daya alam migas” itulah sebuah pernyataan yang banyak dibicarakan orang tetapi tidak melihat fakta dan bukti konkrit saat ini. Tak dapat dipungkiri, kelihatannya begitu banyak investor asing yang tertarik datang ke Indonesia, melanglang buana, mengeruk habis kekayaan migas negeri ini. Artinya Indonesia begitu kaya akan migas. Apa benar seperti itu?"

Industri hulu migas nyatanya adalah tulang punggung dalam penyediaan pasokan migas nasional. Eksplorasi menjadi kunci utama dalam penyediaan pasokan migas bagi Indonesia. Salah satu alternatif eksplorasi minyak bumi yang sangat potensial adalah shale gas/oil. Mungkinkah bahwa shale gas/oil di Indonesia dapat menjadi salah satu pilihan alternatif eksplorasi migas yang sangat menjanjikan – yang semakin gencar diwacanakan dalam dekade terakhir ini? Jawaban akan pertanyaan itu tidaklah mudah. Sekalipun muncul jawaban, akan banyak pertentangan menghinggapinya. Namun demikian, apabila kita cermati, peluang itu, besar atau kecil, jelas ada di depan mata.
Perselingan shale-sand Formasi Penosogan, Cekungan Serayu Utara. Lokasi Wadaslintang, Wonosobo, Jawa Tengah. Ilustrasi dari Dr. Sugeng Sapto Surjono (Sedimentologi-Struktur Sedimen Slide Teknik Geologi UGM)
Migas Non Konvensional (MNK) seperti shale gas/oil telah menjadi dalang yang menggeliatkan industri migas Amerika Serikat hingga bisa menjadi produsen minyak dan gas bumi terbesar di dunia, saat ini. Akankah Indonesia bisa melampauinya – di tengah produksi migas yang terus mengalami penurunan dan konsumsi migas yang terus beranjak naik, mengikuti setiap jengkal, jejak pertambahan kelahiran di tanah zamrud katulistiwa ini? Harga migas yang jatuh ke jurang dan berada pada harga keseimbangan US$ 50 per barel, membuat iklim investasi bak burung kehilangan sayapnya. Padahal jalan satu-satunya untuk meningkatkan cadangan migas tak lain dan tak bukan adalah eksplorasi sebesar-besarnya dan tentunya berhasil menemukan cadangan baru.

Melalui tulisan ini penulis mencoba untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi tentang peluang industri hulu migas dalam menangkap potensi shale gas/oil di Indonesia untuk meningkatkan jumlah cadangan migas di masa yang akan datang. Sebelumnya, perlu ada kesepakatan pemahaman bersama tentang perkembangan industri hulu migas.

Sekelumit Perkembangan Industri Hulu Migas

“Indonesia kaya sumber daya alam migas” itulah sebuah pernyataan yang banyak dibicarakan orang tetapi tidak melihat fakta dan bukti konkrit saat ini. Tak dapat dipungkiri, kelihatannya begitu banyak investor asing yang tertarik datang ke Indonesia, melanglang buana, mengeruk habis kekayaan migas negeri ini. Artinya Indonesia begitu kaya akan migas. Apa benar seperti itu? 

Faktanya, saat ini produksi minyak bumi Indonesia hanya berada pada kisaran 820 ribu barel per hari, bandingkan dengan kebutuhan minyak bumi setiap hari yang mencapai lebih dari 1,6 juta barel per hari, hampir dua kali lipatnya. Dari angka produksi minyak bumi tersebut, hanya 48 % yang masuk ke kilang domestik. Angka produksi minyak bumi ini akan terus menurun dari tahun ke tahun bila tidak ada penemuan cadangan baru, prediksi 10 tahun ke depan atau tahun 2026 produksi minyak bumi akan berada pada kisaran 328 barel per hari, berkurang hanya menjadi sepertiganya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan konsumsi minyak bumi yang akan naik 5,4 % per tahun seiring dengan perkembangan penduduk dan industri di Indonesia. Jelas, bila tidak ada penemuan cadangan baru, Indonesia akan mengalami defisit minyak bumi secara berkepanjangan. Fatal, bila itu terjadi, tentu akan menimbulkan lesunya perekonomian nasional akibat berkurangnya stok bahan bakar minyak, selain itu pendapatan negara dari sektor minyak bumi juga akan terus menurun, pembangunan tidak berjalan maksimal, dan tentunya ekonomi daerah-daerah penghasil minyak bumi akan terkena dampaknya.

