Geologi Regional Zona Kendeng

Berdasarkan morfologi tektonik (litologi dan pola struktur), maka wilayah Jawa bagian timur (meliputi Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur) dapat dibagi mejadi beberapa zona fisografis (van Bemmelen, 1949) yakni : Zona Pegunungan Selatan, Zona Solo atau Depresi Solo, Zona Kendeng, Depresi Randublatung, dan Zona Rembang (lihat gambar dibawah). Pemetaan geologi sendiri meliputi salah satu zona fisiografis yaitu Zona Kendeng pada wilayah bagian barat.
Geologi Regional Zona Kendeng
Pembagian fisiografi Jawa Tengah dan Jawa Timur menurut van Bemmelen (1949) dengan modifikasi.

I.     Geomorfologi Regional Zona Kendeng
Zona Kendeng meliputi deretan pegunungan dengan arah memanjang barat-timur yang terletak langsung di sebelah utara Sub Zona Ngawi. Pegunungan ini tersusun oleh batuan sedimen laut dalam yang telah mengalami deformasi secara intensif membentuk suatu antiklinorium. Pegunungan ini mempunyai panjang 250 km dan lebar maksimum 40 km (de Genevraye & Samuel, 1972) membentang dari Gunungapi Ungaran di bagian barat ke timur melalui Ngawi hingga daerah Mojokerto. Di bawah permukaan, kelanjutan zona ini masih dapat diikuti hingga di bawah selatan Madura.
Morfologi Zona Kendeng dicirikan oleh  jajaran perbukitan rendah dengan morfologi bergelombang, dengan ketinggian berkisar antara 50 hingga 200 meter. Jajaran yang berarah barat-timur ini mencerminkan adanya perlipatan dan sesar naik yang berarah barat-timur pula. Intensitas perlipatan dan anjakan yang mengikutinya mempunyai intensitas yang sangat besar di bagian barat dan berangsur melemah di bagian timur. Akibat adanya anjakan tersebut, batas dari satuan batuan yang bersebelahan sering merupakan batas sesar. Lipatan dan anjakan yang disebabkan oleh gaya kompresi juga berakibat terbentuknya rekahan, sesar dan zona lemah yang lain pada arah tenggara-barat laut, barat daya-timur laut dan utara-selatan.
Proses eksogenik yang berupa pelapukan dan erosi pada daerah ini berjalan sangat intensif, selain karena iklim tropis juga karena sebagian besar litologi penyusun Zona Kendeng adalah batulempung, napal, dan batupasir yang mempunyai kompaksitas rendah, misalnya pada Formasi Pelang, Formasi Kerek dan Napal Kalibeng yang total ketebalan ketiganya mencapai lebih dari 2000 meter.
Proses tektonik yang terus berjalan mulai dari zaman Tersier hingga sekarang, banyak dijumpai adanya teras-teras sungai yang menunjukkan adanya perubahan dasar sedimentasi berupa pengangkatan pada Zona Kendeng. Sungai utama yang mengalir di atas Zona Kendeng adalah Sungai Bengawan Solo yang mengalir mulai dari utara Sragen ke timur hingga Ngawi, ke utara menuju Cepu dan membelok ke arah timur hingga bermuara di Ujung Pangkah, utara Gresik. Sungai lain adalah Sungai Lusi yang mengalir ke arah barat dimulai dari Blora ke arah Purwodadi dan terus ke barat hingga bermuara di pantai barat Demak hingga Jepara.
II. Stratigrafi Regional Zona Kendeng
Stratigrafi penyusun Zona Kendeng merupakan endapan laut dalam di bagian bawah yang semakin ke atas berubah menjadi endapan laut dangkal dan akhirnya menjadi endapan non laut. Endapan di Zona Kendeng merupakan endapan turbidit klastik, karbonat dan vulkaniklastik. Stratigrafi Zona Kendeng terdiri atas 7 formasi batuan, urut dari tua ke muda sebagai berikut:
Geologi Regional Zona Kendeng
Kolom stratigrafi regional daerah penelitian (Harsono, 1983).

