Mengenal Dua Sistem Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat

Batuan karbonat dalam jumlah besar dihasilkan oleh proses biogenik dan biokimia. Bagian keras dari organisme berasosiasi dengan alga dan bakteri membentuk sedimen kalkareus terutama di laut dangkal yang hangat dan jauh dari suplai sedimen asal darat. Umumnya lapisan batugamping terbentuk pada daerah pantai sampai laut dangkal. Tetapi, endapan karbonat juga dapat terbentuk di gua, mata air panas, tanah, danau, dan lingkungan laut dalam. Banyak organisme yang membentuk karbonat di lingkungan tersebut mendukung kemungkinan pengendapan batugamping dari material biogenik. Secara sederhana, sistem pengendapan kaarbonat dibagi menjadi dua yakni marine shallow water-lacustrine & deeper water facies of pelagic (Tucker, 1990).

1. Marine shallow water-lacustrine system
Batuan karbonat yang paling melimpah diendapakan pada lingkungan laut dangkal. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa batuan karbonat juga dapat terbentuk pada lingkungan lain di sekitarnya. Beberapa lingkungan yang berasosiasi dengan laut dangkal dan daratan meliputi daerah pantai, batas paparan, daerah peritidal, lakustrin dan terumbu (Tucker, 1990). Salah satu lingkungan pengendapan batuan karbonat yang umum di laut dangkal adalah terumbu. Sebagai lingkungan pengendapan batuan karbonat, terumbu dapat dibagi menjadi beberapa zona utama (lihat gambar).
Mengenal Dua Sistem Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat: Marine shallow water-lacustrine system dan Deeper water facies of pelagic system
Zonasi pada suatu lingkungan pengendapan yang dibentuk oleh terumbu secara umum yakni shelf, shelf crest, slope mound, dan basin.  Setiap zonasi tersebut dicirikan oleh karakteristik batuan karbonat yang terbentuk (Tucker, 1990).
Zona reef-front merupakan bagian terumbu dimana batuan karbonat non skeletal terbentuk. Kedalamannya tergantung pada kondisi lokal, namun secara umum berkisar antara 70-100 meter. Zona fore-reef slope merupakan daerah muka terumbu yang ke arah laut dan bergradasi turun ke dasar cekungan. Bagian ini didominasi oleh endapan aliran gravitasi dan sedimen pelagik-hemipelagik. Zona reef-flat terletak pada bagian belakang terumbu sehingga terlindungi dari energi ombak yang besar membentuk sand apron dan pematang. Ketebalan dari endapan yang terbentuk hanya beberapa meter dan mudah tersingkap ketika arus surut sehingga rentan terjadi bioerosi. Jenis batuan yang terbentuk pada zona ini adalah bindstone, rudstone, dan framestone. Zona back-reef lagoon memiliki energi yang rendah karena dilindungi oleh barrier. Akibatnya, di daerah ini banyak diendapkan sedimen yang halus dan memiliki organisme yang berbeda dengan bagian terumbu yang lain berupa koral tertentu, alga, dan rumput laut yang akan mempengaruhi pembentukan batuan karbonat (reef mounds). Meskipun demikian, tidak semua terumbu bisa memiliki lagoon (Tucker, 1990).   

2. Deeper water facies of pelagic system
Batuan karbonat pelagik adalah endapan dari laut terbuka yang tersusun atas skeletal debris dari organisme planktonik. Contoh organisme yang menyusun batuan karbonat ini adalah coccolith, foraminifera, dan pteropoda. Lingkungan laut terbuka yang dimaksud meliputidasar samudra, mid-ocean ridge, dan continental shelves. Dalam rekaman geologi, batugamping pelagik diendapkan secara baik pada masa Mesozoik dan Kenozoik namun tidak pada Paleozoik karena kemungkinan sudah mengalami proses subduksi lempeng samudra. Salah satu hal penting yang mengontrol pengendapan batuan karbonat pelagik adalah adanya zona CCD (carbonate compensation depth). Pada kedalaman sekitar beberapa kilometer, kalsium karbonat tidak dapat terendapkan karena kecapatan pengendapan kalsit seimbang dengan kecepatan pelarutanya. Proses pelarutan ini dipengaruhi oleh pengurangan suhu, peningkatan tekanan, dan penambahan karbondioksida pada kedalaman air laut yang besar. Meskipun demikian material karbonat terkadang masih bisa diendapkan terutama yang berupa coated grain seperti pellet, foraminifera dengan cangkang sangat tebal, dan radiolaria.

Pada umumnya, material sedimen pelagik tidak diendapkan dengan cara suspensi sebagaimana material halus lainnya melainkan oleh proses transportrasi dari arus yang berada di laut dalam. Pembentukan batuan karbonat pelagik ini jauh lebih lambat daripada pembentukan batuan karbonat di laut dangkal. Kebanyakan batuan karbonat pelagik ini berupa foraminifera nanofosil oozes homogen dengan mineralogi sederhana berupa low-Mg calcite. Karena posisinya, batuan ini memiliki kemungkinan diagenesa yang lebih rendah yakni pada dasar samudra yang tidak dipengaruhi arus kuat serta selama terkubur oleh material lain dalam proses sedimentasi (Tucker, 1990).

Reference : 
Tucker, M.T., dan Wright, V.P., 1990, Carbonate Sedimentology, Blackwell Science Ltd,
Oxford.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengenal Dua Sistem Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat"

Post a Comment

Berikan komentarnya yaaa.... Kritik dan saran Anda amatlah berarti :D