Peta Kontur Struktur, Menggambarkan Elemen Struktur Geologi 3D ke dalam Bentuk 2D

Tujuan utama dari pembuatan peta struktur dan interpretasi peta struktur adalah untuk mengembangkan gambaran tiga dimensi struktur geologi pada suatu daerah secara akurat dan konsisten berdasarkan kelengkapan data yang ada. Penggambaran tiga dimensi ini akan sulit dan memiliki ambiguitas dikarenakan pada umumnya struktur tidak sepenuhnya tersingkap dan tidak dapat diambil sampelnya. Oleh karena itu dalam melakukan interpretasi dan penggambaran geometri struktur diperlukan data dalam jumlah yang cukup untuk melakukan interpolasi diantara titik-titik yang diobservasi sehingga dapat ditentukan mekanika pembentukan strukturnya secara baik dan akurat. Elemen dasar yang ada dalam peta struktur mencakup geometri dari lipatan dan patahan, bentuk dan ketebalan unit, dan tipe kontaknya.
Peta Kontur Struktur, Menggambarkan Elemen Struktur Geologi 3D ke dalam Bentuk 2D
Peta Struktur yang menggambarkan kenampakan normal fault (Haakon Fossen, 2010)
Stuktur merupakan bagian dari suatu bangun tiga dimensi yang solid, terdiri dari perlapisan-perlapisan batuan dan atau patahan maupun intrusi. Interpretasi struktur yang paling baik adalah bila dapat disajikan interpretasi data dalam bentuk tiga dimensi. Namun apabila hanya dapat disajikan dalam dua dimensi dalam hal ini terlihat dalam satu sayatan vertikal, maka interpretasi struktur harus memiliki hubungan yang jelas dengan sayatan vertikal lain di sekitarnya.
Peta kontur struktur merupakan peta yang menggambarkan kenampakan persebaran horison (formasi bagian atas) dan atau patahan. Kemiringan horison atau batuan digambarkan tegak lurus terhadap garis kontur dan jarak antar kontur akan menunjukkan kemiringan dari horison yang digambarkan. Semakin rapat jarak kontur maka kemringan horison dalam peta kontur struktur akan semakin terjal. Peta kontur struktur adalah metode paling efektif dalam menggambarkan bentukan tiga dimensi dari permukaan horison ke dalam bentuk dua dimensi. Metode dalam pembuatan struktur tiga dimensi adalah berdasarkan model triangulated irregular network (TIN). Metode ini digunakan untuk menggabungkan titik-titik pengamatan atau data dengan menghubungkan titik-titik yang berdekatan untuk membentuk bentukan segitiga yang kemudian membentuk permukaan. Bentukan tiga dimensi dari horison akan terbentuk setelah dilakukan shaded. TIN dapat dibuat konturnya untuk menghasilkan peta kontur struktur.
Meskipun peta kontur struktur telah menggambarkan geometri permukaan horison, namun belum memiliki elemen ketebalan. Untuk melengkapi gambaran struktur dalam tiga dimensi diperlukan gambaran hubungan horison satu dengan yang lainnya sehingga akan tampak struktur geologi dalam gambaran tiga dimensi. Pembuatan sayatan vertikal akan sangat berguna untuk menggambarkan hubungan antar horison tersebut.
Dalam penggambaran horison, perlu diperhatikan bahwa makna horison adalah batas berdasarkan kesamaan waktu pengendapan. Batas waktu ini normalnya menggunakan acuan fosil (umur yang sama) ataupun data radiometrik (penanggalan mutlak) dan bisa jadi memotong batas dari perbedaan litologi. Namun, bila data tersebut tidak tersedia maka dapat digunakan acuan kenampakan stratigrafi seperti batas sikuen. Sikuen adalah suksesi yang selaras dari tumpukan perlapisan batuan yang dibatasi oleh ketidakselarasan. Parasikuen adalah suatu subunit dalam sebuah sikuen yang dibatasi oleh marine flooding surface. Waktu yang sama dengan saat flooding surface dapat digunakan untuk membuat peta kontur struktur dan korelasi secara regional yang paling baik adalah dengan menggunakan maximum flooding surface.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah masalah mengenai ketebalan dari suatu unit antar horison. Pada umumnya ketebalan antar horison tidaklah seragam. Hal ini akan mempengaruhi interpretasi mekanika pergerakan struktur geologi secara vertikal. Perbedaan ketebalan ini dapat disebabkan karena variasi stratigrafi dan juga struktur geologi yang berkembang. Perkembangan dari struktur selama terjadinya pengendapan dapat menghasilkan stratigarfi yang lebih tipis pada tinggian struktur dan lebih tebal di bagian rendahan. Hal ini dapat menghasilkan growth faults dan growth folds. Bagian tinggian dari growth fault dapat juga mengalami erosi, bersamaan dengan terjadinya pengendapan di bagian rendahan. Selain itu, variasi ketebalan juga dapat disebabkan karena perbedaan kompaksi selama dan setelah pengendapan terjadi, terutama karena adanya perubahan fasies batuan seperti batuan yang relatif uncompactable (batupasir) menjadi batuan yang relatif compactable (batulanau). Deformasi yang terjadi juga dapat menyebabkan perbedaan ketebalan unit batuan seperti perlipatan, patahan, maupun kombinasi keduanya.

Referensi :

Groshong, R.H. 2006. 3-D Structural Geology – A Practical Guide to Quantitative Surface and Subsurface Map Interpretation. Second Edition. Springer-Verlag Berlin Heidelberg.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Peta Kontur Struktur, Menggambarkan Elemen Struktur Geologi 3D ke dalam Bentuk 2D"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D