1. Formasi Pelang
Terdiri dari Gray Marly Mudstone with Lenticular Intercalation Limestone yang mengandung  Foraminifera Besar Eulepidina sp. Lapisan-lapisan ini merupakan lapisan tertua atau lapisan terbawah dari seri perlapisan Neogen yang dijumpai di sebelah barat Perbukitan Kendeng.  Formasi Pelang ditindih secara selaras oleh Formasi Kerek diatasnya. Lokasi tipe formasi ini berada kira-kira 1 km dari Juwangi, di dekat Kedungjati, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Distribusi formasi ini berada di lokasi tipe dan juga bukit batugamping kecil yang berada di Mrisi, bagian utara dari Perbukitan Kendeng sebelah Barat, Jawa Tengah. Formasi Pelang merupakan formasi yang berumur Miocene.
2. Formasi Kerek
Merupakan seri yang seragam dari batulempung napalan (marly clays) yang mengandung Globigerina, Radiolaria, sponge spicules dan Discoaster, berselingan dengan calcareous tuff-sandstone, dan juga batupasir kuarsa yang mengandung foraminifera besar. Ketebalan rata-ratanya kira-kira 1000 m, tetapi karena perlipatan yang intensif dan juga sesar-sesar yang terjadi menyebabkan tidak ada lapisan yang menunjukkan ketebalan yang sesungguhnya atau asli.
   Bagian atas dari Formasi Kerek didominasi oleh volcanic intercalations dibandingkan dengan pada bagian bawah. Pada bagian bawah dapat dikorelasikan dengan flysch seperti Merawu Series dan bagian atas dapat dikorelasikan dengan Penyatan Series yang merupakan bagian dari Pegunungan Serayu Utara. Umur dari Formasi Kerek diestimasikan berumur Lower – Middle Miocene. Formasi Kerek menumpang di atas Formasi Pelang secara selaras dan ditumpangi oleh Formasi Banyak yang merupakan produk vulkanik secara tidak selaras menurut Van Bemmelen (1949a, hal.572) bagian dari Zoan Serayu Selatan. Lokasi tipe dari Formasi Kerek tidak terindikasi. Distribusinya adalah di sepanjang Zona Kendeng antara Semarang (Barat) dan Gundih (Timur), Jawa Tengah. Fosil yang ditemukan antara lain Cycloclypeus (Katacycloclypeus) annulatus Martin.
3. Formasi Kalibeng                               
Formasi Kalibeng dibagi menjadi 2 yaitu Kalibeng Atas dan Kalibeng Bawah. Formasi Kalibeng Bawah memiliki lapisan yang seragam yaitu Unbedded Globigrina-Marls pada bagian Barat Zona Kendeng. Sedangkan Formasi Kalibeng Atas memperlihatkan perubahan fasies dari barat ke timur. Pada bagian barat terdiri dari batugamping koralin batugamping Globigerina, yang mana menuju ke arah timur berubah menjadi bedded sandy marls mengandung glauconite dan Foraminifera kecil dan terkadang berubah menjadi bedded diatomaceous tipis. 
   Pada bagian barat Zona Kendeng, Kalibeng Bawah memiliki ketebalan kurang lebih 500 m. Kalibeng Atas yang terdiri dari batugamping memiliki ketebalan yang bervariasi antara 50 m hingga 300 m. Ke arah selatan, ketebalan galuconiferous sandy marls semakin menebal menumpangi batugamping, dimana berkembang juga fasies batupasir yang merupakan endapan batupasir vulkanik dengan ketebalan yang juga bervariasi antara 25 m hingga 150 m.
   Batupasir ditumpangi oleh Diatomaceous Marls, dengan ketebalan total (termasuk Batupasir) maksimum 700 m. Fasies Diatomaceous juga berkembang di daerah Surabaya, tetapi menuju ke arah utara fasies kembali berubah menjadi batugamping koralin, dimana batugamping digunakan untuk industri semen. Ketebalan batugamping kira-kira 200 meter. Di Pulau Madura, Formasi Kalibeng Atas juga hadir berupa batugamping Lithothamnium Reef.
