Pengertian dan Klasifikasi Batubara

Batubara dapat didefinisikan merupakan kumpulan dua macam material, yaitu material organik atau komponen maseral dan komponen anorganik dan mineral yang sering disebut dengan mineral matter (Ward, 2002).
Komponen organik merupakan parameter penting dalam menentukan peringkat dan tipe batubara yang terbentuk dan memberikan pengaruh pada pemanfaatannya. Semua kegunaan batubara, seperti energi yang dihasilkan dari pembakarannya atau perannya dalam proses metalurgi, merupakan bentuk pemanfaatan esensial dari maseral konstituennya.
Komponen anorganik pada batubara umumnya memberikan kontribusi yang minim pada pada kegunaan batubara bahkan umumnya justru mengurangi nilai kegunaan batubara ditinjau dari sisi pemanfaatannya. Mineral matter merupakan sumber sisi negatif pemanfaatan batubara, antara lain sebagai penyumbang polutan, korosi, abrasi dan problem lainnya yang muncul dalam proses pemanfaatan batubara. 
Pengertian dan Klasifikasi Batubara
Jenis-Jenis Batubara. (Slide Kuliah Batubara, D.H. Amijaya)
Senyawa organik sebagai material penyusun utama batubara disebut juga dengan maseral. Berdasarkan klasifikasi International Committee for Coal and Organic Petrology (ICCP) tahun 1994 ada tiga grup utama maseral dengan grup huminit digunakan untuk batubara lignit atau brown coal dan grup vitrinit digunakan untuk batubara bituminous dan antrasit, sementara untuk dua grup lainnya, yaitu liptinit dan Inertinit, penamaan yang sama digunakan baik pada berbagai rentang kalori batubara.
Huminit berasal dari jaringan kayu pada batang, akar dan daun. Secara kimia huminit memiliki karakter oksigen yang relatif tinggi dan kandungan karbon yang lebih rendah dibandingkan dengan grup maseral lainnya. Istilah vitrinit dipakai untuk merujuk huminit yang telah mengalami proses pembatubaraan lebih lanjut.
Peningkatan kandungan karbon terjadi selama proses pembatubaraan dimana kandungan hidrogen yang terobservasi pada vitritnit dapat mencapai 85%. Vitrinit kaya akan struktur aromatik yang meningkat seiring peringkat batubara, yaitu antara 70% pada batubara subbituminus hingga lebih dari 90% pada antrasit.
Grup liptinit berasal dari organ tumbuhan (ganggang/algae, spora, kotak spora, kulit luar (kutikula), getah tanaman (resin) dan serbuk sari/pollen). Grup liptinit kaya dengan ikatan alifatik, memiliki kandungan hidrogen paling banyak dan kandungan karbon paling sedikit bila dibandingkan dengan grup maseral lainnya. Inertinit adalah grup maseral yang memiliki reflektansi lebih tinggi dibandingkan dengan maseral dari kelompok vitrinit dan liptinit. Kelompok Maseral inertinite umumnya berasal dari tumbuhan yang sudah terbakar atau berasal dari maseral lain yang telah mengalami proses oksidasi.
Pada proses coking, reaksi dari inertinit akan tergantung kepada karakteristik kimia fisik maseral dan peringkat batubara, homogenitas maseral inertinit, ukuran butir serta struktur dalam. Kadar inertinit yang optimum dalam batubara memberikan keuntungan dalam memperoleh kokas yang memiliki stabilitas maksimum. Jumlahnya tergantung peringkat batubara. Hal tersebut karena  kekuatan kokas dipengaruhi oleh ukuran inertinit dalam campuran. Kokas dari batubara yang kaya akan inertinit akan menghasilkan CRI (Coke Reactivity Index/ Indeks reaktivitas kokas) yang tinggi. Secara kimiawi, inertinit memiliki karakter karbon yang relatif tinggi dan oksigen yang rendah (ICCP, 1994).
Elemen dari konstituen inorganic pada batubara yang disebut juga dengan mineral matter mengacu kepada unsur anorganik yang bukan merupakan bagian dari unsur organik batubara seperti karbon, hidrogen, oksigen dan sulphur. (Speight, 2005). Mineral dan material annorganik yang berasosiasi dengan batubara sering diistilahkan dengan mineral matter (Ward, 1986), yang secara umum mencakup tiga golongan material. yaitu ;
1. Mineral dalam bentuk partikel diskrit dan kristalin pada batubara
2. Unsur atau senyawa anorganik yang terikat dengan molekul organik batubara dan biasanya tidak termasuk unsur nitrogen dan sulfur.
3.  Senyawa anorganik yang larut dalam air pori batubara dan air permukaan.
Berdasarkan atas kelimpahannya, maka mineral-mineral pada batubara dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu mineral utama (major minerals), mineral tambahan (minor minerals) dan unsur jejak (trace elements). Renton (1982), menggolongkan mineral utama jika kadarnya > 10 % berat, sementara mineral tambahan memiliki persetase 1-10 % dari berat. Umumnya yang termasuk mineral utama adalah mineral lempung dan kuarsa sedangkan yang merupakan mineral minor adalah adalah karbonat, sulfida dan sulfat.