Selanjutnya adalah produksi gas bumi. Produksi gas bumi Indonesia sendiri, saat ini hanya sekitar 6.440 mmscfd (million standard cubic feet per day). Produksi gas bumi di Indonesia memang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2027 yaitu sebesar 7.113 mmscfd dengan bertambahnya lapangan dan sumur gas bumi yang baru mulai akan beroperasi. Namun tetap saja, sama halnya dengan minyak bumi, dari waktu ke waktu produksinya akan turun apabila gairah eksplorasi tetap lesu seperti saat ini. Diperkirakan tahun 2030, 2040, dan 2050 produksi gas akan terus menurun, berada pada kisaran 5.492, 3.468, dan 2.759 mmscfd. Padahal prediksi tahun 2030 nanti kebutuhan gas bumi akan mencapai 5.500 mmscfd, tahun 2040 dan tahun 2050 kebutuhan akan gas bumi masing-masing mencapai 8.316 mmscfd dan 30.419 mmscfd. Sungguh ironi di negeri kaya sumber daya alam ini. Dalam kurun waktu 10 tahun mendatang bukan tidak mungkin, Indonesia juga akan mengalami defisit gas bumi. 

Tolak ukur kekayaan migas Indonesia tak lain adalah cadangan migas. Dibandingkan negara lain sebenarnya cadangan migas Indonesia amatlah kecil. Indonesia hanya menempati peringkat 22 dalam hal banyaknya cadangan minyak bumi di dunia. Bandingkan dengan Venezuela yang memiliki cadangan minyak bumi sebesar 298,3 thousand million barel atau 17,55 % dari cadangan minyak bumi dunia saat ini. Indonesia hanya memiliki cadangan minyak bumi sebesar 3,7 thousand million barel atau hanya 0,22 % dari cadangan minyak bumi di dunia. Begitu juga dengan gas bumi, cadangan Indonesia hanya 101,5 tscf atau 1,5 % dari cadangan gas bumi yang ada di dunia. Sangat kecil bukan.

Sadar atau tidak, sebenarnya masalahnya hanya satu, tidak ada kegiatan eksplorasi yang berkelanjutan dan tidak ada penemuan cadangan baru. Industri hulu migas harus berbenah dan berevolusi untuk memperbanyak eksplorasi migas dan menambah cadangan baru. Cadangan migas harus dimaknai sebagai penemuan baru migas yang sudah jelas terbukti dan dapat diangkat ke permukaan bumi. Apakah Indonesia masih memiliki potensi migas? Potensi migas Indonesia sesungguhnya masih cukup besar. Dalam hal ini, shale gas/oil menjadi potensi menjanjikan yang dapat memperkokoh cadangan minyak bumi negeri ini di masa yang akan datang. Selain itu, Indonesia memiliki 68 basin (cekungan) yang saat ini belum di eksplorasi, 18 basin yang sedang dieksplorasi pun masih memiliki potensi minyak bumi sebesar 44,9 miliar barel dan gas bumi 64,1 tscf yang jelas masih memerlukan pembuktian keberadaannya. Potensi shale gas sendiri mencapai 574 tscf. Potensi shale gas ini tentu sangat besar dibandingkan potensi migas konvensional yang tersisa. Brown Shale di Cekungan Sumatera misalnya, atau Formasi Klasafet di Cekungan Salawati, Papua, yang saat ini sedang menunggu untuk dieksplorasi shale gas dan shale oil-nya. Mau tidak mau, industri hulu migas harus mengikuti perkembangan teknologi masa kini yang telah berhasil memeras minyak dari batuan shale (batuan low permeability) yang dulu diabaikan dan ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan eksplorasi. Diperlukan riset yang mendalam tentang shale gas/oil terhadap cekungan-cekungan di Indonesia baik yang sudah berproduksi, sedang, maupun yang akan berproduksi. 