   Perubahan fasies yang cepat pada Formasi Kalibeng Atas menunjukkan bahwa fasies tersebut diendapkan di lingkungan pantai dengan perubahan kondisi yang signifikan. Formasi Kalibeng menumpangi lapisan-lapisan yang mengandung Lepidocyclina (Trybliolepidina) sp. dan forminifera besar lainnya yang mengindikasikan umur Miocene (Formasi Rembang, menurut Duyfjes ; Formasi Kerek, menurut Van Bemmelen). Formasi Kalibeng dapat dikorelasikan, menurut Van Bemmelen (1949) dengan Formasi Banyak/Cipluk (Kalibeng Bawah) dan Formasi Damar Bawah (Kalibeng Atas) di bagian barat Perbukitan Kendeng (Semarang-Ungaran), atau dapat juga dikorelasikan dengan Formasi Wonocolo Atas, Formasi Ledok, dan Formasi Mundu di daerah Rembang. Lokasi tipenya berada di Sungai Kali Beng, 14 km barat laut Jombang pada koordinat 112o 8’ 50’’ E dan 7o 26’ 20’’ S. Distribusinya tersebar di Perbukitan Kendeng antara Surabaya (Jawa Timur) dan Trinil (Jawa Tengah) pada pusat-pusat antiklin, termasuk yang ada di Pulau Madura. Umur dari Formasi Kalibeng adalah Pliocene.
            Formasi Kalibeng Atas terdiri dari Anggota Klitik dan Anggota Sonde. Anggota Sonde merupakan Fasies Marls dari Formasi Kalibeng Atas. Marls tersebut hanya berkembang secara lokal, dan secara lateral berkembang menjadi Fasies Batugamping yang merupakan anggota Klitik. Lapisan-lapisan tersebut menumpang di atas Formasi Kalibeng Bawah dan ditumpangi oleh Formasi Pucangan yang berumur Pleistocene. Anggota-anggota formasi tersebut mengandung fosil yang mana 53% diantaranya masih bisa dijumpai hingga sekarang, mengindikasikan umur lapisan adalah Upper Pliocene. Endapan yang berumur sama dapat dijumpai di dekat Padasmalang dan Pengkol, di dekat Sonde dan Sangiran, Utara Surakarta. Napal (Marls) tersebut banyak mengandung fosil-fosil moluska. Tipe lokasi dari Anggota Sonde berada di Sonde dekat Trinil, Kabupaten Ngawi, Lembah Sungai Bengawan Solo, Jawa Timur. Distribusinya secara umum berada di sebelah utara Perbukitan Kendeng. Ditemukan banyak fosil penciri dari Anggota Sonde seperti Turritella angulata cicumpeiensis (Oosting), Terebra verbeeki Martin, T. Insulinidae, Conus sondeianus Martin. 
4. Formasi Pucangan
Pada formasi ini dapat dibagi menjadi 2 macam fasies yaitu fasies marine clayey dan fasies volcanic tuffaceous-sandy. Fasies yang kedua merupakan fasies yang banyak mengandung fosil vertebrata. Fasies vulkanik berkembang di perbukitan Kendeng Bagian Barat, dimana semakin ke arah timur berkembang semakin banyak marine intercalations yang menyebabkan di dekat Surabaya, formasi ini terdiri dari batulempung dan tuff vulkanik yang mengandung fosil moluska dari laut. Salah satu bagian paling timur dari Formasi ini adalah di Perning, utara Mojokerto dimana fosil Homo mojokertensis ditemukan. Dari bagian bawah dapat dijabarkan lapisan-lapisan batuan Formasi Pucangan, antara lain:
a.    Batupasir tuf tipis dan batupasir tuf lempungan, terkadang mengandung fosil moluska laut dan sulit dibedakan dengan “b”. Lapisan ini disebut juga sebagai Zona Moluska I. Tebal lapisan 25 m.
b.    Napal dan Batulempung, terkadang dijumpai batupasir tuff konglomeratik dengan fosil moluska laut dan secara lokal berkembang coral-bioherms. Terdapat juga boulder-boulder andesit. Disebut juga Zona Moluska II yang sulit dibedakan dengan Zona Moluska I.
c.    Batupasir tuf berukuran halus yang mengandung variasi lempung, merupakan lapisan-lapisan yang tipis dengan ketebalan 10 m.
d.   Lapisan tebal batupasir kasar dengan lensa konglomerat tak beraturan disertai boulder andesit, interkalasi tuf halus lempungan. Pada bagian bawah dijumpai lapisan tipis batupasir tuf halus. Pada lapisan ini dijumpai fragmen fosil vertebrata dan merupakan lapisan dimana Homo mojokertensis ditemukan. Ketebalan lapisan 100 m.
e.    Batulempung Hijau, penyebarannya lokal. Ketebalan 5 m.
f.     Batupasir tuf lempungan-napalan dengan fosil moluska laut dan Echinoid. Disebut juga sebagai Zona Moluska III. Ketebalan lapisan 10 m.
g.    Batupasir Tufan. Ketebalan 35 m.