Klasifikasi Batubara
Ada berbagai klasifikasi yang sering digunakan untuk penggolongan batubara, seperti berdasarkan atas derajat pembatubaraan atau metamorfismenya yang sering juga disebut berdasarkan atas derajat kedewasaannya, dengan urutan dari lignit, sub-bituminous, bituminous hingga antrasit.
Klasifikasi yang saat ini umum digunakan yaitu klasifikasi yang dibuat oleh American Society for Testing and Materials/ASTM (Tabel 3.1) yang menyusun klasifikasi berdasarkan pada peringkat atau rank (Speight, 2013). Pada klasifikasi ini digunakan parameter (1) heating value, (2) volatile matter, (3) moisture, (4) ash, dan (5) fixed carbon.
Pengertian dan Klasifikasi Batubara
Sistem Klasifikasi Batubara ASTM (Speight, 2013).
a Klasifikasi ini tidak memasukkan jenis nonbanded, dengan sifat phisik dan kimia yang luar biasa dan termasuk ke dalam dengan fixed-carbon atau calorific value terbatas pada peringkat high-volatile bituminous dan subbituminous. Salah satu dari semua batubara yang mengadung fixed carbon < 48% pada basis dry, mineral-matter-free atau mempunyai > 15,500 Btu/lb dalam basis moist, mineral-matter-free.
b Sebagian besar merujuk pada batubara yang mengandung inherent moisture alami, namun tidak termasuk batubara yang permukaannya mengandung air.
c Jika terjadi penggumpalan, batubara dikelompokkan ke dalam kelompok low-volatile dari kelas bituminous.
Batubara mengandung fixed carbon 69% berdasarkan basis dry, mineral-matter-free diklasifikasikan menurut fixed carbon, tanpa memperhatikan calorific value.
e Batubara yang dikenal di sana mungkin berbagai batubara nonpenggumpalan dalam kelompok-kelompok dari kelas bituminous, dan tidak ada pengecualian khususnya pada kelas bituminous high volatile C.
Pengklasifikasian informal juga digunakan pada batubara, seperti pada industri misalnya, dikenal high grade coal dan low grade coal yang mengacu pada kandungan energi batubara. Bila high grade coal adalah sebutan untuk batubara antrasit dan batubara bituminous, maka low grade coal adalah sebutan untuk untuk batubara sub-bituminous dan lignit. Selain itu klasifikasi informal yang juga umum digunakan adalah berdasarkan pada penggunaan atau propertiesnya seperti steam coal atau coking coal, serta caking coal dan non-caking coal.

Daftar Pustaka :
International Committee for Coal and Organic Petrology (ICCP), 1998., The New Vitrinite Classification (ICCP System 1994), Fuel, Vol. 77, No. 5, p. 349-358.
Renton, J.J., 1982., Mineral matter in Coal, Coal Structure, ed. Meyer RA, Academic Press, p. 283-324.
Barat, Kaltim, Jurnal Ilmiah MATG, UPN, Vol.  5, p. 1-11.
Speight, J.G., 2005., Handbook of Coal Analisys, John Wiley & Sons. Inc. Publication, 238 pp.
Speight, J.G., 2013., The Chemistry and Technology of Coal 3th edition, CRC Press., 807 pp.
Ward, C.R., 1986., Review of Mineral Matter in Coal,  Australian Coal Geology, Geol. Society of Australia, Vol.6 p.87-107.
Ward, C.R., 2002., Analysis and Significance of Mineral Matter in Coal Seam,  International Journal of Coal Geology, Vol.50, p. 135-168.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pengertian dan Klasifikasi Batubara"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D