Demam Minyak Baru : Shale Gas/Oil

Istilah shale gas/oil dapat dipadankan dengan shale hydrocarbon. Secara singkat shale gas/oil adalah gas atau minyak bumi yang diproduksikan oleh batuan bernama shale atau serpih dimana batuan ini memiliki permeabilitas yang sangat kecil sehingga kandungan gas/minyak dalam batuan tertahan dan tidak bisa keluar tanpa perlakuan khusus dan tertentu. Sebenarnya pada saat eksplorasi shale gas/oil ini, pemboran ditargetkan pada batuan sumber (source rock) yang menghasilkan minyak bumi jauh di dalam cekungan. Namun, aturan di Indonesia sendiri, melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 5 Tahun 2012, shale gas/oil disini tidak harus source rock tetapi juga batuan shale gas/oil yang berperan sebagai reservoar atau berada di dalam suatu “wadah” berupa pori-pori batuan seperti pada migas konvensional. Teknologi pemboran baru yang berkembang saat ini telah mampu untuk mengebor dengan lebih dalam dan mampu “memecahkan” batuan serpih yang ada di dalam bumi sehingga minyak atau gas bumi dapat keluar dari dalam pori-pori batuan. Teknologi tersebut adalah hydraulic fracturing (perekahan hidrolik) yang memiliki tiga langkah dasar dalam pengoperasiannya.

Tiga langkah dasar dalam perekahan hidrolik tujuan utamyanya, sebenarnya adalah proses memompa cairan dengan tekanan tinggi ke dalam batuan jauh di dalam bumi. Secara sederhana, langkah pertama adalah pengeboran vertikal ke dalam bumi, selanjutnya dilakukan pengeboran menikung dan horizontal ketika telah mencapai batuan target, dalam hal ini batuan serpih. Langkah kedua adalah casing atau penyemenan dinding sumur. Semen dan pipa selubung baja dimasukkan untuk mencegah rembesan dari sumur ke air tanah. Langkah terakhir adalah perekahan batuan dan mengalirkan cairan. Perekahan batuan ditujukan untuk mengekstraksi minyak dan gas bumi yang terkandung di dalamnya. Cairan dipompa ke dalam, minyak dan gas mengalir keluar. 

Sumur minyak Iverson, salah satu sumur shale hydrocarbon di North Dakota, Amerika Serikat, menembus hingga kedalaman 3.200 meter untuk merekah batu serpih (shale) yang disebut sebagai Formasi Bakken. Sejak tahun 2006, produksi dari formasi tersebut meningkat hampir 150 kali lipat setelah masuknya teknologi fracking (perekahan). Daerah itu menghasilkan 660.000 barel minyak setiap hari, kedua terbesar setelah Texas. Bak drama di siang bolong, hal itu menciptakan adegan pertama industri hulu migas di dunia, membuat negara OPEC terperanga dan tentunya menghasilkan pertumbuhan pesat bagi Amerika Serikat. Bagaimana dengan perkembangan shale gas/oil di Indonesia? Nampaknya Indonesia dalam hal ini industri hulu migas harus mulai kembali berbenah dan memulai investasi shale gas/oil, mulai saat ini juga.

Investasi dan Eksplorasi Shale Gas/Oil : Bukan Mustahil

Apa mungkin Indonesia dapat beralih dari konvensional migas menuju non-konvensional migas seperti shale gas/oil? Sudah barang tentu bukan mustahil bila Indonesia akan menuju kesana. Investasi shale gas/oil secara langsung maupun tidak langsung akan menciptakan transfer teknologi fracking ke Indonesia, terutama oleh perusahaan multinasional. Teknologi fracking bisa dibilang memang sangat menakjubkan. Teknologi perekahan sendiri belum ada di Indonesia. Bila pemerintah dalam hal ini diwakili oleh SKK Migas bisa mendorong dan memicu investasi shale gas/oil, tentu hal ini akan memicu pula perkembangan dalam hal teknologi dan juga di bidang akademik untuk melakukan pengembangan teknologi perekahan (fracking). 

Pergerakan ekonomi dan pasar seharusnya akan memaksa industri hulu migas untuk cenderung memilih mengeksploitasi cadangan yang lebih sulit digali, meskipun lebih mahal dari cara konvensional. Penemuan teknologi perekahan ini tentu bisa menampik pandangan para pakar energi tentang habisnya bahan bakar fosil dan sekaligus meyakinkan bahwa ekonomi berbasis karbon akan dapat bertahan lebih lama dari yang dibayangkan sebelumnya. 

