Atmosfer Bumi : An Introduction

         Atmosfer bisa dibayangkan sebagai sebuah selimut udara yang membungkus Bumi. Secara langsung maupun tidak langsung, keberadaan atmosfer Bumi dapat kita lihat maupun kita rasakan dan tentunya mempengaruhi kehidupan kita. Udara sudah menemani kita sejak kita lahir bukan? Pada wilayah udara terbuka, kita bisa melakukan perjalanan dengan arah  lurus berkilo-kilometer jauhnya, berbeda bila perjalanan kita lakukan di daratan, tentu harus melewati berbagai halangan dan mau tidak mau harus berkelak-kelok. Mungkin kita bisa selamat tanpa makanan selama beberapa minggu, atau tanpa air dalam beberapa hari, tetapi, tanpa atmosfer , kita tak akan bisa selamat bahkan dalam hitungan menit atau detik. Layaknya ikan yang harus hidup di dalam air, kita sebagai manusia juga sangat membutuhkan udara untuk menunjang kehidupan. Kemanapun kita pergi, udara harus ikut bersama kita. Tak terkecuali bila kita ingin pergi ke luar angkasa.
Bumi tanpa atmosfer maka tidak akan pernah ada danau atau lautan. Tidak akan pernah ada suara, tidak ada awan, dan tidak ada sunset berwarna merah. Semua keindahan langit tidak akan pernah kita saksikan. Suhu udara akan sangat dingin di malam hari dan menjadi sangat panas di siang hari. Tak akan ada kehidupan di Bumi. Tinggal di permukaan Bumi, kita telah beradaptasi terhadap segala hal yang alam berikan kepada kita, dan terkadang kita lupa bahwa ada benda yang begitu penting sehingga kita tak akan bisa hidup tanpanya, udara.
Meskipun udara bersifat tidak berasa, tidak berbau, tidak bisa dilihat, tetapi ia mampu untuk melindungi kita dari sinar ultraviolet dan sinar yang lain yang dipancarkan oleh matahari dan tentunya menyediakan kita campuran udara yang dapat menyediakan segala macam jenis udara, penunjang kehidupan di Bumi. Karena kita tidak bisa melihat, membau, atau merasakan udara, adalah suatu hal yang mengagumkan bahwa antara mata kita dan halaman website yang kita baca ini saja terdapat jutaan trilion molekul udara. Bisa jadi molekul udara di depan kita ini kemarin baru saja singgah di awan, atau berada di benua lain minggu lalu, atau mungkin bagian dari sisa udara pernafasan manusia yang hidup ratusan tahun lalu.
Pemanasan planet Bumi kita utamanya disediakan oleh energi yang berasal dari matahari. Jarak rata-rata dari matahari adalah 150 juta kilometer atau 93 juta mil, Bumi hanya menerima sebagian kecil dari total energi yang dikeluarkan matahari. Meskipun terbilang kecil, namun energi radian yang diterima Bumi sudah sangat cukup untuk menjadi pendorong atmosfer bumi merubah arah angin ataupun cuaca setiap harinya, dan tentunya mengijinkan kehidupan bertahan di bumi.
Di permukaan, Bumi mempertahankan temperatur rata-rata sebesar 15oC (59oF). Meskipun demikian, temperatur Bumi sebenarnya sangat bervariasi, temperaturnya bisa turun hingga -85oC (-121oF) selama malam hari di daerah Antartika dan bisa mencapai 50oC (122oF) di daerah gurun wilayah subtropis.

Kondisi Atmosfer Bumi Pertama Kali Terbentuk
            Atmosfer yang menyelubungi Bumi ketika pertama kali terbentuk sangat berbeda dengan atmosfer Bumi dengan kandungan udaranya yang kita hirup sekarang. Atmosfer Bumi pertama kali (kurang lebih 4,6 miliar tahun lalu) lebih banyak mengandung hidrogen dan helium – dua komponen gas utama yang ditemukan di alam semesta – dalam bentuk molekul hidrogen lain diantaranya gas metana dan amonia. Banyak peneliti mengatakan bahwa kandungan kedua gas tersebut keluar dari atmosfer Bumi karena temperatur permukaan Bumi yang masih sangat panas pada saat itu. Yang kedua, atmosfer saat itu semakin bertambah densitasnya, diakibatkan oleh gas-gas yang keluar dari pembekuan magma di dalam tubuh gunung api dan saluran-saluran magma. Diasumsikan bahwa gunung api saat itu mengeluarkan gas-gas yang komposisinya sama dengan gas yang dikeluarkan gunung api saat ini, dimana 80% diantaranya adalah uap air, 10% karbondioksida, dan sisanya adalah nitrogen. Gas-gas seperti uap air dan karbondioksida kemungkinan telah membentuk atmosfer bumi yang kedua.
Atmosfer Bumi : An Introduction
Erupsi gunung api dapat mengirim ratusan ton partikel ke atmosfer Bumi, termasuk karbondioksida, uap air, dan sulfur dioksida (C. Donald Ahrens).
            Setelah beberapa juta tahun kemudian, pengeluaran gas dari dalam Bumi yang terus menerus – disebut juga peristiwa outgassing – menyediakan uap air yang sangat melimpah, yang kemudian membentuk awan. Hujan yang kemudian turun di Bumi selama ribuan tahun, menciptakan sungai, danau, dan samudera di Bumi. Sepanjang waktu tersebut, CO2 dalam jumlah yang banyak terdisolusi di lautan. Melalui proses kimia dan biologi, banyak dari CO2 kemudian terperangkap pada batuan sedimen karbonat seperti batugamping (limestone). Dengan semakin bertambahnya uap air yang mengalami kondensasi dan kondisi CO2 yang menurun di atmosfer, secara gradual nitrogen (N2)menjadi melimpah komposisinya di atmosfer dibandingkan gas yang lainnya, karena sifatnya yang tidak mudah bereaksi dengan unsur yang lain.
            Kemunculan oksigen (O2), gas dengan kelimpahan terbesar kedua saat ini, kemungkinan diawali oleh penambahan konsentrasi secara lambat akibat adanya pemecahan uap air (H2O) oleh energi yang berasal dari sinar matahari, menjadi komponen hidrogen dan oksigen. Hidrogen adalah gas yang ringan sehingga keluar dari atmosfer Bumi, sedangkan oksigen bertahan di atmosfer Bumi. Pertambahan oksigen secara lambat ini, bisa jadi menyediakan kebutuhan gas selama evolusi tanaman primitif saat itu, sekitar 2 sampai 3 miliar tahun yang lalu. Atau bisa jadi tumbuhan juga dapat berevolusi dalam kondisi lingkungan tanpa oksigen (anaerob). Secara signifikan, keberadaan tanaman yang tumbuh semakin banyak menambah oksigen di Bumi dalam jumlah yang besar. Pengkayaan oksigen atmosfer Bumi terjadi karena tanaman membutuhkan karbondioksida dan air untuk proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari. Sehingga, secara perbandingan, jumlah oksigen menjadi lebih melimpah dari jumlah karbondioksida dan air. Penambahan oksigen dengan sangat cepat di atmosfer Bumi baru terjadi beberapa ratus juta tahun yang lalu seiring dengan evolusi tumbuhan di Bumi.

Daftar Pustaka :
Ahrens, C.D. Essential of Meteorology. An Invitation to the Atmosphere. Third Edition. 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Atmosfer Bumi : An Introduction"

Posting Komentar

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D