Di daerah Gunung Butak, memiliki perbedaan lapisan, dari bawah ke atas dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.    Breksi tuf dengan ketebalan 200 m.
b.    Lapisan Tuf dan Batupasir tufan dengan ketebalan 40 m.
c.    Breksi tuf dengan ketebalan 75 m.
d.   Lapisan tuf dan Batupasir tufan dengan ketebalan 125 m.
Anggota vulkanik bagian atas dari formasi ini yaitu Anggota Butak menumpang di atas anggota lapisan marine yang disebut Anggota Nngronan yang terdiri dari napal dan batupasir tuf vulkanik gampingan, mengandung moluska, dengan ketebalan lapisan 100 m. Total ketebalan dari Formasi Pucangan adalah 540 m. Semakin ke arah barat, di Trinil, Formasi Pucangan direpresentasikan dengan 100 m breksi vulkanik, dengan interkalasi batupasir, tuf, dan batulempung hitam tufan yang mengandung moluska air tawar.
Secara umum fasies Formasi Pucangan sangat bervariasi yang diakibatkan oleh proses terbentuknya. Lapisan-lapisan vulkanik diendapkan dari Gunung Wilis yang mana sekarang (sejak Pleistocene bawah) sangat aktif. Bagian bawah dari endapan vulkanik tersebut mencapai laut Cekungan Kendeng dimana pada saat yang sama batugamping dan juga batulempung marine diendapkan. Aktivitas vulkanik dan tubuh dari gunung api meningkat selama proses deposisi berlangsung sehingga menyebabkan pada bagian bawah endapan marine sangat lebar dan semakin sedikit ke arah atas. Pada zona transisi dimana tiga Zona Moluska berada telah dapat dipisahkan, satu pada bagian bawah, dua pada bagian tengah dan tiga pada bagian atas.
Fasies vulkanik banyak mengandung fosil vertebrata yang menempatkan lapisan pada umur Lower Pleistocene. Di daerah Dome Sangiran, Formasi Pucangan berkembang sebagai batulempung hitam kaya akan fosil vertebrata dan juga moluska air tawar. Ketebalan lempung hitam mencapai 300 m. Formasi Pucangan menumpang di atas Formasi Kalibeng secara tidak selaras dan ditumpangi oleh Formasi Kabuh secara selaras. Lokasi tipe berada di Gunung Pucangan, 20 km dari Jombang, Jawa Timur, koordinat 112o 17’ 7’’ E dan 7o 23’ 10’’ S.
Distribusi formasi berada di sepanjang Zona Kendeng dari barat ke timur sepanjang 200 km, di Dome Sangiran 15 km Utara Surakarta, dan di dekat jalan kerata api Kalioso. Fosil-fosil penciri Formasi ini antara lain Manis paleojavanicus Dubois, Ephimachairodus zwierzyckii Von Koenigswald, Stegodon trigonocephalus, Hippopotamus (Hexaprotodon) antiquus Von Koenigswald, Servus zwaani Von Koenigswald, Antilope modjokertensis Von Koenigswald, Leptobos cosijni Von Koenigswald, Tapirus pandanicus Dubois.
5. Formasi Kabuh
Terdiri dari batupasir vulkanik dengan ukuran kasar dan konglomerat, yang mengandung moluska air tawar dan fosil vertebrata Trinil. Mengindikasikan bahwa formasi ini berumur Middle Pleistocene. Pada bagian paling timur di dekat Surabaya terdapat interkalasi batuan sedimen marine.
Formasi Kabuh merupakan formasi yang utamanya terdiri dari fasies fluviatil, terdapat kehadiran cross-bedding pada lapisan-lapisannya. Fasies-fasiesnya berubah ketebalannya secara cepat. Di sebelah barat dari kehadirannya, pada antiklin Sangiran di dekat Solo, terdiri dari batupasir fluviatil cross-bedded dengan pada bagian atasnya terdapat interkalasil lapisan pebble dan juga vulkanik tuf halus, dengan ketebalan kurang lebih 100 m. Di dekat Trinil, lebih ke timur, fasiesnya sama dengan ketebalan 175 m. Vertebrata ditemukan pada bagian bawah lapisan, di atas Formasi Pucangan (Breksi vulkanik).