Peraturan Menteri ESDM Nomor 5 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penetapan dan Penawaran Wilayah Kerja Migas Non Konvensional yang berlaku mulai 31 Januari 2012, sebenarnya sudah cukup membantu para investor untuk bisa mengembangkan shale gas/oil di Indonesia. Namun, masih ada kekurangan yang harus segera ditutup. Misalnya saja mengenai aturan wilayah kerja (WK) yang masih memungkinkan adanya tumpang tindih dengan ijin pertambangan non-migas. Para pengambil kebijakan publik terutama yang berhubungan dengan migas dan sektor strategis lainnya, seharusnya bisa saling bersinergi dalam menciptakan aturan yang baku. Hilangkan rasa ego dalam mengambil kebijakan. Tentu tumpang tindih WK ini menjadi masalah bagi para investor yang akan menanamkan modalnya di Indonesia. 

Terobosan dan kemudahan dalam hal perijinan pengajuan WK Migas untuk shale oil/gas juga bisa dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada para investor yang sudah ada untuk melakukan riset shale oil/gas di dalam kontrak migas konvensional yang sedang mereka kerjakan. Misalnya saja dengan membuka kembali sumur-sumur migas konvensional lama yang telah selesai berproduksi untuk kembali dikaji ulang apakah terdapat potensi shale gas/oil. Dapat juga dilakukan pendalaman sumur terhadap sumur migas yang telah ada untuk dikaji dan diteliti sehingga akan lebih hemat biaya dan lebih efisien biaya untuk eksplorasi shale gas/oil ini. Bagi investor baru yang akan membuka wilayah kerja (WK) baru tentunya harus mengikuti peraturan menteri yang baru yang mengatur tentang migas non konvensional ini. Dengan kemudahan-kemudahan tersebut tentunya iklim investasi dan eksplorasi shale gas/oil dapat dengan mudah berkembang dibandingkan bila harus melakukan ijin investasi yang baru. Dengan terbitnya peraturan menteri tersebut memang, hingga akhir tahun 2015, sudah ada 5 Wilayah Kerja (WK) yang berkutat pada shale gas/oil di Indonesia. Namun hasilnya memang belum signifikan. Oleh karena itu, investasi dan eksplorasi shale gas/oil ini harus makin “digenjot”.

Eksplorasi shale gas/oil juga akan berjalan dengan baik apabila didorong dengan pengembangan bahan baku berskala besar seperti kebutuhan material konstruksi, peralatan pemboran dan mesin yang memadai. Untuk sekelas negara berkembang dengan konsumsi minyak bumi yang jauh lebih tinggi dari produksinya, shale gas/oil adalah sebuah kesempatan besar untuk mengelak dari defisit minyak dan gas bumi di kemudian hari. Bisnis minyak bumi memang bisa diibaratkan sebagai bisnis persewaan yang tidak akan menetap di satu tempat. Anjungan pengeboran terus berpindah dan pada suatu saat minyak akan berhenti keluar dari sebuah lubang sumur. Ketika industri hulu migas di suatu tempat berakhir, maka akan berakhir untuk selamanya dan menghilang begitu saja. Itulah mengapa, pengembangan non- konvensional migas seperti shale gas/oil menjadi sangat berarti untuk mempertahankan ekonomi suatu daerah, terutama daerah-daerah potensial migas dan daerah yang telah sukses sebagai penghasil minyak dan gas bumi itu sendiri.

Prioritas penting bagi pemerintah untuk mendorong pengembangan shale gas/oil ini antara lain pemerintah harus bisa membangun iklim usaha perminyakan bagi investor yang mampu meningkatkan aktifitas eksplorasi dan produksi migas di berbagai potensi cekungan migas di Indonesia, salah satunya adalah dengan pemberian insentif. Mengapa insentif ini perlu? Insentif ini menjadi penting karena migas non- konvensional seperti shale gas/oil memiliki potensi yang besar namun juga risiko yang besar. Insentif juga akan mendorong para investor untuk tertarik dan giat dalam kegiatan eksplorasi shale gas/oil ini. 

