Palinologi, Ilmu yang Mempelajari tentang Fosil Spora dan Pollen

Palinologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang fosil spora dan pollen. Spora dan pollen sendiri termasuk dalam golongan mikrofosil bersama-sama dengan mikrofosil lainnya seperti foraminifera bentonik maupun planktonik, nannoplankton, Radiolaria maupun Diatomea. Spora merupakan alat reproduksi yang berasal dari tanaman tingkat rendah (non-biji), sedangkan pollen merupakan alat reproduksi yang berasal dari tanaman tingkat tinggi (berbiji).
Palinologi, Ilmu yang Mempelajari tentang Fosil Spora dan Pollen
Photomicrograph of Spora and Pollen.

Spora dapat berasal dari tanaman Pteridophyta (paku-pakuan dan juga lumut). Pollen dapat berasal dari tanaman yang berbunga seperti Angiospermae maupun Gymnospermae. Spora dari tanaman yang terpreservasi bisa jantan maupun betina, sedangkan pollen selalu jantan, karena pada tanaman berbiji alat perkembangbiakan/reproduksi betina adalah berupa putik yang tentunya sangat berbeda dengan spora maupun pollen, dimana pollen sendiri sebenarnya adalah serbuk sari/sperma yang dapat terpreservasi dengan baik hingga menjadi mikrofosil. Jadi, sebenrnya tujuan mempelajari spora dan pollen adalah untuk mengetahui atau menentukan jenis tanaman secara tidak langsung melalui spora dan pollen sehingga akan didapat kisaran umur relatif kapan sedimen yang mengandungnya terendapkan.

Dimana fosil spora dan pollen ditemukan??
Jika kita menilik sedikit teman-teman spora dan pollen (mikrofosil yang lain) maka akan kita dapatkan bahwa lingkungan pengendapan spora dan pollen memiliki lingkungan pengendapan yang berbeda dengan mikrofosil yang lain. Misalnya saja, Foraminifera Bentonik atau Planktonik biasa terendapkan di lingkungan shelf, batial, abisal dan transisi (jumlahnya relatif sedikit). Yang paling dominan menjadi penciri lingkungan pengendapan terutama adalah foraminifera bentonik karena hidupnya yang menambat di bawah permukaan air, sedangkan foraminifera planktonik hidupnya mengambang atau melayang di perairan sehingga sulit untuk menjadi penciri lingkungan pengendapan, lebih cocok menjadi penentu umur kapan sedimen diendapkan. Sedangkan hubungan antara perbandingan jumlah foraminifera planktonik dan bentonik adalah, semakin besar nilai perbandingan foraminifera planktonik berbanding bentonik maka lingkungan pengendapannya akan semakin dalam (marine yang lebih dalam). Jumlah kehidupan foraminifera di laut atau marine sangat dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari yang masuk, okesigen maupun kandungan nutrisi di laut.

Selanjutnya Nannoplankton biasanya terendapkan di lingkungan marine dimana dia hidup tidak menambat dengan ukurannya yang sangat kecil. Radiolaria biasa terendapkan di lingkungan batial hingga abisal dan hidup menambatkan diri di bawah permukaan air. Kemudian Diatomea yang berasal dari tanaman diatomea banyak terendapkan di lingkungan transisi hingga marine. Nah, spora dan pollen sendiri merupakan mikrofosil penciri lingkungan darat hingga transisi. Oleh karena itu jika kita menemukan batuan yang berasal dari lingkungan darat jangan pernah bilang kalo batuan itu tidak mengandung fosil, buktinya ada fosil spora dan pollen, yang pada umumnya terendapkan pada sedimen berbutir halus.

Bagaimana spora dan pollen terpreservasi dengan baik??
Lingkungan darat sendiri tidak semua dapat mempreservasi spora dan pollen secara baik hingga menjadi fosil. Dalam hal ini si spora dan pollen harus terbebas dari disintegrasi (kehancuran), evaporasi dimana hilangnya satu atau lebih unsure penyusun spora dan pollen (C,H,O,N), dehidrasi atau kehilangan kandungan air karena penguapan, hidrolisis atau unsure-unsurnya mengalami pemecahan dan juga teroksidasi. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan spora dan pollen gagal memfosil. Spora dan pollen akan terpreservasi dengan baik di lingkungan darat seperti endapan sungai yang berbutir halus (lanau-lempung), oxbow lake atau danau, flood plain, endapan delta di bagian lower delta plain (interdistributary channel), mangrove belt (swamp belt) yang kesemuanya memiliki ukuran butir sedimen halus yaitu kisaran lanau hingga lempung. Lanau dan lempung dapat mempreservasi dengan baik karena porositas batuannya yang kecil, ukuran di atasnya misalnya batupasir tidak akan mempreservasi dengan baik karena porositasnya yang jauh lebih besar dari ukuran spora dan pollen itu sendiri.

Lalu, bagaimana kita mengetahui bahwa fosil yang kita temukan adalah spora atau pollen. Dalam menganalisa atau mengenal spesies, maka yang kita gunakan adalah ciri morfologinya baik itu spora dan polen maupun mikrofosil yang lain, semunya berdasarkan cirri morfologi. Jika ingin mendapatkan data-data dari spora dan pollen maka sampel yang dapat kita ambil adalah dari hasil core/side wall core, sampel cutting dari pemboran maupun bisa juga dari surface stratigraphy.

Daftar Pustaka :
Catatan Kuliah Palinologi. Tidak dipublikasikan.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Palinologi, Ilmu yang Mempelajari tentang Fosil Spora dan Pollen"

Posting Komentar

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D