Pada lapisan tersebut ditemukan fosil Pithecantropus Dubois bersama dengan banyak fosil vertebrata dari Von Koenigswald. Lebih ke arah timur (50 km) di daerah Gunung Butak, Formasi Kabuh berkembang menjadi batupasir andesitik kasar dan konglomerat, cross bedded, tetapi dengan beberapa interkalasi dari napal yang mengandung Globigerina (salah satunya dengan ketebalan 30 m, di dekat Kedungbrubus, Gunung Butak). Pada jarak 50-100 km lagi ke arah Timur, Formasi Kabuh berkembang menjadi batulempung dengan interkalasi lapisan batupasir tipis sedimen laut. Menuju ke arah selatan, fasies marine berubah kembali menjadi fasies fluviovulkanik.
Ketebalan total dari Formasi ini adalah 400 m. Formasi Kabuh menumpang secara selaras di atas Formasi Pucangan dan ditumpangi oleh Formasi Notopuro secara selaras dan tidak selaras pada beberapa bagian, maupun ditumpangi oleh endapan Holocene secara tidak selaras. Di daerah selatan dari Sidoarjo, Formasi Kabuh ditumpangi oleh Formasi Jombang yang merupakan produk vulkanik. Lokasi tipe dari Formasi Kabuh adalah di daerah Desa Kabuh, 18 km dari utara Jombang dan juga dapat dijumpai di Kali Sumberingin, 3,5 km di sebelah timur Kabuh pada koordinat 112o 14’ 47’’ E dan 7o 23’ 45’’ S.
Distribusi formasi berada di beberapa antiklin kecil kira-kira 15 km dari Surakarta: Sangiran Antiklin, Gemolong Antiklin dan juga sepanjang antiklinorium Perbukitan Kendeng yang mencapai 200 km dari barat ke timur diantara Semarang dan Surabaya. Fosil-fosil penciri dari Formasi Kabuh antara lain Cervus lydekkeri Martin, Duboisia kroesenii Dubois, Mececyon trinilensis Stremme, Stegodon trigonocephalus Martin, Elephas namadicus Falconer, Sus macronathus Stremme, Sus brachygnatus Dubois, Hippopotamus namadicus Falconer, Bos bubalis palaeokerabau Dubois, Pithecantropus erectus Dubois.
6. Formasi Notopuro
Terdiri dari tuf, batupasir tuf, konglomerat dan aglomerat dari vulkanik ataupun dari batuan vulkanik yang telah tertransportasi, ditumpangi oleh Formasi Kabuh secara selaras dan pada beberapa bagian tidak selaras akibat adanya hiatus dari Formasi Kabuh. Semakin ke arah timur, pada posisi yang sama sengan formasi ini disebut sebagai Formasi Jombang yang memiliki kemiripan komposisi dan dimungkinkan justru sama dengan Formasi Notopuro. Pada formasi ini sangat jarang ditemukan fosil, di daerah Sangiran (Kalioso) utara Surakarta, beberapa fragmen vertebrata ditemukan yang dimungkinkan sebagai hasil erosi dari Formasi Kabuh dibawahnya yang secara lokal memang tidak selaras terhadap Formasi Notopuro.
Pada teras sepanjang Sungai Bengawan Solo, utara Ngawi, banyak ditemukan fosil vertebrata yang berumur Upper Pleistocene. Endapan-endapan teras tersebut menumpang di atas lipatan-lipatan berumur Pliocene secara tidak selaras. Begitu juga dengan Formasi Notopuro dan Formasi Jombang yang mengalami perlipatan pada Middle Pleistocene, dimana Formasi Notopuro lebih tua dari endapan teras dan lebih muda dari Formasi Kabuh yang berumur Middle Pleistocene. Pada lain hal, deposit sungai seperti konglomerat dan batupasir kasar Formasi Notopuro mengindikasikan fasies synorogenic yang memilki umur kurang lebih sama dengan teras bagian paling atas  dari Sungai Bengawan Solo. Formasi Notopuro ditumpangi oleh endapan vulkanik Holocene dan endapan aluvial.
Lokasi tipe dari Formasi Notopuro adalah di Desa Notopuro, 35 km timur laut Madiun, Jawa Timur, Barat Gunung Pandan. Distribusinya ada di bagian barat dari antiklinorium Perbukitan Kendeng, terutama sepanjang slope bagian utara, diantara Gunung Pandan di timur dan Semarang di barat, dan juga terdapat pada beberapa antiklin kecil sepanjang 15 – 20 km utara dari Surakarta (Sangiran Antiklin, Gemolong Antiklin).