Mengembangkan penelitian geologi di terutama di lapangan-lapangan frontier juga amatlah penting. Pengalaman berkata bahwa lapangan-lapangan migas di Indonesia Timur memiliki rasio keberhasilan yang rendah dan keekonomian yang rendah karena lokasinya yang berada di laut dalam (deepwater). Bisa saja dengan adanya teknologi baru, yang memungkinkan shale gas/oil ini dieksplorasi langsung ke batuan sumbernya, lapangan-lapangan frontier pada akhirnya dapat menghasilkan migas dengan keekonomian tinggi karena langsung dibor menuju sumbernya, bukan lagi wadahnya. Mencari batuan sumber tentu relatif lebih mudah dibandingkan “wadah”-nya karena dimensinya yang jauh lebih besar. Meningkatkan berbagai penelitian shale gas/oil melalui peran aktif pendidikan tinggi ilmu kebumian, asosiasi, Lemigas, BPPT, dan Badan Geologi secara bersama-sama tentu juga akan menciptakan revolusi industri hulu migas (eksplorasi dan eksploitasi) yang semakin baik kedepannya.

Dilema Dibalik Pengembangan Shale Gas/Oil

Mengapa shale gas/oil sulit berkembang di Indonesia? Perubahan ruang lingkup industrialisasi migas yang tumbuh pesat tentu akan memunculkan banyak pertanyaan. Risiko terbesar dalam pengembangan shale gas/oil adalah kerusakan lingkungan hidup. Fokus pada teknologi hydraulic fracturing, dalam proses tersebut air tawar dan bahan kimia beracun didorong dengan tekanan tinggi hingga memenuhi lapisan batuan serpih yang telah direkahkan. Akibatnya, bisa saja cairan tersebut masuk ke sistem air tanah melalui rekahan yang saling terkoneksi dan mencemari air tanah yang dikonsumsi masyarakat. Tentu hal ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup masyarakat di sekitar wilayah eksplorasi dan eksploitasi shale gas/oil.

Apabila berpikir mundur sejenak, untuk mendapatkan sudut pandang yang lebih luas, apakah pengembangan energi fosil dalam hal ini shale gas/oil ini layak untuk dipertahankan dan dikembangan? Dalam menghadapi pembangunan yang sangat cepat, suka tidak suka, untuk memenuhi kebutuhan energi secepat mungkin, shale gas/oil adalah solusi terbaik untuk saat ini. Indonesia sebagai negara berkembang memang masih membutuhkan kebijakan energi fosil berdasarkan kelimpahan. Eksplorasi dan penemuan cadangan baru migas harus terus ada, yang amat penting cadangan migas Indonesia harus meningkat terlebih dahulu untuk menghadapi defisit energi di masa yang akan datang. Pertaruhannya nampak jelas, energi terbarukan tidak akan berkembang pesat selama energi fosil masih melimpah. Isu perubahan iklim juga menjadi dilema tersendiri di ladang minyak zamrud katulistiwa ini. 

Shale Gas/Oil : Solusi Terbaik untuk Indonesia yang Lebih baik

Di Williston, di jantung ladang minyak, sebuah kota kecil di Amerika Serikat jumlah pengangguran kurang dari satu persen. Industri hulu migas memang menjadi kesempatan besar di banyak negara di dunia untuk menambah banyak lapangan pekerjaan. Bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih, tentu akan menempati posisi-posisi yang strategis dalam industri hulu migas. Industri hulu migas juga memegang peranan penting dalam menciptakan kehidupan perekonomian di pedalaman. Desa di pedalaman dapat hidup dan maju, jalan kerbau tersulap menjadi jalan yang yang dapat dilewati roda empat. Misalnya saja jalan menuju lapangan minyak MB 2 di Desa Sedari, Karawang, Jawa Barat milik Pertamina Hulu Energi ONWJ. Dulu masyarakat sangat sulit mendapatkan akses jalan yang memadai, hanya bisa dilewati kendaraan roda dua, kini jalanan telah dibangun lebih lebar dan tentu jauh lebih bagus. Beberapa program lain melalui community development juga telah dilaksanakan, akses air bersih dan kesehatan menjadi semakin mudah dengan dibangunnya pengolahan reverse osmosis untuk penyediaan air bersih dan PUSTU (Puskesmas Pembantu) untuk sarana kesehatan. Industri hulu migas memang tidak pernah melupakan pengembangan daerah sekitar wilayah operasinya, di luar kerjasama bagi hasil dengan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pengembangan shale oil/gas di wilayah-wilayah baru tentu akan menciptakan kondisi yang serupa. Masyarakat akan jauh berkembang, meskipun pada awalnya terjadi penolakan, hampir-hampir, pada akhirnya semua masyarakat akan merasakan banyak manfaatnya setelah industri hulu migas di daerahnya berkembang.

Beberapa media, baik asing maupun nasional sering melebih-lebihkan sisi negatif dari permasalahan pengembangan shale gas/oil ini. Yang perlu dipikirkan, sebenarnya adalah manfaat yang diperoleh, pada akhirnya akan jauh lebih besar dari pengorbanan yang harus dibayar. Berbagai masalah yang mungkin timbul harus dilihat bahwa itu adalah bagian dari evolusi industri hulu migas yang harus diterima dan bila memungkinkan dicarikan solusi yang lebih baik. Kehadiran industri hulu migas dalam banyak kasus telah menciptakan banyak perumahan-perumahan baru, sekolah-sekolah baru, pusat rekreasi baru, pembangunan sarana-sarana umum, perbaikan dan pelebaran jalan, dan tentunya pembangunan jalan baru untuk akses menuju lapangan-lapangan migas yang secara langsung dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menjalankan roda perekonomiannya dari skala yang paling kecil.

Tak seorangpun dalam industri hulu migas yang dapat meramalkan dengan tepat jumlah produksi migas di masa yang akan datang. Bila eksplorasi shale gas/oil bisa terus berjalan, bukan tidak mungkin produksi minyak harian Indonesia akan melebihi kebutuhan konsumsinya. Implikasinya tentu akan menggema dan mewarnai perekonomian negeri ini. Realisasi penerimaan negara tahun 2015 hingga awal tahun 2016 dari sektor migas mencapai US$ 11,9 Miliar. Sudah jelas bahwa industri hulu migas telah menciptakan multiplier effect dari segala sisi kehidupan. Cadangan devisa dan penghasilan dari sektor migas meningkat, perekonomian berjalan dengan baik, pembangunan tak akan terkendala biaya, pendidikan dan teknologi juga akan berkembang pesat. 

Jika pertumbuhan industri minyak di Indonesia dapat berkembang pesat melalui shale gas/oil ini, bila diibaratkan sebuah drama klasik, adegan kedua baru saja akan dimulai. Indonesia akan bertahan kuat menghadapi kebutuhan energi minyak dan gas bumi di masa mendatang. Bukan hanya bualan atau mimpi panjang, menjadi negara penghasil minyak dan gas bumi terbesar di dunia adalah suatu harapan yang bisa diwujudkan.

Daftar Pustaka :
1) Bria,Emanuel, Patrick R. P. Heller, Thomas Lassourd, Erica Westenberg, Max George-Wagner and Andrew Bauer. 2016. Indonesia’s Oil and Gas Legislation: Critical Issues. Natural Resources Governance Institute.
2) Marcel, Valérie. 2016. Guidelines for Good Governance in Emerging Oil and Gas Producers 2016. Energy, Environment and Resources Department. Chatham House, The Royal Institute of International Affairs.
3) Pertamina. 2015. Laporan Tahunan 2015 Pertamina. Jakarta. Dapat diakses melalui:
http://www.pertamina.com/media/62882c58-2b0b-49ad-a157-ef7cc8d26cbb/AR_2015_Pertamina .pdf 
4) SKK Migas. 2015. Laporan Tahunan 2015. Jakarta. Dapat diakses melalui: 
http://www.skkmigas.go.id/wp-content/uploads/2013/06/LAPORAN-TAHUNAN-SKK-MIGAS-2015.pdf

Catatan : Artikel merupakan Juara 2 Esai SKK Migas Student Writing Competition 2016. 






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Industri Hulu Migas Harus Berevolusi Menuju Era Baru Shale Gas/Oil"

Posting Komentar

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D