7. Endapan Teras Bengawan Solo dan Endapan Aluvial
Terdiri dari pasir dan gravel yang menutupi kelerengan dari bukit, terutama di sepanjang Sungai Bengawan Solo antara Ngawi dan Cepu, pada ketinggian bervariasi dari 38-71 m di atas permukaan laut (ketebalan lapisan sungai mencapai 38 m) yang merepresentasikan deposisi selama prose kenaikan progresif dari Perbukitan Kendeng yang mana sungai memotong secara anteseden. Pada banyak tempat gravel juga mengandung fosil vertebrata termasuk manusia Solo (Homo neanderthalensis soloensis Oppenoorth) di daerah Ngandong dan Watumalang. Umur dari endapan teras ini adalah Uppermost Pleistocene. Endapan Aluvial sendiri berumur Holocene yang menumpang secara tidak selaras di atas Formasi Notopuro dan berumur paling muda.
III. Struktur Geologi Regional Zona Kendeng
Deformasi pertama pada Zona Kendeng terjadi pada akhir Pliosen (Plio – Plistosen), deformasi merupakan manifestasi dari zona konvergen pada konsep tektonik lempeng yang diakibatkan oleh gaya kompresi berarah relatif utara – selatan dengan  tipe formasi berupa ductile yang pada fase terakhirnya berubah menjadi deformasi brittle berupa pergeseran blok – blok dasar cekungan Zona Kendeng. Intensitas gaya kompresi semakin besar ke arah bagian barat Zona Kendeng yang menyebabkan banyak dijumpai lipatan dan sesar naik dimana banyak zona sesar naik juga merupakan kontak antara formasi atau anggota formasi.
Deformasi Plio – Plistosen dapat dibagi menjadi tiga fase/ stadia, yaitu; fase pertama berupa perlipatan yang mengakibatkan terbentuknya Geantiklin Kendeng yang memiliki arah umum barat – timur dan menunjam di bagian Kendeng Timur, fase kedua berupa pensesaran yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu pensesaran akibat perlipatan dan pensesaran akibat telah berubahnya deformasi ductile menjadi deformasi brittle karena batuan telah melampaui batas kedalaman plastisnya. Kedua sesar tersebut secara umum merupakan sesar naik bahkan ada yang merupakan sesar sungkup. Fase ketiga berupa pergeseran blok – blok dasar cekungan Zona Kendeng yang mengakibatkan terjadinya sesar – sesar geser berarah relatif utara – selatan.
Deformasi kedua terjadi selama kuarter yang berlangsung secara lambat dan mengakibatkan terbentuknya struktur kubah di Sangiran. Deformasi ini masih berlangsung hingga saat ini dengan intensitas yang relatif kecil dengan bukti berupa terbentuknya sedimen termuda di Zona Kendeng yaitu Endapan Undak. Secara umum struktur – struktur yang ada di Zona Kendeng berupa :
  1. Lipatan
Lipatan yang ada pada daerah Kendeng sebagian besar berupa lipatan asimetri bahkan beberapa ada yang berupa lipatan overturned. Lipatan – lipatan di daerah ini ada yang memiliki pola en echelon fold dan ada yang berupa lipatan – lipatan menunjam. Secara umum lipatan di daerah Kendeng berarah barat – timur.
  1. Sesar Naik
Sesar naik ini biasa terjadi pada lipatan yang banyak dijumpai di Zona Kendeng, dan biasanya merupakan kontak antar formasi atau anggota formasi.
  1. Sesar Geser
Sesar geser pada Zona Kendeng biasanya berarah timur laut- barat daya dan tenggara -barat laut.
  1. Struktur Kubah
Struktur Kubah yang ada di Zona Kendeng biasanya terdapat di daerah Sangiran pada satuan batuan berumur Kuarter. Bukti tersebut menunjukkan bahwa struktur kubah pada daerah ini dihasilkan oleh deformasi yang kedua, yaitu pada Kala Plistosen.

Daftar Pustaka :
Bemmelen, R.W. Van, 1949, The Geology of Indonesia, Vol. 1 A, Government Printing Office, The Hauge, Amsterdam.
Panitia Pelaksana Pemetaan geologi 2014, 2014, Buku Panduan Geologi Lapangan Pemetaan Geologi 2014, Jurusan Teknik Geologi UGM, Yogyakarta.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Geologi Regional Zona Kendeng"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D